
Tragedi Jejawi
Judul
: ”Pohon Jejawi”
Pengarang
: Budi Darma
Terbitan
: Kompas, Minggu 26 Desember
2010
Pohon Jejawi atau
lebih dikenal dengan nama pohon beringin, dari dulu hingga kini memang selalu
dipercayai sebagai pohon yang keramat dan juga memiliki daya magis yang tinggi.
Apalagi bagi masyarakat yang masih menganut paham animisme atau dinamisme,
mereka sangat percaya bahwa pohon jejawi itu memiliki roh karena dihuni oleh
arwah-arwah gaib. Namun dibalik kemagisannya itu, pohon jejawi selalu dianggap
sebagai pohon yang memiliki akar kuat dan selalu berdiri kokoh.
Kehidupan sosial suatu
masyarakat tidak akan pernah lepas dari suatu sistem kepercayaan. Indonesia
merupakan salah satu negara yang memiliki banyak sistem kepercayaan. Baik itu
yang bersifat primitif seperti animisme dan dinamisme atau juga kepercayaan
yang sudah mendapatkan pengakuan yang sah, seperti agama-agama yang dianut oleh
masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Walaupun kepercayaan setiap orang
berbeda-beda, tetapi rasa saling menghargai dan menghormati harus senantiasa
ada. Jika tidak, maka hal itu akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Karena
latar sosial kehidupan tersebutlah maka Budi Darma dalam cerpennya yang
berjudul Pohon Jejawi ini mengangkat sebuah kisah tentang kehidupan
sosial masyarakat masa penjajahan Belanda di Surabaya.
Bukan Sekedar
Keramat
Dikisahkan dalam
cerpen ini bahwa Surabaya pada masa penjajahan Belanda jauh berbeda dengan
Surabaya masa kini. Pada masa itu, jalan dan kampung bernama ”kedung” di
Surabaya tidak sebanyak sekarang. Hanya ada satu pada waktu itu, yaitu Kedung
Gang Buntu. Di kedung ini, hiduplah pohon jejawi yang sangat besar. Kala itu,
Surabaya dipimpin oleh seorang walikota berkewarganegaraan Belanda yang bernama
Henky van Koperlyk. Tidak diketahui kapan pohon itu tumbuh, yang pasti Pohon
jejawi ini sangat dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Mereka sangat mempercayai
kekuatan dari pohon tersebut. Dan hebatnya hal tersebut terbukti. Antek-antek kompeni
Belanda yang berani mencemooh pohon itu akan selalu mengalami kesialan, bahkan
bisa berujung kematian. Henky van Kopperlyk yang sangat membenci rakyat pribumi,
berinisiatif untuk menebang pohon tersebut bahkan berniat untuk memusnahkan
pohon tersebut hingga ke akar-akarnya. Namun saat hari penebangan telah tiba, jangankan
memusnahkannya, saat hendak menebang pohon tersebut berbagai kesialan pun
menimpa Henky van Kopperlyk sang Walikota.
Konsep yang
Berbeda
Cerpen yang
menggunakan latar suasana pada masa penjajahan ini menggambarkan tentang
kondisi kepercayaan masyarakat Surabaya pada masa kolonial Belanda. Dimana pada
masa itu, masyarakat Indonesia khususnya Surabaya masih banyak yang menganut
paham animisme dan dinamisme. Hal ini jelas adanya seperti terdapat dalam
kutipan berikut:
”Siapa tahu
karena dia sudah mendengar, banyak orang suka berkumpul di bawah pohon jejawi,
menyembah-nyembah pohon jejawi, meletakkan sesaji dengan penuh khidmat di bawah
pohon jejawi, dan saling berbisik.”
Dari kutipan tersebut tergambar dengan jelas bahwa
masyrakat pada masa dulu memang masih mempercayai hal-hal yang bersifat magis
dan mistik. Mereka masih suka menyembah-nyembah pohon yang dianggap memiliki
roh atau jiwa dari orang-orang pendahulunya yang sudah mati dan juga memberikan
sesaji kepada roh-roh tersebut. Jika hal ini dilakukan pada masa kini, maka
konteksanya menjadi kurang sesuai, orang tersebut akan dikatakan sebagai orang
yang kolot, karena masih mempercayai hal yang bersifat (konon) takhayul. Namun
karena pengarang mengambil latar suasana zaman dulu, maka kondisi ini sangat sesuai.
Selain tentang kepercayaan yang
primitif, kondisi sosial pada masa itu juga rentan dengan adanya diskriminasi
sosial. Dimana, penguasa pada masa itu adalah orang Belanda, sehingga secara
otomatis orang Belanda lah orang yang menduduki strata sosial teratas,
sementara rakyat pribumi merupakan orang yang memiliki strata sosial yang
paling rendah dan hina, sampai-sampai orang Belanda menyamakannya dengan hewan.
Kutipan ”Pribumi harus dihina, dilecehkan, dan dipermalukan, sebelum mereka
dibakar hidup-hidup” menunjukkan suatu kondisi dimana pengarang ingin
menggambarkan bahwa diskriminasi pada masa itu memang benar-benar terjadi. Selain
itu dalam cerpen ini juga terdapat jargon yang dibuat oleh tokoh Henky van
Kopperlyk untuk rakyat pribumi, yang berbunyi,”Pribumi dan Anjing Dilarang
Masuk.” Kutipan tersebut memberikan latar sosiologis yang kuat bahwa pada
masa itu perbedaan memang selalu dinyatakan secara terbuka dan nyata.
Dilihat dari segi sosiologisnya,
cerpen ini bisa dikatakan sebagai cerpen yang sukses. Pengarang berhasil
menggambarkan dengan jelas keadaan masyarakat pada masa tersebut. Penggunaan
bahasanya yang ringan mempermudah pembaca untuk memahami alur dari cerita yang
disuguhkan. (Anah Mutaslimah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar