
Niat Hati Memeluk Gunung Malah Mengapung
Judul : ”Mayat yang Mengambang Di Danau”
Pengarang :
Seno Gumira Ajidarma
Sumber :
Kompas, Minggu 8 Januari 2012
Perang,
kerusuhan massa, agresi militer dan sebagainya, dari dulu hingga kini memang
selalu saja terjadi. Tidak bisa tidak. Bukan hanya di Indonesia, tapi hampir
diseluruh penjuru dunia pernah mengalami hal tersebut. Hal ini wajar adanya,
karena manusia memang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan segala perbedaan,
baik itu perbedaan dari segi SARA, segi fisik, segi ideologi dan lain
sebagainya. Jika manusia tersebut tidak bisa menyikapi perbedaan itu dengan
bijaksana, maka hal tersebut dapat memicu terjadinya segala hal yang tidak
diinginkan seperti halnya peperangan tersebut. Jika hal seperti itu telah
terjadi, maka yang tersisa tinggallah kesedihan dan penderitaan. Hal itulah
yang kiranya terjadi dan juga dirasakan oleh Bernabas dan anaknya yang bernama Klemen,
tokoh dalam cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Mayat yang Mengambang
Di Danau ini.
Mayat Itu adalah Anaknya
Cerpen ini mengisahkan
tentang seorang pemburu ikan bernama Bernabas. Ia seorang duda yang mempunyai
seorang anak bernama Klemen. Seperti hari-hari biasanya, pada hari ini meskipun
cuaca mendung, Bernabas tetap pergi ke danau untuk berburu ikan. Entah kenapa,
pada hari itu Bernabas merasa tidak fokus berburu ikan. Pikirannya menjalar dan
menerawang. Ia teringat pada Klemen, anaknya
yang sudah beberapa ini hari menghilang. Klemen tiba-tiba saja pulang dan
memutuskan untuk berhenti sekolah teologia. Saat Bernabas menanyakan alasannya,
Klemen hanya menjawab,”Apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah
mengotori bumi. Kampus tempat belajar agama pun diobrak-abrik tentara. Benarkah
sudah cukup kita hanya dengan berdoa?” Selain itu, Bernabas juga sering
mendengar gagasan-gagasan Klemen tentang pernyataan untuk merdeka, suatu hal
yang tidak dimengertinya. Bernabas bukan tidak mendengar orang-orang berbicara
tentang penembakan dan kerusuhan diberbagai tempat, bahkan para pendeta pun
selalu berbicara tentang kemerdekaan di sela-sela khotbahnya. Tetapi tetap
saja, yang ia butuhkan hanyalah berburu ikan.
Lamunan panjang itu segera
saja berakhir tatkala di dasar danau ia menemukan sesuatu yang amat menarik
perhatiannya. Bernabas mengetahui bahwa itu adalah sosok mayat. Saat mayat itu
mengambang ke permukaan, ia dapat memastikan bahwa kaki dan tangan mayat itu diikat
dengan sobekan bendera berwarna biru dan putih, kemudian mulutnya disumpal
dengan kain merah. Ia terkesiap, mayat itu adalah Klemen, anaknya.
Sisi Terang dan Gelap
Dalam menjalani sebuah
kehidupan, tentu saja manusia selalu menginginkan kehidupan yang lebih baik. Namun
untuk menggapai hal itu, manusia dituntut pula untuk berpikir kritis, agar tidak terjebak
pada suatu hal yang justru bisa membuat keadaan menjadi buruk. Apalagi jika
situasi dalam keadaan yang tidak kondusif, seperti dalam keadaan rusuh ataupun
perang, maka berpikir cerdas sangat diperlukan.
Sayangnya hal ini tidak
dilakukan oleh Klemen. Disaat kondisi tengah berbahaya. Klemen justru bertindak
bodoh. Ia berhenti bersekolah dan memilih menjadi seorang pembrontak. Ia
seolah-oleh ingin menjadi seorang pahlawan penyelamat bangsa. Namun sayang,
tindakannya itu justru menyebabkannya menjadi mayat yang mengapung di danau,
sungguh ironis tentunya. Andai saja ia lebih cermat dan mau mengikuti jejak
seperti ayahnya, maka hal yang menimpa dirinya mungkin dapat dihindarkan, dan ayahnya
tentu saja tidak akan histeris karena telah kehilangan dirinya.
Bernabas selaku ayah juga tidak
memiliki kepekaan terhadap prilaku anaknya. Bernabas dipandang sebagai sosok
ayah yang tidak peduli pada anaknya. Ia lebih mengutamakan kesibukannya berburu
ikan di danau dan beribadah pada hari Minggu
daripada mendengarkan gagasan-gagasan anaknya tentang kemerdekaan.
Bahkan ia sama sekali tidak peduli pada lingkungan yang pada masa itu
jelas-jelas tengah rusuh. Baginya hidup
ini cukup dengan berburu ikan dan berdoa saja. Andai saja ia bisa mengontrol
kegiatan Klemen, tentu sedikit banyak ia bisa memberikan nasihat pada anaknya
itu. Sehingga anaknya tidak menjadi korban keganasan agresi militer dan ia juga
tidak akan menjumpai mayat yang mengapung itu.
Sang pembunuh yang tidak
diketahui siapa empunya itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Ia membunuh
Klemen karena merasa urusannya telah dicampuri oleh anak tersebut. Karena pada
hakikatnya, setiap orang itu mempunyai hak untuk melakukan segala hal yang
ingin dilakukannya. Begitu juga dengan pembunuh tersebut.
Hidup memang terdiri atas dua sisi, ada sisi
gelap dan juga sisi terang. Tidak saja dalam kehidupan nyata, tetapi juga dalam
kahidupan fiksi. Tokoh yang memiliki sisi kehidupan terang belum tentu
sepenuhnya bersih dari segala hal, bisa jadi tokoh tersebut merupakan tokoh
yang memiliki sisi gelap. Sehingga, ketika tengah menilai sesuatu, sepatutnya
kita menilai dari sudut yang berbeda, sehingga kebenaran pun akan terungkap. (Anah
Mutaslimah)
thanks kak penjelasan singkatnya. boleh bantu ga kak? pesan moral dari cerpen ini apa ya?
BalasHapus