Minggu, 18 Mei 2014

Kritik Sastra 3 : Dekonstruksi



Niat Hati Memeluk Gunung Malah Mengapung


Judul            : ”Mayat yang Mengambang Di Danau”
Pengarang     : Seno Gumira Ajidarma
Sumber         : Kompas, Minggu 8 Januari 2012

Perang, kerusuhan massa, agresi militer dan sebagainya, dari dulu hingga kini memang selalu saja terjadi. Tidak bisa tidak. Bukan hanya di Indonesia, tapi hampir diseluruh penjuru dunia pernah mengalami hal tersebut. Hal ini wajar adanya, karena manusia memang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan segala perbedaan, baik itu perbedaan dari segi SARA, segi fisik, segi ideologi dan lain sebagainya. Jika manusia tersebut tidak bisa menyikapi perbedaan itu dengan bijaksana, maka hal tersebut dapat memicu terjadinya segala hal yang tidak diinginkan seperti halnya peperangan tersebut. Jika hal seperti itu telah terjadi, maka yang tersisa tinggallah kesedihan dan penderitaan. Hal itulah yang kiranya terjadi dan juga dirasakan oleh Bernabas dan anaknya yang bernama Klemen, tokoh dalam cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Mayat yang Mengambang Di Danau ini.
Mayat Itu adalah Anaknya
Cerpen ini mengisahkan tentang seorang pemburu ikan bernama Bernabas. Ia seorang duda yang mempunyai seorang anak bernama Klemen. Seperti hari-hari biasanya, pada hari ini meskipun cuaca mendung, Bernabas tetap pergi ke danau untuk berburu ikan. Entah kenapa, pada hari itu Bernabas merasa tidak fokus berburu ikan. Pikirannya menjalar dan menerawang.  Ia teringat pada Klemen, anaknya yang sudah beberapa ini hari menghilang. Klemen tiba-tiba saja pulang dan memutuskan untuk berhenti sekolah teologia. Saat Bernabas menanyakan alasannya, Klemen hanya menjawab,”Apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah mengotori bumi. Kampus tempat belajar agama pun diobrak-abrik tentara. Benarkah sudah cukup kita hanya dengan berdoa?” Selain itu, Bernabas juga sering mendengar gagasan-gagasan Klemen tentang pernyataan untuk merdeka, suatu hal yang tidak dimengertinya. Bernabas bukan tidak mendengar orang-orang berbicara tentang penembakan dan kerusuhan diberbagai tempat, bahkan para pendeta pun selalu berbicara tentang kemerdekaan di sela-sela khotbahnya. Tetapi tetap saja, yang ia butuhkan hanyalah berburu ikan.
Lamunan panjang itu segera saja berakhir tatkala di dasar danau ia menemukan sesuatu yang amat menarik perhatiannya. Bernabas mengetahui bahwa itu adalah sosok mayat. Saat mayat itu mengambang ke permukaan, ia dapat memastikan bahwa kaki dan tangan mayat itu diikat dengan sobekan bendera berwarna biru dan putih, kemudian mulutnya disumpal dengan kain merah. Ia terkesiap, mayat itu adalah Klemen, anaknya.

Sisi Terang dan Gelap
Dalam menjalani sebuah kehidupan, tentu saja manusia selalu menginginkan kehidupan yang lebih baik. Namun untuk menggapai hal itu, manusia dituntut pula  untuk berpikir kritis, agar tidak terjebak pada suatu hal yang justru bisa membuat keadaan menjadi buruk. Apalagi jika situasi dalam keadaan yang tidak kondusif, seperti dalam keadaan rusuh ataupun perang, maka berpikir cerdas sangat diperlukan.
Sayangnya hal ini tidak dilakukan oleh Klemen. Disaat kondisi tengah berbahaya. Klemen justru bertindak bodoh. Ia berhenti bersekolah dan memilih menjadi seorang pembrontak. Ia seolah-oleh ingin menjadi seorang pahlawan penyelamat bangsa. Namun sayang, tindakannya itu justru menyebabkannya menjadi mayat yang mengapung di danau, sungguh ironis tentunya. Andai saja ia lebih cermat dan mau mengikuti jejak seperti ayahnya, maka hal yang menimpa dirinya mungkin dapat dihindarkan, dan ayahnya tentu saja tidak akan histeris karena telah kehilangan dirinya.
Bernabas selaku ayah juga tidak memiliki kepekaan terhadap prilaku anaknya. Bernabas dipandang sebagai sosok ayah yang tidak peduli pada anaknya. Ia lebih mengutamakan kesibukannya berburu ikan di danau dan beribadah pada hari Minggu  daripada mendengarkan gagasan-gagasan anaknya tentang kemerdekaan. Bahkan ia sama sekali tidak peduli pada lingkungan yang pada masa itu jelas-jelas tengah rusuh.  Baginya hidup ini cukup dengan berburu ikan dan berdoa saja. Andai saja ia bisa mengontrol kegiatan Klemen, tentu sedikit banyak ia bisa memberikan nasihat pada anaknya itu. Sehingga anaknya tidak menjadi korban keganasan agresi militer dan ia juga tidak akan menjumpai mayat yang mengapung itu.
Sang pembunuh yang tidak diketahui siapa empunya itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Ia membunuh Klemen karena merasa urusannya telah dicampuri oleh anak tersebut. Karena pada hakikatnya, setiap orang itu mempunyai hak untuk melakukan segala hal yang ingin dilakukannya. Begitu juga dengan pembunuh tersebut.

  Hidup memang terdiri atas dua sisi, ada sisi gelap dan juga sisi terang. Tidak saja dalam kehidupan nyata, tetapi juga dalam kahidupan fiksi. Tokoh yang memiliki sisi kehidupan terang belum tentu sepenuhnya bersih dari segala hal, bisa jadi tokoh tersebut merupakan tokoh yang memiliki sisi gelap. Sehingga, ketika tengah menilai sesuatu, sepatutnya kita menilai dari sudut yang berbeda, sehingga kebenaran pun akan terungkap. (Anah Mutaslimah

1 komentar:

  1. thanks kak penjelasan singkatnya. boleh bantu ga kak? pesan moral dari cerpen ini apa ya?

    BalasHapus