Minggu, 18 Mei 2014

Kritik Sastra 5 : Dialogisme


 

Di Balik Merdunya Simfoni

Judul               : “Angin dari Selatan
Pengarang     : M. Badri
Terbitan          : Riau Pos, Ahad, 10 Juni 2012

Maraknya kapitalisme diberbagai belahan dunia seiring dengan berkembangnya industrialisasi tidak sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi umat  manusia. Tetapi sebaliknya, kapitalisme yang bergerilya di kota, desa dan perkampungan justru menyisakan suatu kesedihan yang mendalam dan merupakan ibu nestapa bagi rakyat-rakyat kecil, yang lagi-lagi selalu saja menjadi korban keganasan hidup. Revolusi yang bagi mereka diharapkan bisa mengubah kehidupan menjadi lebih baik, ternyata hanya sebatas angan yang sulit untuk digapai. Hal itulah kiranya yang menjadi latar penceritaan cerpen berjudul Angin dari Selatan karya M. Badri ini.

Senja Berkabut
Cerpen dengan judul Angin dari Selatan ini menceritakan tentang seorang tokoh Aku yang sedang melakukan riset antropologi budaya tentang akulturasi budaya orang Tiongkok di Bumi Melayu. Narasumbernya adalah seorang gadis Tiongkok yang terdampar di sebuah pulau yang bernama pulau Rupat. Dalam hal ini sayangnya, M. Badri selaku penulis tidak memberikan nama pada tokoh, beliau hanya menggunakan kata ganti ia dan –nya pada gadis tersebut. Tokoh gadis Tiongkok tersebut dengan segala kesedihannya kemudian menceritakan bagaimana ia bisa terdampar di Pulau yang sangat asing baginya itu.
Awal mulanya, ia –sang gadis Tiongkok– beserta keluarganya dan juga masyarakat lainnya hidup dengan damai. Hingga datanglah masa itu. Hamparan sawah hijau, burung-burung di rerumpun bambu menjadi kenangan paling indah yang diingatnya. Hanya sesaat, karena potret buram perkampungan kumuh lebih dominan mengisi memori kepala indahnya. Industrialisasi yang menjadi anak kandung kapitalisme di negerinya, menjadi babak baru drama kehidupan masa remajanya. Kahidupan mereka pun berubah menjadi bagian dari roda mesin pabrik yang dibayar murah. Semuanya mengatasnamakan pembangunan ekonomi, memberantas kemiskinan dan jargon-jargon politik lainnya. Rakyat pun melakukan perlawanan, namun apa daya, mereka kalah dengan mesiu yang ditembakkan dari tank-tank baja tak berhati. Tidak hanya handai tolan, orang tuanya pun menjadi korban peristiwa tersebut. Hidup sendiri, menyebabkan ia menerima tawaran berimigrasi ke Australia. Diperjalanan, kapal mereka karam dan akhirnya ia diselamatkan oleh kapal nelayan dari pulau Rupat. Namun, hidup tidak berubah. Di negara baru ini, kejadian serupa terulang lagi. Namun, ia tidak ingin mengingat dan juga menceritakannya. Yang Ia tahu, ia akan bertahan hidup dikota tua itu sebagai penyanyi kafe hingga akhir hayatnya.

Sebuah Alasan
Jika kita menilik cerpen yang berjudul Angin dari Selatan tersebut maka kita bisa merasakan hal yang membuat kita iba dan bersimpati atas kejadian yang menimpa sang tokoh. Gadis Tiongkok, selaku  tokoh yang menjadi sosok penderita dalam cerpen bisa menjadi orang untuk kita besimpati. Dalam cerpen terdapat kutipan Aku hanya ingin menetap sampai tua dan mati di kota tua ini. Memandangi kapal-kapal lewat sambil menganyikan lagu-lagu kesukaanku. Dengan menyanyi aku bisa mendamaikan hidup ini. Pada kutipan tersebut terlihat jelas bahwa tokoh tersebut sudah putus asa, namun berusaha untuk tegar dan bertahan. Mungkin jika hal itu terjadi pada kita, tentu kita juga akan melakukan hal yang sama. Apalagi bagi seorang wanita muda, yang dominan mengutamakan perasaan dari pada logika. Bagaimana tidak, dua kali ia mengalami peristiwa yang begitu menyedihkan dan menyakitkan, tentu hal itu menjadi tombak runcing yang bisa membuat seseorang down. Maraknya kapitalisme yang menyebabkan hilangnya tempat tinggal sekaligus orang tuanya, sungguh hal yang sangat memprihatinkan. Walaupun mungkin saja, pandangan dan penilaian orang lain terhadap kita akan beraneka ragam, ada yang negatif dan juga positif. Tetapi dengan begitu, kita akan mengetahui diri kita secara utuh. Selain itu, respon tersebut bisa dijadikan sebagai penataan kehidupan kita dimasa datang.
Begitu juga dengan tokoh aku. Dalam melakukan riset, ia membutuhkan data yang benar-benar tepat dan akurat. Dengan begitu ia pun berusaha mencari hingga ke pelosok-pelosok kota untuk mencari narasumber tersebut. Hingga bertemulah ia dengan sosok gadis tersebut. Mendengar ceritanya yang menyentuh itu, menimbulkan kesemangatan untuk mengangkat kisah kehidupan orang tersebut. Hal yang sama tentunya juga akan kita lakukan jika kita melakukan sebuah riset. Tidak ada orang yang menginginkan hasil risetnya itu buruk tentunya.
Secara keseluruhan, tokoh aku sebagai seorang peneliti bisa dikatakan sebagai seorang yang memiliki kepribadian yang baik namun juga egois. Baik karena mau mengangkat dan menghargai kehidupan orang lain, egois karena ia melakukan tersebut semata-mata karena untuk kepentingannya pribadi. Sedangkan tokoh gadis bisa dikatakan sebagai sosok yang kuat dan tegar. Namun semua itu bukanlah suatu penilaian yang absolut. Karena finalisasi kehidupan seseorang itu adalah akhir hayatnya. (Anah Mutaslimah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar