Senin, 19 Mei 2014

Morfosintaksis Lanjutan.......

A.  Afiksasi
Kata yang dibentuk dari kata lain pada umumnya mengalami tembahan bentuk pada kata dasarnya. Proses pembentukan dan penambahan afiks pada kata dasar yang sedemikian rupa disebut dengan afiksasi. Afiks adalah morfem terikat yang digunakan untuk menurunkan kata (Alwi, 2003:31).
Afiks ada 4 macam, yakni prefiks, sufiks, infiks dan konfiks. Afiks yang ditempatkan di bagian muka suatu kata dasar disebut dengan prefiks atau awalan. Bentuknya antara lain ber-, ter-, peng-, me-, dan se-. Apabila morfem terikat tersebut terletak di belakang kata, maka namanya adalah prefiks atau akhiran. Contoh –an, -kan, -i dan –nya. Infiks atau sisipan adalah afiks yang diselipkan di tengah kata dasar. Bentuknya adalah -el-, -em-, -er-, -in-. Sedangkan konfiks adalah gabungan antara prefix dan sufiks yang membentuk suatu kesatuan. Misalnya ber-an, ke-an dan lain sebagainya.
Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa yang memiliki beberapa afiks. Adapun afiks-afiks tersebut adalah sebagai berikut:

1.   Prefiks Nasal
Tabel 3
Indonesia
Sunda
Kalimat
Me(N) + Ayun
(Mengayun)
N + Ayun
(Ngayun)
      Ngayun ade?.
(Mengayun adik)
Me(N) + Baca
(Membaca)
N + Baca
(Ngabaca?)
      Nuju ngabaca buku?.
(Akan membaca buku)
Me(N) + Rusak
(Merusak)
N + Ruksak
(Ngaruksak)
      Ngarusak kembang.
(Merusak bunga)
Me(N) + Cuci
(Mencuci)
N + Cuci
(Nyuci)
      Nyuci baju.
(Mencuci baju)
Me(N) + Sayur
(Menyayur)
N + Sayur
(Nyayur)
      Mamah nyayur bayem.
(Ibu menyaur bayam)
Me(N) + Siram
(Menyiram)
N + Siram
(Nyiram)
      Nyiram papelakan.
(Menyiram tanaman)

Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa bahasa Sunda tidak memiliki awalan me-, yang bahasa Sunda miliki hanyalah prefiks nasal. Setiap awalan me- yang diikuti oleh konsonan dan tidak terjadi peleburan, maka dalam bahasa Sunda awalan me- tersebut akan berubah menjadi prefiks nasal nga-. Contohnya adalah membaca menjadi ngabaca. Konsonan b pada awal kata tidak mengalami peleburan.
Sementara itu, pada prefiks me- yang diikuti oleh konsonan dan konsonan tersebut mengalami peleburan (hukum KPTS) serta awalan me- yang berubah menjadi men-, maka dalam bahasa Sunda prefiks tersebut akan berubah menjadi ny-. Contoh pada kata menyiram menjadi nyiram dan kata mencuci menjadi nyuci.  

2.  Prefiks Ter-
Awalan ter- yang bermakna ‘ketidaksengajaan’ dalam bahasa Indonesia berubah menjadi awalan ka- dalam bahasa Sunda. Berikut penulis sajikan beberapa contoh awalan ter- yang berubah menjadi ka- dalam bahasa Sunda.

Tabel 4
Sunda
Indonesia
Kalimat
Ka+baca?
Terbaca
      Kabaca ku jalmi (terbaca oleh orang)
Ka+jele?
Terlihat
      Kajele ti imah abdi (terlihat dari rumah saya)
Ka+senggol
Tersenggol
      Kasenggol ku motor (tersenggol oleh motor)
Ka+buka?
Terbuka
      Bajuna kabuka? (Bajunya terbuka)
Ka+tutup
Tertutup
      Bengeutna? katutup kaen (Mukanya tertutup kain)
Ka+siram
Tersiram
      Awakna? kasiram cai teh.(Badannya tersiram air teh)
Ka+tumpuk
Tertumpuk
      Hapena? katumpuk buku (HPnya tertumpuk buku)
Ka+cium
Tercium
      Kacium bau? hayam bakar (tercium wangi ayam bakar)
Ka+gebug
Terpukul
      Hulu na kagebug kai nu ageng (kepalanya terpukul kayu besar)
Ka+piseleg
Tersedak
      Kapiseleg cai bodas (tersedak air putih)
Ka+inget
Teringat
      Kainget sadulur di jawa (teringat saudara di Jawa)


3.  Prefiks Pembentuk Adverbia (Se-)
Prefika pembentuk adverbial se- juga terdapat dalam bahasa Sunda, hanya saja prefiks tersebut berubah menjadi sa-. Prefiks se- merupakan bentuk terikat dari esa yang maknanya adalah satu dan juga sama. Ada beberapa kata dalam bahasa Sunda yang mendapat prefiks se- yakni sebagai berikut:

Tabel 5
Sunda
Indonesia
Kalimat
Sa + Kamar
Sekamar
Abdi sakamar jeung anjeun.(saya sekamar dengan kamu)
Sa + Imah
Serumah
Abdi saimah jeung teteh.
(saya serumah dengan kakak)
Sa + Bapak
Sebapak
Luhurna sabapak.
(tingginya sebapak)
Sa + Pinter
Sepintar
Abdi mah teu sapinter anjuen.
(Saya tidak sepintar kamu)


4.  Prefiks di-
Prefiks atau awalan di- yang dimaksud dalam makalah ini bukanlah yang bermakna penunjuk tempat, melainkan prefiks yang bermakna verba bentuk pasif. Berikut beberapa verba pasif dalam bahasa Sunda.

Tabel 6
Sunda
Indonesia
Kalimat
Di + cokot
Diambil  
Bajuna dicokot ku teteh
(bajunya diambil kakak)  
Di + beuli
Dibeli
Beas dibeuli ku mamah di pasar
(Beras dibeli ibu di pasar)
Di + gebugh
Dipukul
Jalmi eta digebugh ku rampog.
(orang itu dipukul perampok)
Di + inum
Diminum
Teu Kenging diinum.
(Jangan diminum)



5.  Sufiks –Kan
Sufiks –kan dalam bahasa Sunda berubah menjadi –keun. Sufik ­–keun dalam bahasa Sunda biasanya digunakan dalam kalimat perintah. Pemakaian sufiks ini juga tidak merubah kata dasar. Berikut contohnya:

Tabel 7
Sunda
Indonesia
Kalimat
Cokot+keun
Ambilkan
      Cokotkeun baju teteh!
(Ambilkan baju kakak!)
Asup+keun
Masukkan
      Asupkeun ka kotak!
(Masukkan ke kotak!)
Baca+keun
Bacakan
      Bacakeun anu kuat!
(Bacakan yang kuat!)
Buka+keun
Bukakkan
      Bukakeun tutup botolna!
(Bukakan tutip botolnya!)
Tutup+keun
Tutupkan
      Tutupkeun gelasna?
(Tutupkan gelasnya!)
Kocok+keun
Kocokkan
      Kocokkeun endogna!
(Kocokkan telurnya!)
Jeuleu+keun
Lihatkan
      Jeuleukeun di dinya?
(Lihatkan di situ!)
Meuli+keun
Belikan
      Pang meulikan mamah beas di pasar!
(Tolong belikan  ibu beras di pasar!)
Jieun+keun
Buatkan
      Jieunkeun teh anu amis.
(Buatkan teh yang manis)
Puteur+keun
Putarkan
      Puteurkeun bautna!
(Putarkan bautnya)
Pake+keun
Pasangkan
      Pakekeun baju adena!
(Pasangkan baju adiknya!)



6.  Sufiks -n­ya
Sufiks –nya yang bermakna ‘kepemilikan’ ternyata juga ada di dalam bahasa Sunda. Namun dalam bahasa Sunda mengalami perubahan, yakni –nya menjadi -na. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut:


Tabel 8
Sunda
Indonesia
Kalimat
Beungeutna?
Wajahnya
      Beungeutna geulis pisan euy.
(Wajahnya cantik sekali)
Bajuna?
Bajunya
      Bajuna apik pisan neng.
(Bajunya bagus sekali)
Kertasna?
Kertasnya
      Kertasnya kabakar nemari?.
(Kertasnya terbakar kemarin)
Bukuna?
Bukunya
      Bukuna? katinggaleun di bumi.
(Bukunya tertinggal di rumah)
Jalmina?
Orangnya
      Jalmina arageng pisan.
(Orangnya besar-besar sekali)
Mejana?
Mejanya
      Mejana laluhur.
(Mejanya tinggi-tinggi)
Pintuna?
Pintunya
      Pintuna tos ruksak.
(Pintunya sudah rusak)
Calanana?
Celananya
      Calanana kaagengan.
(Celananya kebesaran)
Hirungna?
Hidungnya
      Hirungna mancung.
(Hidungnya mancung)
Caina?
Airnya
      Segeur pisan caina di die mah.
(segar sekali airnya di sini)
Bu’ukna?
Rambutnya
      Bu’ukna larontok.
(Rambutnya rontok-rontok)



7.  Konfiks sa-….-na, dan ka-…-an
Konfiks sa-…-na dalam bahasa sunda ini merupakan perubahan dari konfiks se-…-nya dalam bahasa Indonesia.  Sebenarnya se-….-nya dalam bahasa Indonesia tidak termasuk dalam konfiks, karena afiksnya tidaklah tunggal.  Konfiks adalah afiks tunggal yang terjadi dari dua unsur yang terpisah. Dalam kata selamanya terbukti bahwa se-….-nya tidaklah tunggal. Keduanya dapat saling dipisahkan menjadi selama. Namun dalam bahasa Sunda sa-…-na adalah bentuk tunggal dan tidak bisa dipisahkan.
Sementara itu konfiks Ka-…-an merupakan perubahan dari konfiks ke-…-an. Sama halnya dalam bahasa Indonesia, ka-…-an ini adalah murni sebagai konfiks. Perhatikan tabel berikut:

Tabel 9
Sunda
Indonesia
Kalimat
Salawasna?
Selamanya
    Anjeuna mangkat salawasna. (Kamu pergi selamanya)
Sapuasna?
Sepuasnya
    Sogh atuh didahar  sapuasna. (Silahkan makan sepuasnya)
Sareusupna?
Sesenangnya
    Sareuseupna waelah. (Sesenangnya sajalah)
Kaagengan
Kebesaran
    Bajuna kaagengan  (Bajunya kebesaran)
Kamalingan
Kemalingan
    Imahna kamalingan (Rumahnya kemalingan)
Kabobolan
Kebobolan
    Gawana kabobolan (Gawangnya kebobolan)
Kaasupan
Kemasukan
    Matana kaasupan taneh. (matanya kemasukan tanah)
Kabereuman
Kemerahan
    Warnana kabeureuman (Warnanya kemerahan)
kahEjoan
Kehijauan
    Warnana kahejoan (Warnanya kehijauan)
Kaamisan
Kemanisan
    Tehna kaamisan (Tehnya kemanisan)


8.  Awalan Akhiran di-…-keun
Awalan akhiran di-…-keun merupakan perubahan dari di-…-kan dalam bahasa Indonesia. Berikut kata-kata yang mengalami afiksasi di-…-keun.


Tabel 10
Sunda
Indonesia
Kalimat
Diletikkeun
Dikecilkan
Bajuna kaagengan, musti diletikkeun hela?.
(Bajunya kebesaran, harus dikecilkan lebih dulu)
Diturunkeun
Diturunkan
Diturunkeun didie waelah.
(Diturunkan di sini sajalah)
Dijeunkeun
Dibuatkan
Dijeunkeun ku saha bajuna?
(Dibuatkan sama siapa bajunya?)



B.  KATA MAJEMUK
Ada beberapa kata majemuk dalam bahasa Sunda yang penulis temukan, di antaranya adalah sebagai berikut:


Tabel 11
Kata Majemuk Bahasa Sunda
Indonesia
Mabok Laut
Mabuk laut
Geger otak
Gegar otak
Kurang emam
Kurang makan
Wani sumpah
Berani sumpah
Salah denge?
Salah dengar
Maju mundur
Maju mundur
Gulung tiker
Gulung tikar
Naek Haji
Naik haji
Lengit ingetan
Hilang ingatan
Pindah lengen
Pindah tangan



C.  SIMPULAN
Berdasarkan uraian mengenai morfosintaksis dalam bahasa Sunda, maka penulis mengambil kesimpulan, bahwa:
1.     Bahasa sunda memiliki morfem terikat, yang terdiri atas preposisi, konjungsi, partikel, dan pelengkap.
2.    Bahasa sunda memiliki beberapa afiks, diantaranya prefiks, sufiks, konfiks dan afiks gabungan. Sementara untuk infiks penulis belum menemukan.
3.    Dalam bahasa sunda terdapat reduplikasi dwipurwa hampir diseluruh kosakatanya. Reduplikasi dwipurwa yakni pengulangan sebagian atau seluruh suku awal sebuah kata.
4.    Bahasa Sunda juga memiliki beberapa kata majemuk.



DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan., dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
Kridalaksana, Harimurti. 2009. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Pateda, Mansoer. 2011. Linguistik (Sebuah Pengantar). Bandung: Angkasa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar