Minggu, 18 Mei 2014

Kritik sastra kelompok : Dekonstruksi versi I


 

Celeng oh Celeng

Judul            : ”Lengtu Lengmua”
Pengarang     : Triyanto Triwikromo
Terbitan       : Republika,  Minggu, 18 Maret 2012

Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak akan pernah luput dari yang namanya permasalahan. Permasalah itu seperti sudah mendarah daging dan juga sudah menjadi makanan sehari-hari bagi setiap insan. Banyak faktor penyebab munculnya permasalahan tersebut, bisa karena faktor ekonomi, sosial, budaya, dan juga karena faktor politik. Namun sebenarnya semua masalah itu memiliki poin penting dalam kehidupan, karena dengan permasalahan itulah seseorang akan belajar memahami dan menyadari arti pentingnya sebuah kehidupan. Begitulah kiranya cerita yang diangkat oleh Triyanto Triwikromo ini dalam cerpennya yang berjudul Lengtu Lengmua ini.
Celeng Satu, Celeng Semua
Cerpen ini menceritakan tentang permasalahan tempat pembiakan celeng oleh tokoh bernama Jamuri. Awalnya ia beternak celeng di kota, namun masalah pun muncul. Selain najis, ternyata jika hewan tersebut menyeruduk akan ada virus yang menyerang otak korban dan menyebabkan mereka bersikap layaknya celeng. Hal itu terjadi dikota. Seeorang ustad bernama Rosyid dan delapan orang lainnya telah menjadi korban penyerudukan celeng Jamuri. Akibatkan korban masuk rumah sakit jiwa. Mengetahui hal itu, Wali Kota kemudian mengambil tindakan dengan cara mengusir Jamuri dan babinya. Tahu bahwa dirinya diusir, Jamuri kemudian mencari tempat yang memungkinkan untuk membiakkan celengnya.
Tempat telah ia temukan, yaitu sebuah desa bernama ujung tanjung. Tempat yang dihuni oleh orang-orang muslim dan taat beribadah. Kedatangan Jamuri dan babinya ini rupanya jadi permasalahan baru bagi warga. Pertikaian mulai terjadi saat Rajab –seorang pemuda pemberang– secara nyata menolak kehadiaran Jamuri beserta celengnya itu, karena ia tahu masalah yang akan terjadi apabila celeng-celeng tersebut tinggal dikampungnya yang dianggap suci. Walaupun tidak mendapat tanggapan yang berarti dari Kiai Siti –orang yang dituakan di kampung tersebut–, Rajab tetap bertekad untuk membunuh celeng-celeng yang datang ke kampungnya itu. Namun, disaat Rajab sedang merencanakan untuk memusnakan celeng-celeng tersebut, disaat yang sama Jamuri juga merencanakan untuk membunuh Rajab yang dinilai menghalangi keinginan Jamuri. Jamuri menyusun strategi dan menjebak Rajab. Ia ingin laki-laki pemberang itu mejadi celeng pertama yang berasal dari kampung suci tersebut.
Bukan Sepenuhnya Celeng
Secara keseluruhan, inti dari cerpen yang berjudul Lengtu Lengmua ini memang membahas tentang celeng. Hal ini tentunya akan menimbulkan anggapan bahwa pusat segala masalah adalah karena celeng. Sebenarnya tidak. Jika kita tilik lagi, maka lingkunganlah (latar) yang menyebabkan semua peristiwa itu terjadi. Ada dua latar yang digunakan dalam cerpen ini, yaitu kota dan desa. Kota, tempat yang memiliki tingkat kebisingan yang tinggi, ditambah lagi dengan padatnya bangunan-bangunan tinggi, wajar saja celeng-celeng tersebut merasa tidak nyaman, mereka keluar dari kandang, kemudian menyeruduk salah seorang warga kota bernama Ustad Rosyid. Celeng tersebut menyeruduk karena berusaha untuk melindungi darinya dari bahaya. Walikota sudah berlaku adil dan bijaksana. Mengusir Jamuri dari kota dengan maksud untuk menyelamatkan Jamuri dari amuk masa. Ia tidak ingin warganya melakukan suatu tindakan anarkis. Suatu tindakan yang positif tentunya. Dari sini bisa ditarik simpulan bahwa wali kota adalah tokoh yang baik. Sementara Jamuri dapat dikatakan dengan jelas bahwa ia merupakan tokoh antagonis. Dialah penyebab semua kekacauan yang ada di kota dan kampung  Ujung Tanjung. Semua tahu bahwa celeng merupakan hewan liar yang hidupnya di hutan. Lingkungannya adalah hutan bukan kota ataupun kampung. Lantas untuk apa ia memilih celeng sebagai hewan peliharaannya, jika masih banyak hewan lain yang bisa dipelihara, apalagi ia juga tahu bahwa hewan tersebut membawa virus, bahkan dari pandangan agama pun hewan tersebut hukumnya najis dan tidak untuk dipelihara. Pilihan yang tidak selektif tentunya.
Selanjutnya di Ujung Tanjung. Tokoh bernama Rajab –pemuda pemberang– yang dengan jelas menolak kedatangan Jamuri dan celeng-celengnya itu, karena dia menganggap bahwa kampungnya itu merupakan tanah paling suci, sehingga ia dengan mati-matian mempertahankan anggapannya itu. Lagi-lagi latarlah yang berperan disini. Jika saja, Rajab tidak beranggapan seperti itu, tentu ia dapat dengan senang hati menerima kedatangan Jamuri dan celeng-celengnya. Namun selain latar, sikap Kiai Siti yang terlalu nrimo itu juga memicu Rajab berlaku anarkis. Sosok Kiai Siti sebenarnya lebih cocok dikatakan sebagai sosok yang antagonis. Ia tahu bahwa Rajab adalah pemuda pemberang. Sebagai orang yang dituakan seharusnya bisa menyikapi keadaan ini dengan baik dan bijaksana. Namun ia justru bersikap tak peduli. Dengan gampangnya ia menyebutkan bahwa ada hikmah dari Allah di balik semua ini. (Anah Mutaslimah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar