
Alam
Menangis, Ayam Mati Di Lumbung Padi
Judul : Tangisan Batang Pudu
Penulis : Musa Ismail
Penerbit : Gurindam Press, 2008
Tempat Terbit :
Pekanbaru
Cetakan : Pertama
Tebal :
iv + 237
Ukuran : 11,5 x 18,5 cm
Setelah
sukses dengan beberapa tulisannya, yang berupa cerpen, esei, opini serta
artikel yang dimuat diberbagai majalah sastra/budaya serta surat kabar itu,
kini Musa Ismail yang merupakan alumni dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP Universitas Riau tahun 1994 ini mencoba untuk menciptakan sebuah novel
yang berjudul Tangisan Batang Pudu. Dalam novelnya, sosok yang lahir di
Pulau Buru Karimun, Kepri dan sekarang berdomisili di Bengkalis ini mencoba
untuk mengangkat sebuah kisah yang berbau kritik sosial.
Tangisan
Batang Pudu karya Musa
Ismail ini menceritakan tentang perjuangan sebuah LSM bernama Silvikultur dalam
menanggulangi kerusakan alam yang terjadi di sebuah pemukiman suku Sakai di
daerah Bengkalis. Korban dari kerusakan alam ini tidak lain adalah suku Sakai.
Sekelompok manusia yang seluruh kehidupannya masih bergantung pada alam. Dapat
dibayangkan tentunya apa yang terjadi pada mereka jika sumber utama kehidupan
mereka dirusak. Regresi sosial yang tidak dapat untuk dihindari. Kiranya hal
inilah yang ingin dihadirkan oleh Musa Ismail.
Batang
Pudu, pada awalnya kita akan menyangka ini merupakan sebuah nama pohon, namun
sebenarnya bukan. Batang Pudu itu merupakan nama dari sebuah sungai. Sungai itu
terletak disebuah desa yang bernama Desa Petani. Sebuah desa yang dihuni oleh
penduduk suku sakai yang seluruh penghidupannya bergantung pada batang Pudu
tersebut. Desa tersebut dipimpin oleh seorang batin –istilah lain dari penghulu
adat– yang bernama Batin Sainudin. Seseorang yang sangat menjunjung tinggi
adat, sangat dihormati dan disegani oleh penduduk kampung.
Ujung
Musim yang Pecah
Kisah
bermula ketika Dahlan beserta teman-temannya dari LSM Silvikultur
melakukan survey di desa Petani tersebut. Keadaan yang sangat memprihatinkan,
hal itulah kiranya yang ia dan teman-temannya dapatkan. Ditegaskan dengan
pernyataan:
”Pohon-pohon
di kampung itu pun mulai melayu. Gairah hidupnya sudah pudar sebab menyaksikan
para pemeliharanya sudah menjadi mayat. Ketika mayat-mayat sudah mengeluarkan
belatung, satu persatu pepohonan bertumbangan. Kampung yang alami kini sudah berada
di ujung musim yang pecah” (hal.57).
Dari
penuturan batin Sainudin, Dahlan mengetahui bahwa kondisi kehidupan warga di
desa tersebut kini tengah dalam kesulitan dan kesengsaraan. Betapa tidak,
batang Pudu yang merupakan nafas bagi mereka kini telah rusak ternoda dan tercemari
oleh limbah dari perusahaan-perusaahan yang terus berkembang dan menghimpit desa mereka.
Mengetahui
hal itu, Dahlan dan teman-temannya yang dibantu oleh Tuah Sakti –anak dari
batin sainudin yang baru saja menamatkan pendidikan S3-nya di Jakarta– beserta
warga sakai berupaya dan berjuang untuk menyelamatkan keadaan desa serta
mengembalikan kondisi sungai seperti sedia kala. Semua upaya dan tindakan pun
dilakukan. Mulai dari hal-hal kecil seperti melakukan reboisasi sampai hal-hal
besar seperti melakukan tuntutan dan meminta pertanggungjawaban kepada
pemerintah dan juga perusaahaan yang bersangkutan. Namun apalah daya, mereka
hanyalah sekelumit rakyat kecil yang tidak mendapatkan perhatian dari
pemerintah. Pemerintah hanya bisa berjanji dan janji, namun tak ada satupun
upaya yang dilakukan.
Sudahlah Jatuh,
Tertimpa Tangga Pula
Klimaks
dalam novel ini mulai tampak ketika penulis mulai menceritakan tentang kesengsaraan
warga yang semakin memuncak. Warga benar-benar sudah tidak bisa memanfaatkan
batang Pudu lagi. Ikan-ikan mati dan badan warga terkena penyakit miang-miang
akibat menyentuh air dari batang Pudu. Konflik antara warga dan warga, kemudian
warga dan pemerintah pun tidak dapat terelakkan lagi. Keadaan semakin rumit
tatkala batin Sainudin dan juga istrinya yang biasa dipanggil dengan Mak Cik
Dayang meninggal dunia. Sehingga tampuk kepemimpinan jatuh pada Tuah yang
merupakan anak tunggal dari batin Sainudin. Kesedihan yang tak terperikan pun
melanda Tuah. Kini ia benar-benar harus berjuang memerdekakan kampungnya
tersebut. Namun ia bersyukur, Ia tidak berjuang sendirian, masih ada Dahlan dan
juga kawan-kawannya yang bersedia membantu.
Sosok
yang Bertuah
Dalam
novelnya ini, Musa Ismail menggambarkan Tuah sebagai sosok yang tampan, cerdas,
gigih dan berjiwa sosial tinggi. Berbekal sarjananya, ia benar-benar mengabdi kepada
kampung secara total. Sebagai doktor, Ia merasa berkewajiban untuk memperbaiki
ketidakbenaran yang melingkar dikerangka kepala warga kampungnya. Ia tidak mau
warga kampungnya terus diperbodohi oleh kelicikan orang-orang terdidik. Dia
juga tidak mau, pihak perusahaan yang melingkar dikapungnya itu terus
menggerogoti kehidupan warga, sehingga warga hidup dalam kerugian yang panjang
dan terasing serta jauh dari akses kemajuan. Sungguh sebuah penggambaran watak
yang inspiratif dan cocok dijadikan panutan bagi generasi masa kini. Tokoh yang
memiliki watak inspiratif lainnya juga datang dari Dahlan. Tidak jauh berbeda
sifatnya dengan Tuah. Perbedaanya hanya pada latar belakang pendidikan. Jika
Tuah seorang sosiolog, maka Dahlan adalah seorang pemuda bersahaja yang sangat
mencintai alam, sehingga istilah pemerhati alam mungkin cocok disandang untuknya.
Untuk
menghidarkan rasa jenuh atau cerita yang monoton, pengarang membumbui cerita
novelnya ini dengan kisah percintaan yang dipadukan dengan latar sosiologis
yang kuat. Kisah percintaan ini terjadi antara Tuah Sakti dan seorang perempuan
bernama Zulaikha, salah seorang anggota LSM Silvikultur yang ternyata juga
ditaksir oleh Dahlan. Namun sayang, cinta Dahlan itu ternyata bertepuk sebelah
tangan, karena Zulaikha telah menjatuhkan pilihannya pada Tuah Sakti.
Plus
dan Minus
Hal
menarik lainnya yaitu novel ini penuh dengan ungkapan-ungkapan dan
filosfi-filosofi kehidupan yang sangat bermanfaat tentunya. Seperti ”Ingat!
Hanya kepada yang muda, sungai ini akan semula jadi, jangan biarkan sedikitpun
sampah mengotorinya, Anakku” (hal.1). Kemudian lagi,”Jangan takut pada
mimpi. Bermimpilah apa saja. Menjadi pemimpilah kalian. Jelajahi samudra.
Langkahi benua. Kuasai masa depan. Jangan lepaskan darahmu dari urat belajar”
(hal.2), kemudian ada juga ungkapan yang berbunyi “Kami bagai ayam yang mati
di lumbung padi” (hal.124). dan masih banyak lagi yang bisa kita temukan
dalam novel ini.
Namun
sayangnya pada penghujung cerita penulis seperti menggantungkan peristiwa.
Tidak ada penyelesaian akhir dari cerita tersebut, sehingga pembaca tidak bisa mengetahui
apakah kondisi warga tersebut berakhir dengan baik atau malah sebaliknya,
menjadi semakin buruk. Pembaca menjadi menerka-nerka tentang kelanjutan
peristiwa yang terjadi. Selain itu juga ada beberapa kata yang mengalami
kesalahan ejaan.
Sebagai
karya fiksi yang menggunakan gaya bahasa yang tinggi, novel ini hanya cocok
dibaca oleh kalangan mahasiswa ke atas saja dan tidak cocok untuk kalangan
remaja, karena mereka akan mengalami kesulitan dalam menelaah makna dari cerita
tersebut nantinya. Dengan pembentukan karakter tokohnya yang kuat, tegar serta
berani dan juga penggunaan bahasa yang luar biasa, Musa Ismail berhasil
menghadirkan suara kritik dari hati negeri Sakai yang hidup sebagai penonton
dari geliat kemajuan yang jelas-jelas menguras kekayaan buminya itu. (Anah
Mutaslimah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar