Sabtu, 17 Mei 2014

Kritik Sastra 2 : Semiotik

Ilustrasi



Ketika Mati Menjadi Sebuah Solusi


Judul               : “Hari Ini Ada yang Mati Lagi”
Pengarang       : Labibah Zain
Sumber           : Republika, Ahad 21 Mei 2006

Cerpen karya Labibah Zain yang berjudul Hari Ini Ada yang Mati Lagi ini menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah dan dua orang anak perempuan yang sangat memprihatinkan karena himpitan ekonomi. Ayahnya hanya seorang tukang gali kubur yang tidak memiliki penghasilan tetap, dan hanya bisa mendapat uang jika ada orang yang meninggal. Anak sulungnya seorang babu yang harus membiayai kebutuhan sekolah adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Suatu ketika, karena tidak tahan lagi dengan himpitan ekonomi yang semakin kuat akhirnya sang kakak melakukan tindakan kriminal dengan mencuri uang majikannya dengan harapan bisa membahagiakan adiknya. Namun, tanpa diduga saat pertama kalinya ia melakukan perbuatan kotor tersebut, adiknya justru menghadap pada Yang Maha Kuasa. Bahkan uang harampun tak bisa membahagiakan adiknya.
Di balik Sebuah Kematian
Setiap peristiwa atau kejadian, dan juga nama tokoh kadangkala tidak disampaikan secara naturalistik dan realistik sebagaimana adanya, tetapi disampaikan secara figuratif dan perlambangan. Begitu juga dengan cerpen karya Labibah Zaini yang berjudul Hari Ini Ada yang Mati Lagi ini, penulis menggunakan sistem tanda untuk mengaitkan cerita dengan realitas kehidupan.
Dari segi judul, penulis telah menggunakan kata mati sebagai suatu tanda. Mati merupakan suatu tanda ketika makhluk yang bernyawa tidak lagi bernyawa, makhluk yang hidup tidak lagi hidup, sehingga tidak bisa merasakan apa-apa lagi, dan berhenti dari segala aktivitas. Seringkali mati dijadikan media dan solusi untuk menyelesaikan masalah bagi orang-orang yang berpikiran dangkal dan putus asa. Kondisi ekonomi dan sosial yang morat marit bisa menjadi pemicu terjadinya kematian. Seperti yang dilakukan oleh tokoh Tiwi dalam cerpen ini, seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, berani mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Perbuatan ini dilakukan karena faktor ekonomi. Keinginannya untuk jalan-jalan tak bisa tercapai karena kehidupannya yang sangat miskin.
Ayah merupakan ikon dari kepala keluarga. Kepala keluarga berfungsi sebagai pemimpin, tugasnya menafkahi anggota keluarga. Walaupun begitu, dalam cerita ini tokoh sang ayah dianggap sebagai pemimpin yang gagal. Karena tidak mampu memberikan kebahagiaan kepada kedua anaknya. Sulitnya mencari pekerjaan menyebabkan sang ayah hanya bisa bekerja sebagai tukang gali kubur. Sebuah pekerjaan yang pendapatannya sangat tidak seberapa. Jangankan untuk keperluan yang lain, untuk mencukupi kebutuhan pokok seperti makan pun sangat susah untuk dilakukan.
Berikutnya kata kubur merupakan ikon dari sebuah tempat, yaitu tempat peristirahatan terakhir. Seseorang yang telah mati maka akan dikuburkan, karena kuburlah tempat terakhir setiap insan yang tidak lagi bernyawa. Kubur memiliki hubungan yang erat dengan kematian. Kemudian dalam cerpen ini juga terdapat kata tahlilan yang merupakan perlambangan dari tradisi kematian. Suatu kegiatan yang dilakukan dengan maksud mendoakan orang yang telah meninggal dunia.
Malaikat Izrail merupakan ikon dari sosok pencabut nyawa. Jika malaikat Izrail telah mencabut nyawa seseorang, maka matilah orang tersebut. Dalam kondisi tertentu, seperti yang dirasakan oleh keluarga seperti yang digambarkan dalam cerpen, kedatangan malaikat Izrail sangatlah ditunggu-tunggu. Dengan begitu, tokoh sang ayah akan mendapat pekerjaan, dan bisa menyambung hidup.
Sebuah Protes Sosial
Cerpen ini menyoroti kondisi masyarakat saat ini yang keadaanya memang sangat memprihatinkan. Maraknya korupsi, menyebabkan kekacauan sosial dan ekonomi yang begitu parah. Ketidakpedulian pemimpin pada rakyatnya. Kemudian ditambah lagi dengan tidak adanya penerapan agama, norma, nilai dan etika. Dengan keadaan seperti ini, mati merupakan salah satu solusi untuk memecahkan masalah bagi masyarakat pinggiran yang taraf hidupnya di bawah garis normal.
Secara perlambangan, cerpen karya Labibah Zain ini sudah memiliki nuansa yang menunjukkan adanya penggunaan simbol ataupun tanda. Walaupun kata-kata yang digunakan terkesan biasa dan sederhana, tetapi terselip makna yang dalam. Berulangkali Labibah Zain ini menyebutkan kata ‘mati’, yang sebenarnya memiliki makna ambigu. Bukan hanya saja mati bagi manusia, tetapi juga bisa sebagai kamatian yang lain. Kembali pada interpretasi masing-masing individu yang akan memaknai ‘mati’ itu sebagai apa.

Kentara sekali bahwa melalui tulisan cerpennya ini, ia ingin menyampaikan sebuah protes sosial. Benar-benar berisi luapan hati berdasarkan realitas. Tanpa adanya penggunaan kata-kata kiasan, baik itu yang bersifat metafora ataupun yang lainnya. Namun, walaupun penyampaiannya sederhana, pesan penulis tetap tersampaikan. (Anah Mutaslimah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar