Minggu, 18 Mei 2014

Kritik Sastra 4 : Sosiologi






Tragedi Jejawi

Judul            : ”Pohon Jejawi”
Pengarang     : Budi Darma
Terbitan       : Kompas, Minggu 26 Desember 2010

Pohon Jejawi atau lebih dikenal dengan nama pohon beringin, dari dulu hingga kini memang selalu dipercayai sebagai pohon yang keramat dan juga memiliki daya magis yang tinggi. Apalagi bagi masyarakat yang masih menganut paham animisme atau dinamisme, mereka sangat percaya bahwa pohon jejawi itu memiliki roh karena dihuni oleh arwah-arwah gaib. Namun dibalik kemagisannya itu, pohon jejawi selalu dianggap sebagai pohon yang memiliki akar kuat dan selalu berdiri kokoh.
Kehidupan sosial suatu masyarakat tidak akan pernah lepas dari suatu sistem kepercayaan. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak sistem kepercayaan. Baik itu yang bersifat primitif seperti animisme dan dinamisme atau juga kepercayaan yang sudah mendapatkan pengakuan yang sah, seperti agama-agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Walaupun kepercayaan setiap orang berbeda-beda, tetapi rasa saling menghargai dan menghormati harus senantiasa ada. Jika tidak, maka hal itu akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Karena latar sosial kehidupan tersebutlah maka Budi Darma dalam cerpennya yang berjudul Pohon Jejawi ini mengangkat sebuah kisah tentang kehidupan sosial masyarakat masa penjajahan Belanda di Surabaya.

Bukan Sekedar Keramat
Dikisahkan dalam cerpen ini bahwa Surabaya pada masa penjajahan Belanda jauh berbeda dengan Surabaya masa kini. Pada masa itu, jalan dan kampung bernama ”kedung” di Surabaya tidak sebanyak sekarang. Hanya ada satu pada waktu itu, yaitu Kedung Gang Buntu. Di kedung ini, hiduplah pohon jejawi yang sangat besar. Kala itu, Surabaya dipimpin oleh seorang walikota berkewarganegaraan Belanda yang bernama Henky van Koperlyk. Tidak diketahui kapan pohon itu tumbuh, yang pasti Pohon jejawi ini sangat dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Mereka sangat mempercayai kekuatan dari pohon tersebut. Dan hebatnya hal tersebut terbukti. Antek-antek kompeni Belanda yang berani mencemooh pohon itu akan selalu mengalami kesialan, bahkan bisa berujung kematian. Henky van Kopperlyk yang sangat membenci rakyat pribumi, berinisiatif untuk menebang pohon tersebut bahkan berniat untuk memusnahkan pohon tersebut hingga ke akar-akarnya. Namun saat hari penebangan telah tiba, jangankan memusnahkannya, saat hendak menebang pohon tersebut berbagai kesialan pun menimpa Henky van Kopperlyk sang Walikota.

Konsep yang Berbeda
Cerpen yang menggunakan latar suasana pada masa penjajahan ini menggambarkan tentang kondisi kepercayaan masyarakat Surabaya pada masa kolonial Belanda. Dimana pada masa itu, masyarakat Indonesia khususnya Surabaya masih banyak yang menganut paham animisme dan dinamisme. Hal ini jelas adanya seperti terdapat dalam kutipan berikut:

”Siapa tahu karena dia sudah mendengar, banyak orang suka berkumpul di bawah pohon jejawi, menyembah-nyembah pohon jejawi, meletakkan sesaji dengan penuh khidmat di bawah pohon jejawi, dan saling berbisik.

Dari kutipan tersebut tergambar dengan jelas bahwa masyrakat pada masa dulu memang masih mempercayai hal-hal yang bersifat magis dan mistik. Mereka masih suka menyembah-nyembah pohon yang dianggap memiliki roh atau jiwa dari orang-orang pendahulunya yang sudah mati dan juga memberikan sesaji kepada roh-roh tersebut. Jika hal ini dilakukan pada masa kini, maka konteksanya menjadi kurang sesuai, orang tersebut akan dikatakan sebagai orang yang kolot, karena masih mempercayai hal yang bersifat (konon) takhayul. Namun karena pengarang mengambil latar suasana zaman dulu, maka kondisi ini sangat sesuai.
          Selain tentang kepercayaan yang primitif, kondisi sosial pada masa itu juga rentan dengan adanya diskriminasi sosial. Dimana, penguasa pada masa itu adalah orang Belanda, sehingga secara otomatis orang Belanda lah orang yang menduduki strata sosial teratas, sementara rakyat pribumi merupakan orang yang memiliki strata sosial yang paling rendah dan hina, sampai-sampai orang Belanda menyamakannya dengan hewan. Kutipan ”Pribumi harus dihina, dilecehkan, dan dipermalukan, sebelum mereka dibakar hidup-hidup” menunjukkan suatu kondisi dimana pengarang ingin menggambarkan bahwa diskriminasi pada masa itu memang benar-benar terjadi. Selain itu dalam cerpen ini juga terdapat jargon yang dibuat oleh tokoh Henky van Kopperlyk untuk rakyat pribumi, yang berbunyi,”Pribumi dan Anjing Dilarang Masuk.” Kutipan tersebut memberikan latar sosiologis yang kuat bahwa pada masa itu perbedaan memang selalu dinyatakan secara terbuka dan nyata.

          Dilihat dari segi sosiologisnya, cerpen ini bisa dikatakan sebagai cerpen yang sukses. Pengarang berhasil menggambarkan dengan jelas keadaan masyarakat pada masa tersebut. Penggunaan bahasanya yang ringan mempermudah pembaca untuk memahami alur dari cerita yang disuguhkan. (Anah Mutaslimah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar