Minggu, 18 Mei 2014

Resensi Novel : Tangisan Batang Pudu



Alam Menangis, Ayam Mati Di Lumbung Padi

Judul                         : Tangisan Batang Pudu
Penulis                      : Musa Ismail
Penerbit                    : Gurindam Press, 2008
Tempat Terbit           : Pekanbaru
Cetakan                    : Pertama
Tebal                        : iv + 237
Ukuran                     : 11,5 x 18,5 cm

Setelah sukses dengan beberapa tulisannya, yang berupa cerpen, esei, opini serta artikel yang dimuat diberbagai majalah sastra/budaya serta surat kabar itu, kini Musa Ismail yang merupakan alumni dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Riau tahun 1994 ini mencoba untuk menciptakan sebuah novel yang berjudul Tangisan Batang Pudu. Dalam novelnya, sosok yang lahir di Pulau Buru Karimun, Kepri dan sekarang berdomisili di Bengkalis ini mencoba untuk mengangkat sebuah kisah yang berbau kritik sosial.
Tangisan Batang Pudu karya Musa Ismail ini menceritakan tentang perjuangan sebuah LSM bernama Silvikultur dalam menanggulangi kerusakan alam yang terjadi di sebuah pemukiman suku Sakai di daerah Bengkalis. Korban dari kerusakan alam ini tidak lain adalah suku Sakai. Sekelompok manusia yang seluruh kehidupannya masih bergantung pada alam. Dapat dibayangkan tentunya apa yang terjadi pada mereka jika sumber utama kehidupan mereka dirusak. Regresi sosial yang tidak dapat untuk dihindari. Kiranya hal inilah yang ingin dihadirkan oleh Musa Ismail.
Batang Pudu, pada awalnya kita akan menyangka ini merupakan sebuah nama pohon, namun sebenarnya bukan. Batang Pudu itu merupakan nama dari sebuah sungai. Sungai itu terletak disebuah desa yang bernama Desa Petani. Sebuah desa yang dihuni oleh penduduk suku sakai yang seluruh penghidupannya bergantung pada batang Pudu tersebut. Desa tersebut dipimpin oleh seorang batin –istilah lain dari penghulu adat– yang bernama Batin Sainudin. Seseorang yang sangat menjunjung tinggi adat, sangat dihormati dan disegani oleh penduduk kampung.

Ujung Musim yang Pecah
Kisah bermula ketika Dahlan beserta teman-temannya dari LSM Silvikultur melakukan survey di desa Petani tersebut. Keadaan yang sangat memprihatinkan, hal itulah kiranya yang ia dan teman-temannya dapatkan. Ditegaskan dengan pernyataan:
”Pohon-pohon di kampung itu pun mulai melayu. Gairah hidupnya sudah pudar sebab menyaksikan para pemeliharanya sudah menjadi mayat. Ketika mayat-mayat sudah mengeluarkan belatung, satu persatu pepohonan bertumbangan. Kampung yang alami kini sudah berada di ujung musim yang pecah” (hal.57).
Dari penuturan batin Sainudin, Dahlan mengetahui bahwa kondisi kehidupan warga di desa tersebut kini tengah dalam kesulitan dan kesengsaraan. Betapa tidak, batang Pudu yang merupakan nafas bagi mereka kini telah rusak ternoda dan tercemari oleh limbah dari perusahaan-perusaahan yang terus berkembang dan  menghimpit desa mereka.
Mengetahui hal itu, Dahlan dan teman-temannya yang dibantu oleh Tuah Sakti –anak dari batin sainudin yang baru saja menamatkan pendidikan S3-nya di Jakarta– beserta warga sakai berupaya dan berjuang untuk menyelamatkan keadaan desa serta mengembalikan kondisi sungai seperti sedia kala. Semua upaya dan tindakan pun dilakukan. Mulai dari hal-hal kecil seperti melakukan reboisasi sampai hal-hal besar seperti melakukan tuntutan dan meminta pertanggungjawaban kepada pemerintah dan juga perusaahaan yang bersangkutan. Namun apalah daya, mereka hanyalah sekelumit rakyat kecil yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pemerintah hanya bisa berjanji dan janji, namun tak ada satupun upaya yang dilakukan.

Sudahlah Jatuh, Tertimpa Tangga Pula
Klimaks dalam novel ini mulai tampak ketika penulis mulai menceritakan tentang kesengsaraan warga yang semakin memuncak. Warga benar-benar sudah tidak bisa memanfaatkan batang Pudu lagi. Ikan-ikan mati dan badan warga terkena penyakit miang-miang akibat menyentuh air dari batang Pudu. Konflik antara warga dan warga, kemudian warga dan pemerintah pun tidak dapat terelakkan lagi. Keadaan semakin rumit tatkala batin Sainudin dan juga istrinya yang biasa dipanggil dengan Mak Cik Dayang meninggal dunia. Sehingga tampuk kepemimpinan jatuh pada Tuah yang merupakan anak tunggal dari batin Sainudin. Kesedihan yang tak terperikan pun melanda Tuah. Kini ia benar-benar harus berjuang memerdekakan kampungnya tersebut. Namun ia bersyukur, Ia tidak berjuang sendirian, masih ada Dahlan dan juga kawan-kawannya yang bersedia membantu.
Sosok yang Bertuah
Dalam novelnya ini, Musa Ismail menggambarkan Tuah sebagai sosok yang tampan, cerdas, gigih dan berjiwa sosial tinggi. Berbekal sarjananya, ia benar-benar mengabdi kepada kampung secara total. Sebagai doktor, Ia merasa berkewajiban untuk memperbaiki ketidakbenaran yang melingkar dikerangka kepala warga kampungnya. Ia tidak mau warga kampungnya terus diperbodohi oleh kelicikan orang-orang terdidik. Dia juga tidak mau, pihak perusahaan yang melingkar dikapungnya itu terus menggerogoti kehidupan warga, sehingga warga hidup dalam kerugian yang panjang dan terasing serta jauh dari akses kemajuan. Sungguh sebuah penggambaran watak yang inspiratif dan cocok dijadikan panutan bagi generasi masa kini. Tokoh yang memiliki watak inspiratif lainnya juga datang dari Dahlan. Tidak jauh berbeda sifatnya dengan Tuah. Perbedaanya hanya pada latar belakang pendidikan. Jika Tuah seorang sosiolog, maka Dahlan adalah seorang pemuda bersahaja yang sangat mencintai alam, sehingga istilah pemerhati alam mungkin cocok disandang untuknya.
Untuk menghidarkan rasa jenuh atau cerita yang monoton, pengarang membumbui cerita novelnya ini dengan kisah percintaan yang dipadukan dengan latar sosiologis yang kuat. Kisah percintaan ini terjadi antara Tuah Sakti dan seorang perempuan bernama Zulaikha, salah seorang anggota LSM Silvikultur yang ternyata juga ditaksir oleh Dahlan. Namun sayang, cinta Dahlan itu ternyata bertepuk sebelah tangan, karena Zulaikha telah menjatuhkan pilihannya pada Tuah Sakti.

Plus dan Minus
Hal menarik lainnya yaitu novel ini penuh dengan ungkapan-ungkapan dan filosfi-filosofi kehidupan yang sangat bermanfaat tentunya. Seperti ”Ingat! Hanya kepada yang muda, sungai ini akan semula jadi, jangan biarkan sedikitpun sampah mengotorinya, Anakku” (hal.1). Kemudian lagi,”Jangan takut pada mimpi. Bermimpilah apa saja. Menjadi pemimpilah kalian. Jelajahi samudra. Langkahi benua. Kuasai masa depan. Jangan lepaskan darahmu dari urat belajar” (hal.2), kemudian ada juga ungkapan yang berbunyi “Kami bagai ayam yang mati di lumbung padi” (hal.124). dan masih banyak lagi yang bisa kita temukan dalam novel ini.
Namun sayangnya pada penghujung cerita penulis seperti menggantungkan peristiwa. Tidak ada penyelesaian akhir dari cerita tersebut, sehingga pembaca tidak bisa mengetahui apakah kondisi warga tersebut berakhir dengan baik atau malah sebaliknya, menjadi semakin buruk. Pembaca menjadi menerka-nerka tentang kelanjutan peristiwa yang terjadi. Selain itu juga ada beberapa kata yang mengalami kesalahan ejaan.
Sebagai karya fiksi yang menggunakan gaya bahasa yang tinggi, novel ini hanya cocok dibaca oleh kalangan mahasiswa ke atas saja dan tidak cocok untuk kalangan remaja, karena mereka akan mengalami kesulitan dalam menelaah makna dari cerita tersebut nantinya. Dengan pembentukan karakter tokohnya yang kuat, tegar serta berani dan juga penggunaan bahasa yang luar biasa, Musa Ismail berhasil menghadirkan suara kritik dari hati negeri Sakai yang hidup sebagai penonton dari geliat kemajuan yang jelas-jelas menguras kekayaan buminya itu. (Anah Mutaslimah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar