![]() |
Ilustrasi |
Ketika Mati
Menjadi Sebuah Solusi
Judul : “Hari
Ini Ada yang Mati Lagi”
Pengarang : Labibah Zain
Sumber : Republika,
Ahad 21 Mei 2006
Cerpen
karya Labibah Zain yang berjudul Hari Ini Ada yang Mati Lagi ini
menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah
dan dua orang anak perempuan yang sangat memprihatinkan karena himpitan
ekonomi. Ayahnya hanya seorang tukang gali kubur yang tidak memiliki
penghasilan tetap, dan hanya bisa mendapat uang jika ada orang yang meninggal.
Anak sulungnya seorang babu yang harus membiayai kebutuhan sekolah adiknya yang
masih duduk di bangku sekolah dasar.
Suatu
ketika, karena tidak tahan lagi dengan himpitan ekonomi yang semakin kuat
akhirnya sang kakak melakukan tindakan kriminal dengan mencuri uang majikannya
dengan harapan bisa membahagiakan adiknya. Namun, tanpa diduga saat pertama
kalinya ia melakukan perbuatan kotor tersebut, adiknya justru menghadap pada
Yang Maha Kuasa. Bahkan uang harampun tak bisa membahagiakan adiknya.
Di balik Sebuah Kematian
Setiap
peristiwa atau kejadian, dan juga nama tokoh kadangkala tidak disampaikan
secara naturalistik dan realistik sebagaimana adanya, tetapi disampaikan secara
figuratif dan perlambangan. Begitu juga dengan cerpen karya Labibah Zaini yang
berjudul Hari Ini Ada yang Mati Lagi ini, penulis menggunakan sistem
tanda untuk mengaitkan cerita dengan realitas kehidupan.
Dari
segi judul, penulis telah menggunakan kata mati sebagai suatu tanda. Mati
merupakan suatu tanda ketika makhluk yang bernyawa tidak lagi bernyawa, makhluk
yang hidup tidak lagi hidup, sehingga tidak bisa merasakan apa-apa lagi, dan
berhenti dari segala aktivitas. Seringkali mati dijadikan media dan solusi
untuk menyelesaikan masalah bagi orang-orang yang berpikiran dangkal dan putus
asa. Kondisi ekonomi dan sosial yang morat marit bisa menjadi pemicu terjadinya
kematian. Seperti yang dilakukan oleh tokoh Tiwi dalam cerpen ini, seorang anak
yang masih duduk di bangku sekolah dasar, berani mengakhiri hidupnya dengan
cara gantung diri. Perbuatan ini dilakukan karena faktor ekonomi. Keinginannya
untuk jalan-jalan tak bisa tercapai karena kehidupannya yang sangat miskin.
Ayah
merupakan ikon dari kepala keluarga. Kepala keluarga berfungsi sebagai
pemimpin, tugasnya menafkahi anggota keluarga. Walaupun begitu, dalam cerita
ini tokoh sang ayah dianggap sebagai pemimpin yang gagal. Karena tidak mampu
memberikan kebahagiaan kepada kedua anaknya. Sulitnya mencari pekerjaan menyebabkan
sang ayah hanya bisa bekerja sebagai tukang gali kubur. Sebuah pekerjaan yang
pendapatannya sangat tidak seberapa. Jangankan untuk keperluan yang lain, untuk
mencukupi kebutuhan pokok seperti makan pun sangat susah untuk dilakukan.
Berikutnya
kata kubur merupakan ikon dari sebuah tempat, yaitu tempat peristirahatan
terakhir. Seseorang yang telah mati maka akan dikuburkan, karena kuburlah tempat
terakhir setiap insan yang tidak lagi bernyawa. Kubur memiliki hubungan yang erat
dengan kematian. Kemudian dalam cerpen ini juga terdapat kata tahlilan yang
merupakan perlambangan dari tradisi kematian. Suatu kegiatan yang dilakukan
dengan maksud mendoakan orang yang telah meninggal dunia.
Malaikat Izrail merupakan ikon dari sosok pencabut nyawa. Jika
malaikat Izrail telah mencabut nyawa seseorang, maka matilah orang tersebut.
Dalam kondisi tertentu, seperti yang dirasakan oleh keluarga seperti yang
digambarkan dalam cerpen, kedatangan malaikat Izrail sangatlah ditunggu-tunggu.
Dengan begitu, tokoh sang ayah akan mendapat pekerjaan, dan bisa menyambung
hidup.
Sebuah
Protes Sosial
Cerpen
ini menyoroti kondisi masyarakat saat ini yang keadaanya memang sangat
memprihatinkan. Maraknya korupsi, menyebabkan kekacauan sosial dan ekonomi yang
begitu parah. Ketidakpedulian pemimpin pada rakyatnya. Kemudian ditambah lagi
dengan tidak adanya penerapan agama, norma, nilai dan etika. Dengan keadaan
seperti ini, mati merupakan salah satu solusi untuk memecahkan masalah bagi
masyarakat pinggiran yang taraf hidupnya di bawah garis normal.
Secara
perlambangan, cerpen karya Labibah Zain ini sudah memiliki nuansa yang
menunjukkan adanya penggunaan simbol ataupun tanda. Walaupun kata-kata yang
digunakan terkesan biasa dan sederhana, tetapi terselip makna yang dalam.
Berulangkali Labibah Zain ini menyebutkan kata ‘mati’, yang sebenarnya memiliki
makna ambigu. Bukan hanya saja mati bagi manusia, tetapi juga bisa sebagai
kamatian yang lain. Kembali pada interpretasi masing-masing individu yang akan
memaknai ‘mati’ itu sebagai apa.
Kentara
sekali bahwa melalui tulisan cerpennya ini, ia ingin menyampaikan sebuah protes
sosial. Benar-benar berisi luapan hati berdasarkan realitas. Tanpa adanya
penggunaan kata-kata kiasan, baik itu yang bersifat metafora ataupun yang
lainnya. Namun, walaupun penyampaiannya sederhana, pesan penulis tetap
tersampaikan. (Anah Mutaslimah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar