
Di
Balik Merdunya Simfoni
Judul :
“Angin dari
Selatan”
Pengarang :
M. Badri
Terbitan :
Riau Pos, Ahad, 10 Juni 2012
Maraknya kapitalisme diberbagai belahan dunia seiring dengan berkembangnya industrialisasi tidak sepenuhnya
menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi umat manusia. Tetapi sebaliknya, kapitalisme yang
bergerilya di kota, desa dan perkampungan justru menyisakan suatu kesedihan
yang mendalam dan merupakan ibu nestapa bagi rakyat-rakyat kecil, yang lagi-lagi
selalu saja menjadi korban keganasan hidup. Revolusi yang bagi mereka
diharapkan bisa mengubah kehidupan menjadi lebih baik, ternyata hanya sebatas
angan yang sulit untuk digapai. Hal itulah kiranya yang menjadi latar penceritaan
cerpen berjudul Angin dari Selatan karya M. Badri ini.
Senja
Berkabut
Cerpen dengan judul Angin dari Selatan ini menceritakan tentang
seorang tokoh Aku yang sedang melakukan riset antropologi budaya tentang
akulturasi budaya orang Tiongkok di Bumi Melayu. Narasumbernya adalah seorang gadis Tiongkok yang terdampar di sebuah
pulau yang bernama pulau Rupat. Dalam hal ini sayangnya, M. Badri selaku
penulis tidak memberikan nama pada tokoh, beliau hanya menggunakan kata ganti ia
dan –nya pada gadis tersebut. Tokoh gadis Tiongkok tersebut dengan segala
kesedihannya kemudian menceritakan bagaimana ia bisa terdampar di Pulau yang
sangat asing baginya itu.
Awal mulanya, ia –sang gadis Tiongkok– beserta
keluarganya dan juga masyarakat lainnya hidup dengan damai. Hingga datanglah
masa itu. Hamparan sawah hijau, burung-burung di rerumpun bambu menjadi kenangan
paling indah yang diingatnya. Hanya sesaat, karena potret buram perkampungan
kumuh lebih dominan mengisi memori kepala indahnya. Industrialisasi yang
menjadi anak kandung kapitalisme di negerinya, menjadi babak baru drama
kehidupan masa remajanya. Kahidupan
mereka pun
berubah menjadi bagian dari roda mesin pabrik yang dibayar murah. Semuanya
mengatasnamakan pembangunan ekonomi, memberantas kemiskinan dan jargon-jargon
politik lainnya. Rakyat pun
melakukan perlawanan, namun apa daya, mereka kalah dengan mesiu yang
ditembakkan dari tank-tank baja tak berhati. Tidak hanya handai tolan, orang
tuanya pun menjadi korban peristiwa tersebut. Hidup sendiri, menyebabkan ia
menerima tawaran berimigrasi ke Australia. Diperjalanan, kapal mereka karam dan
akhirnya ia diselamatkan oleh kapal nelayan dari pulau Rupat. Namun, hidup
tidak berubah. Di negara baru ini, kejadian serupa terulang lagi. Namun, ia
tidak ingin mengingat dan juga menceritakannya. Yang Ia tahu, ia akan bertahan
hidup dikota tua itu sebagai penyanyi kafe hingga akhir hayatnya.
Sebuah Alasan
Jika kita menilik cerpen yang berjudul Angin dari Selatan tersebut
maka kita bisa merasakan hal yang membuat kita iba dan bersimpati atas kejadian
yang menimpa sang tokoh. Gadis Tiongkok, selaku
tokoh yang menjadi sosok penderita dalam cerpen bisa menjadi orang untuk
kita besimpati. Dalam cerpen terdapat kutipan ”Aku hanya ingin menetap sampai
tua dan mati di kota tua ini. Memandangi kapal-kapal lewat sambil menganyikan
lagu-lagu kesukaanku. Dengan menyanyi aku bisa mendamaikan hidup ini.” Pada kutipan tersebut terlihat jelas bahwa tokoh
tersebut sudah putus asa, namun berusaha untuk tegar dan bertahan. Mungkin jika
hal itu terjadi pada kita, tentu kita juga akan melakukan hal yang sama. Apalagi
bagi seorang wanita muda, yang dominan mengutamakan perasaan dari pada logika.
Bagaimana tidak, dua kali ia mengalami peristiwa yang begitu menyedihkan dan menyakitkan,
tentu hal itu menjadi tombak runcing yang bisa membuat seseorang down. Maraknya
kapitalisme yang menyebabkan hilangnya tempat tinggal sekaligus orang tuanya,
sungguh hal yang sangat memprihatinkan. Walaupun mungkin saja, pandangan dan
penilaian orang lain terhadap kita akan beraneka ragam, ada yang negatif dan
juga positif. Tetapi dengan begitu, kita akan mengetahui diri kita secara utuh.
Selain itu, respon tersebut bisa dijadikan sebagai penataan kehidupan kita
dimasa datang.
Begitu juga dengan tokoh aku. Dalam melakukan riset, ia membutuhkan data
yang benar-benar tepat dan akurat. Dengan begitu ia pun berusaha mencari hingga
ke pelosok-pelosok kota untuk mencari narasumber tersebut. Hingga bertemulah ia
dengan sosok gadis tersebut. Mendengar ceritanya yang menyentuh itu,
menimbulkan kesemangatan untuk mengangkat kisah kehidupan orang tersebut. Hal
yang sama tentunya juga akan kita lakukan jika kita melakukan sebuah riset.
Tidak ada orang yang menginginkan hasil risetnya itu buruk tentunya.
Secara keseluruhan, tokoh aku sebagai seorang peneliti bisa dikatakan
sebagai seorang yang memiliki kepribadian yang baik namun juga egois. Baik
karena mau mengangkat dan menghargai kehidupan orang lain, egois karena ia
melakukan tersebut semata-mata karena untuk kepentingannya pribadi. Sedangkan
tokoh gadis bisa dikatakan sebagai sosok yang kuat dan tegar. Namun semua itu
bukanlah suatu penilaian yang absolut. Karena finalisasi kehidupan seseorang
itu adalah akhir hayatnya. (Anah Mutaslimah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar