
Celeng oh Celeng
Judul
: ”Lengtu Lengmua”
Pengarang
: Triyanto Triwikromo
Terbitan
: Republika, Minggu, 18 Maret 2012
Dalam
kehidupan bermasyarakat, manusia tidak akan pernah luput dari yang namanya
permasalahan. Permasalah itu seperti sudah mendarah daging dan juga sudah
menjadi makanan sehari-hari bagi setiap insan. Banyak faktor penyebab munculnya
permasalahan tersebut, bisa karena faktor ekonomi, sosial, budaya, dan juga
karena faktor politik. Namun sebenarnya semua masalah itu memiliki poin penting
dalam kehidupan, karena dengan permasalahan itulah seseorang akan belajar
memahami dan menyadari arti pentingnya sebuah kehidupan. Begitulah kiranya
cerita yang diangkat oleh Triyanto Triwikromo ini dalam cerpennya yang berjudul
Lengtu Lengmua ini.
Celeng Satu, Celeng Semua
Cerpen ini menceritakan
tentang permasalahan tempat pembiakan celeng oleh tokoh bernama Jamuri. Awalnya
ia beternak celeng di kota, namun masalah pun muncul. Selain najis, ternyata jika
hewan tersebut menyeruduk akan ada virus yang menyerang otak korban dan
menyebabkan mereka bersikap layaknya celeng. Hal itu terjadi dikota. Seeorang ustad
bernama Rosyid dan delapan orang lainnya telah menjadi korban penyerudukan
celeng Jamuri. Akibatkan korban masuk rumah sakit jiwa. Mengetahui hal itu, Wali
Kota kemudian mengambil tindakan dengan cara mengusir Jamuri dan babinya. Tahu
bahwa dirinya diusir, Jamuri kemudian mencari tempat yang memungkinkan untuk
membiakkan celengnya.
Tempat
telah ia temukan, yaitu sebuah desa bernama ujung tanjung. Tempat yang dihuni
oleh orang-orang muslim dan taat beribadah. Kedatangan Jamuri dan babinya ini rupanya
jadi permasalahan baru bagi warga. Pertikaian mulai terjadi saat Rajab –seorang
pemuda pemberang– secara nyata menolak kehadiaran Jamuri beserta celengnya itu,
karena ia tahu masalah yang akan terjadi apabila celeng-celeng tersebut tinggal
dikampungnya yang dianggap suci. Walaupun tidak mendapat tanggapan yang berarti
dari Kiai Siti –orang yang dituakan di kampung tersebut–, Rajab tetap bertekad
untuk membunuh celeng-celeng yang datang ke kampungnya itu. Namun, disaat Rajab
sedang merencanakan untuk memusnakan celeng-celeng tersebut, disaat yang sama
Jamuri juga merencanakan untuk membunuh Rajab yang dinilai menghalangi
keinginan Jamuri. Jamuri menyusun strategi dan menjebak Rajab. Ia ingin
laki-laki pemberang itu mejadi celeng pertama yang berasal dari kampung suci tersebut.
Bukan Sepenuhnya Celeng
Secara keseluruhan, inti
dari cerpen yang berjudul Lengtu Lengmua ini memang membahas tentang
celeng. Hal ini tentunya akan menimbulkan anggapan bahwa pusat segala masalah
adalah karena celeng. Sebenarnya tidak. Jika kita tilik lagi, maka
lingkunganlah (latar) yang menyebabkan semua peristiwa itu terjadi. Ada dua
latar yang digunakan dalam cerpen ini, yaitu kota dan desa. Kota, tempat yang
memiliki tingkat kebisingan yang tinggi, ditambah lagi dengan padatnya
bangunan-bangunan tinggi, wajar saja celeng-celeng tersebut merasa tidak
nyaman, mereka keluar dari kandang, kemudian menyeruduk salah seorang warga
kota bernama Ustad Rosyid. Celeng tersebut menyeruduk karena berusaha untuk
melindungi darinya dari bahaya. Walikota sudah berlaku adil dan bijaksana.
Mengusir Jamuri dari kota dengan maksud untuk menyelamatkan Jamuri dari amuk
masa. Ia tidak ingin warganya melakukan suatu tindakan anarkis. Suatu tindakan
yang positif tentunya. Dari sini bisa ditarik simpulan bahwa wali kota adalah
tokoh yang baik. Sementara Jamuri dapat dikatakan dengan jelas bahwa ia
merupakan tokoh antagonis. Dialah penyebab semua kekacauan yang ada di kota dan
kampung Ujung Tanjung. Semua tahu bahwa
celeng merupakan hewan liar yang hidupnya di hutan. Lingkungannya adalah hutan
bukan kota ataupun kampung. Lantas untuk apa ia memilih celeng sebagai hewan
peliharaannya, jika masih banyak hewan lain yang bisa dipelihara, apalagi ia
juga tahu bahwa hewan tersebut membawa virus, bahkan dari pandangan agama pun
hewan tersebut hukumnya najis dan tidak untuk dipelihara. Pilihan yang tidak
selektif tentunya.
Selanjutnya di Ujung Tanjung.
Tokoh bernama Rajab –pemuda pemberang– yang dengan jelas menolak kedatangan
Jamuri dan celeng-celengnya itu, karena dia menganggap bahwa kampungnya itu
merupakan tanah paling suci, sehingga ia dengan mati-matian mempertahankan anggapannya
itu. Lagi-lagi latarlah yang berperan disini. Jika saja, Rajab tidak
beranggapan seperti itu, tentu ia dapat dengan senang hati menerima kedatangan
Jamuri dan celeng-celengnya. Namun selain latar, sikap Kiai Siti yang terlalu nrimo
itu juga memicu Rajab berlaku anarkis. Sosok Kiai Siti sebenarnya lebih
cocok dikatakan sebagai sosok yang antagonis. Ia tahu bahwa Rajab adalah pemuda
pemberang. Sebagai orang yang dituakan seharusnya bisa menyikapi keadaan ini
dengan baik dan bijaksana. Namun ia justru bersikap tak peduli. Dengan
gampangnya ia menyebutkan bahwa ada hikmah dari Allah di balik semua ini. (Anah
Mutaslimah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar