Selasa, 20 Mei 2014

GAYA BAHASA DALAM PUISI NARATIF  KARYA WS. RENDRA
“Perempuan yang Tergusur”


1.     Pengertian Gaya Bahasa
Bahasa merupakan media yang digunakan pengarang untuk mengekspresikan pengalaman batin dan memproyeksikan kepribadian, sehingga karya sastra memiliki ciri-ciri yang personal. Unsur bahasa yang dapat membangun atau menceritakan teknik bercerita yang khas dinamakan gaya bahasa. Istilah gaya bahasa berasal dari kata plassein (Latin) yaitu membentuk; dalam bahasa Inggris disebut style is menner og writing or speaking (ragam, cara, dan kebiasaan dalam penulis/berbicara) (Rahman dan Abdul Jalil, 2004:77).
Dalam sastra bahasa yang digunakan adalah bahasa yang memiliki nilai keindahan, berbeda jauh dengan bahasa yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan pengarang dalam menciptakan bahasa yang indah dalam karya sastranya sangat mempengaruhi apresiasi pembaca atau pun pendengar terhadap karya sastra tersebut. Untuk menciptakan bahasa yang indah ini, maka pengarang menggunakan gaya bahasa. Gaya bahasa ini digunakan pengarang untuk membangun jalinan cerita dengan pemilihan diksi, ungkapan, majas, kiasan dan sebagainya yang menimbulkan efek estetika dalam karyanya. Namun, dalam aspek yang lebih luas unsur yang terlibat dalam gaya ini bukan hanya diksi, tetapi juga sifat/ciri imaji yang khas, irama, ungkapan, perbandingan, dalam teknik bercerita pengarang. Dengan demikian gaya bahasa berarti cara membentuk atau menciptakan bahasa sastra dengan memilih diksi, sintaksis, ungkapan-ungkapan, majas, irama, dan imaji-imaji yang tepat untuk memperoleh kesan estetik.
Dalam karya sastra seperti novel, cerpen atau pun puisi, gaya bahasa itu mempunyai dua fungsi, yaitu:
1) Memberi warna pada karangan, sehingga gaya bahasa mencerminkan ekspresi individual.
2)Alat untuk melukiskan suasana cerita dan mengintensifkan pencitraan.

Menurut Zainuddin (dalam Desmawati, 2007:9) mendefinisikan gaya bahasa ialah pemakaian ragam bahasa dalam mewakili atau melukiskan sesuatu dengan pemilihan dan penyusunan kata dalam kalimat untuk memperoleh efek tertentu. Hal ini sejalan dengan pendapat Keraf dalam Diksi dan Gaya Bahasa, “Style atau gaya bahasa dapat dibatasi dengan cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa)” (2006:113).
Dalam kesusastraan Indonesia dikenal bermacam-macam gaya bahasa. Dalam bukunya Pelajaran Sastra (1989) Hendy membagi gaya bahasa menjadi empat kelompok, yaitu (1) gaya bahasa perbandingan (termasuk di dalamnya adalah gaya bahasa metafora, personifikasi, asosiasi, parable, alegori, simbolik, tropen, metonimia, litotes, hiperbola, sinekdok dan alusio), (2) Gaya Bahasa Sindiran (termasuk di dalamnya gaya bahasa ironi, sinisme, dan sarkasme), (3) Gaya Bahasa Penegasan (termasuk di dalamnya gaya bahasa pleonasme, repetisi, pararelisme, asindenton, polisidenton, tautology, klimaks, antiklimaks, invers dan interupsi), serta (4) Gaya Bahasa Pertentangan (termasuk di dalamnya gaya bahasa paradoks, antithesis, dan anakronisme).


2.    Puisi sebagai Karya Sastra
Ada beberapa pendapat tentang pengertian puisi. Pada dasarnya puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang populer di tengah-tengah masyarakat. Penggunaan bahasanya yang indah dan suasana yang puitis, dapat menarik pembaca dan pendengarnya. Selain memiliki bahasa yang indah dan puitis, puisi juga membawa suatu pengajaran tentang kehidupan, dan kata-katanya selalu mengandung makna yang padat dan luas.
Puisi adalah salah satu genre atau jenis sastra. Seringkali istilah puisi disamakan dengan sajak. Akan tetapi, sebenarnya tidak sama, puisi itu merupakan jenis sastra yang melingkupi sajak, sedangkan sajak adalah bagian atau individu dari puisi (Komaidi, 2007:200). Secara etimologi istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima `membuat` atau poesis `pembuatan`, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Tetapi arti yang semula ini lama kelamaan semakin dipersempit ruang lingkupnya menjadi, “hasil seni sastra, yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat yang tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata-kata kiasan” (Tarigan, 1986:4). Menurut Laelasari dan Nurlailah (dalam  Amril, 2008:12) puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna, karya sastra yang singkat, padat, dan menggunakan bahasa yang indah singkat karena diungkapkan dengan pilihan kata yang tepat.
Berdasarkan pengertian puisi menurut Laelasari dan Nurlailah ini dapat diketahui bahwa puisi pada dasarnya lebih ditekankan pada suatu bentuk karya sastra yang bahasa penulisannya itu menggunakan kata-kata yang indah, hal ini dikarenakan adanya ungkapan yang berasal dari seseorang dan dari ungkapan tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan dengan menggunakan pilihan kata yang tepat. Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Abdul Rani dan Mulyana (dalam Lestari, 2008), Puisi adalah ragam sastra yang diwujudkan dengan kata-kata atau bahasa yang indah dan padat nilai (2004:298). Konsep puisi ini masih mengacu pada penggunaan kata dalam sebuah puisi, dimana puisi itu selalu menggunakan bahasa figuratif dan mengandung nilai tertentu, sehingga ketika orang membaca puisi tersebut, kesan yang ingin disampaikan oleh penulis dapat tersampaikan dan dirasakan oleh pembaca.
Puisi itu sendiri memiliki banyak ragam, diantaranya adalah puisi naratif, puisi epic, puisi lirik, puisi dramatik, puisi didaktik dan lain sebagainya.  Berdasarkan ragam tersebut, maka penulis bermaksud untuk membahas penggunaan gaya bahasa yang terdapat pada puisi jenis naratif.
Puisi naratif yakni puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, dengan pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita (Aminuddin, 2010:135). Termasuk dalam jenis puisi naratif ini adalah apa yang biasa disebut dengan balada, yang  dibedakan antara folk ballad, dengan literary ballad, sebagai suatu ragam puisi yang berkisah tentang kehidupan manusia dengan segala macam sifat pengasihnya, kecemburuan, kedengkian, ketakutan, kepedihan, dan keriangannya. Jenis puisi lain yang termasuk dalam puisi naratif adalah poetic tale sebagai puisi yang berisi dongeng-dongeng rakyat.


3.Analisis Gaya Bahasa dalam Puisi Naratif “Perempuan yang Tergusur” karya WS. Rendra

Perhatikan puisi berikut!

Perempuan yang Tergusur

Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon
Aku terjaga dan termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempuan yang tergusur!
Tanpa pilihan
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.
Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya.
Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan,
ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara
ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran.
Sebagai janda yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali
dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban.
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.
Jadi kamu digusur.
Didalam hujun lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?
Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.
Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu.
Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?
O,cendawan peradaban!
O, teka-teki keadilan!
Waktu berjalan satu arah saja.
Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan,
gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.
Tapi aku kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.
Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.

Cipayung Jaya
3 Desember 2003
WS Rendra

          Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, gaya bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah karya sastra, tak terkecuali puisi. Berikut contoh gaya bahasa yang digunakan dalam sebuah puisi. Berdasarkan hasil analisis, dalam puisi berjudul Perempuan yang Tergusur karya WS. Rendra ini, penulis menemukan beberapa penggunaan gaya bahasa. Perhatikan penggalan puisi berikut!

Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon

          Pada dua larik terakhir, penulis menggunakan sebuah gaya bahasa yaitu pararelisme. Gaya bahasa pararelisme adalah gaya bahasa yang digunakan dalam sebuah puisi dengan jalan mengulang pada awal larik atau pada akhir larik. Pengarang menggunakan gaya bahasa tersebut untuk menegaskan tentang suatu hal, sehingga kesan dari puisi tersebut bisa mengena di hati pembaca ataupun penikmat puisi. Selain itu, dengan adanya pengulangan kata tersebut imajinasi pembaca bisa mengambarkan peristiwa tersebut dengan jelas. Selanjutnya gaya bahasa yang terdapat dalam puisi tersebut terdapat pada bait kedua, yaitu:

Aku terjaga dan termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempuan yang tergusur!

Pada larik ketiga bait kedua tersebut pengarang menggunakan gaya bahasa personifikasi, yaitu gaya bahasa yang melukiskan benda mati, bukan insan tetapi dianggap hidup, bergerak dan berbuat seperti manusia. Hujan menghajar dinding, hujan bukanlah mahluk hidup, dan tidak mungkin bisa menghajar dinding. Maka hal seperti inilah yang disebut dengan gaya bahasa personifikasi. Maknanya sebenarnya adalah hujan yang mengenai dinding rumah, menyebabkan penghuni rumah tersebut terjaga. Selain itu terdapat juga makna tersiratnya, yaitu suatu peristiwa yang membuat seseorang tersadar dan mengingat akan sesuatu. Gaya bahasa selanjutnya yaitu terdapat pada bait ketujuh yang berbunyi:

Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.

Adapun gaya bahasa yang digunakan pada bait ketujuh adalah gaya bahasa perumpamaan dan gaya bahasa pararelisme. Gaya bahasa perumpamaan merupakan gaya bahasa perbandingan yang bersifat eksplisit. Artinya bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, bagaikan, laksana, bak dan sebagainya. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui gaya bahasa tersebut digunakan dalam puisi ini, tepatnya terletak pada larik pertama dan kedua, yaitu Impian dan usaha bagai tata rias yang luntur oleh hujan. Penyair mengumpamakan impian dan usaha itu seperti tata rias yang luntur. Artinya adalah hilang harapan. Sama halnya dengan tata rias yang akan luntur jika terkena air hujan, maka di sini penyair mengumpamakan bahwa impian dan usaha seseorang yang tidak pernah tercapai, sehingga hilanglah harapan tersebut.
 Sedangkan gaya bahasa pararelisme seperti yang telah dijleaskan sebelumnya, yaitu gaya bahasa yang digunakan dalam sebuah puisi dengan jalan mengulang pada awal larik atau pada akhir larik. Penyair mengulang dua kali kata kamu, seolah-olah penyair ingin menegaskan tentang sosok kamu tersebut, sebagai pengganti dari perempuan yang tergusur. Selain pada bait ketujuh, gaya bahasa pararelisme juga terdapat pada bait kesebelas, yang berbunyi:

Tapi aku kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.

Terdapat tiga kali pengulangan kata pada dalam bait kesebelas puisi tersebut. Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, penyair kembali menegaskan tentang hal yang ingin diungkapkannya dalam puisi tersebut secara gamblang dan jelas, bahwa penyair tersebut benar-benar kagum pada kekuatan hati sosok seorang wanita yang tergusur tersebut. Selanjutnya penulis masih menemukan beberapa gaya bahasa lagi, seperti dalam kutipan puisi di bawah ini:

O,cendawan peradaban!
O, teka-teki keadilan!

          Kedua larik itu berisi gaya bahasa simbolik, yaitu gaya bahasa pelambang yang melukiskan suatu benda dengan symbol atau lambang. Penyair menggunakan kata cendawan sebagai sebuah symbol, yakni yang menyimbolkan bahwa manusia-manusia masa kini, bisa saja pemimpin dan lain sebagainya, yang tidak lagi memiliki adab sehingga keadilan telah hilang dari muka bumi. Kemudian pada paragraph terakhir, penyair juga menggunakan bahasa yang penuh dengan kiasan. Perhatikan kutipan puisi bait terakhir berikut:

Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.

Larik yang bercetak miring di atas mengandung gaya bahasa metafora. Metafora adalah membandingkan sesuatu secara langsung terhadap penggantinya (meta + phoreo berarti perumpamaan, bertukar nama). Gurun pasir kehidupan merupakan pengganti dari keras, panas, susah dan gersangnya kehidupan yang dilalui oleh seorang wanita, namun walaupun hidupnya penuh tekanan, tetapi wanita tersebut berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum.


4.    Simpulan dan Saran

4.1  Simpulan

Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa ialah pemakaian ragam bahasa dalam mewakili atau melukiskan sesuatu dengan pemilihan dan penyusunan kata dalam kalimat untuk memperoleh efek tertentu. Fungsi dari gaya bahasa itu sendiri adalah:
1. Memberi warna pada karangan, sehingga gaya bahasa mencerminkan ekspresi individual.
2.Alat untuk melukiskan suasana cerita dan mengintensifkan pencitraan.
Dari hasil analisis penulis, dapat diketahui bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam puisi naratif berjudul Perempuan yang Tergusur karya WS. Rendra berjumlah lima buah, yaitu gaya bahasa pararelisme, gaya bahasa personifikasi, gaya bahasa perumpamaan, gaya bahasa simbolik, dan gaya bahasa metafora.

4.2 Saran
Dengan ditulisnya analisis sederhana ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya. Selain itu, diharapkan kepada pembaca agar dapat memberikan kritik dan saran jika dalam menganalisis gaya bahasa dalam puisi ini terdapat kesalahan-kesalahan yang tanpa sengaja dibuat oleh penulis.




DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin, 2010. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Desmawati. 2007. “Gaya Bahasa dalam Teks Randai Cerita Dang Gadunai Sentajo Kabupaten Kuantan Singingi” (skripsi). Pekanbaru: FKIP UNRI.
Hendy, Zaidan. 1989. Pelajaran Sastra 2. Jakarta: Gramedia.
Keraf, Gorys. 2006. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Jakarta: Universitas Gajah Mada Pres.
Rahman, Elmustian dan Abdul Jalil. 2004. Teori sastra. Pekanbaru: Labor Bahasa, sastra, dan Jurnalistik Universitas Riau.
Seniwati. 2004. “Gaya Bahasa yang Terdapat dalam Cerpen yang dimuat di Tabloid Mingguan Nova Terbitan  September 2002 Sampai Oktober 2002” (skripsi). Pekanbaru: FKIP UNRI.

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.      

Senin, 19 Mei 2014

Morfosintaksis Lanjutan.......

A.  Afiksasi
Kata yang dibentuk dari kata lain pada umumnya mengalami tembahan bentuk pada kata dasarnya. Proses pembentukan dan penambahan afiks pada kata dasar yang sedemikian rupa disebut dengan afiksasi. Afiks adalah morfem terikat yang digunakan untuk menurunkan kata (Alwi, 2003:31).
Afiks ada 4 macam, yakni prefiks, sufiks, infiks dan konfiks. Afiks yang ditempatkan di bagian muka suatu kata dasar disebut dengan prefiks atau awalan. Bentuknya antara lain ber-, ter-, peng-, me-, dan se-. Apabila morfem terikat tersebut terletak di belakang kata, maka namanya adalah prefiks atau akhiran. Contoh –an, -kan, -i dan –nya. Infiks atau sisipan adalah afiks yang diselipkan di tengah kata dasar. Bentuknya adalah -el-, -em-, -er-, -in-. Sedangkan konfiks adalah gabungan antara prefix dan sufiks yang membentuk suatu kesatuan. Misalnya ber-an, ke-an dan lain sebagainya.
Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa yang memiliki beberapa afiks. Adapun afiks-afiks tersebut adalah sebagai berikut:

1.   Prefiks Nasal
Tabel 3
Indonesia
Sunda
Kalimat
Me(N) + Ayun
(Mengayun)
N + Ayun
(Ngayun)
      Ngayun ade?.
(Mengayun adik)
Me(N) + Baca
(Membaca)
N + Baca
(Ngabaca?)
      Nuju ngabaca buku?.
(Akan membaca buku)
Me(N) + Rusak
(Merusak)
N + Ruksak
(Ngaruksak)
      Ngarusak kembang.
(Merusak bunga)
Me(N) + Cuci
(Mencuci)
N + Cuci
(Nyuci)
      Nyuci baju.
(Mencuci baju)
Me(N) + Sayur
(Menyayur)
N + Sayur
(Nyayur)
      Mamah nyayur bayem.
(Ibu menyaur bayam)
Me(N) + Siram
(Menyiram)
N + Siram
(Nyiram)
      Nyiram papelakan.
(Menyiram tanaman)

Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa bahasa Sunda tidak memiliki awalan me-, yang bahasa Sunda miliki hanyalah prefiks nasal. Setiap awalan me- yang diikuti oleh konsonan dan tidak terjadi peleburan, maka dalam bahasa Sunda awalan me- tersebut akan berubah menjadi prefiks nasal nga-. Contohnya adalah membaca menjadi ngabaca. Konsonan b pada awal kata tidak mengalami peleburan.
Sementara itu, pada prefiks me- yang diikuti oleh konsonan dan konsonan tersebut mengalami peleburan (hukum KPTS) serta awalan me- yang berubah menjadi men-, maka dalam bahasa Sunda prefiks tersebut akan berubah menjadi ny-. Contoh pada kata menyiram menjadi nyiram dan kata mencuci menjadi nyuci.  

2.  Prefiks Ter-
Awalan ter- yang bermakna ‘ketidaksengajaan’ dalam bahasa Indonesia berubah menjadi awalan ka- dalam bahasa Sunda. Berikut penulis sajikan beberapa contoh awalan ter- yang berubah menjadi ka- dalam bahasa Sunda.

Tabel 4
Sunda
Indonesia
Kalimat
Ka+baca?
Terbaca
      Kabaca ku jalmi (terbaca oleh orang)
Ka+jele?
Terlihat
      Kajele ti imah abdi (terlihat dari rumah saya)
Ka+senggol
Tersenggol
      Kasenggol ku motor (tersenggol oleh motor)
Ka+buka?
Terbuka
      Bajuna kabuka? (Bajunya terbuka)
Ka+tutup
Tertutup
      Bengeutna? katutup kaen (Mukanya tertutup kain)
Ka+siram
Tersiram
      Awakna? kasiram cai teh.(Badannya tersiram air teh)
Ka+tumpuk
Tertumpuk
      Hapena? katumpuk buku (HPnya tertumpuk buku)
Ka+cium
Tercium
      Kacium bau? hayam bakar (tercium wangi ayam bakar)
Ka+gebug
Terpukul
      Hulu na kagebug kai nu ageng (kepalanya terpukul kayu besar)
Ka+piseleg
Tersedak
      Kapiseleg cai bodas (tersedak air putih)
Ka+inget
Teringat
      Kainget sadulur di jawa (teringat saudara di Jawa)


3.  Prefiks Pembentuk Adverbia (Se-)
Prefika pembentuk adverbial se- juga terdapat dalam bahasa Sunda, hanya saja prefiks tersebut berubah menjadi sa-. Prefiks se- merupakan bentuk terikat dari esa yang maknanya adalah satu dan juga sama. Ada beberapa kata dalam bahasa Sunda yang mendapat prefiks se- yakni sebagai berikut:

Tabel 5
Sunda
Indonesia
Kalimat
Sa + Kamar
Sekamar
Abdi sakamar jeung anjeun.(saya sekamar dengan kamu)
Sa + Imah
Serumah
Abdi saimah jeung teteh.
(saya serumah dengan kakak)
Sa + Bapak
Sebapak
Luhurna sabapak.
(tingginya sebapak)
Sa + Pinter
Sepintar
Abdi mah teu sapinter anjuen.
(Saya tidak sepintar kamu)


4.  Prefiks di-
Prefiks atau awalan di- yang dimaksud dalam makalah ini bukanlah yang bermakna penunjuk tempat, melainkan prefiks yang bermakna verba bentuk pasif. Berikut beberapa verba pasif dalam bahasa Sunda.

Tabel 6
Sunda
Indonesia
Kalimat
Di + cokot
Diambil  
Bajuna dicokot ku teteh
(bajunya diambil kakak)  
Di + beuli
Dibeli
Beas dibeuli ku mamah di pasar
(Beras dibeli ibu di pasar)
Di + gebugh
Dipukul
Jalmi eta digebugh ku rampog.
(orang itu dipukul perampok)
Di + inum
Diminum
Teu Kenging diinum.
(Jangan diminum)



5.  Sufiks –Kan
Sufiks –kan dalam bahasa Sunda berubah menjadi –keun. Sufik ­–keun dalam bahasa Sunda biasanya digunakan dalam kalimat perintah. Pemakaian sufiks ini juga tidak merubah kata dasar. Berikut contohnya:

Tabel 7
Sunda
Indonesia
Kalimat
Cokot+keun
Ambilkan
      Cokotkeun baju teteh!
(Ambilkan baju kakak!)
Asup+keun
Masukkan
      Asupkeun ka kotak!
(Masukkan ke kotak!)
Baca+keun
Bacakan
      Bacakeun anu kuat!
(Bacakan yang kuat!)
Buka+keun
Bukakkan
      Bukakeun tutup botolna!
(Bukakan tutip botolnya!)
Tutup+keun
Tutupkan
      Tutupkeun gelasna?
(Tutupkan gelasnya!)
Kocok+keun
Kocokkan
      Kocokkeun endogna!
(Kocokkan telurnya!)
Jeuleu+keun
Lihatkan
      Jeuleukeun di dinya?
(Lihatkan di situ!)
Meuli+keun
Belikan
      Pang meulikan mamah beas di pasar!
(Tolong belikan  ibu beras di pasar!)
Jieun+keun
Buatkan
      Jieunkeun teh anu amis.
(Buatkan teh yang manis)
Puteur+keun
Putarkan
      Puteurkeun bautna!
(Putarkan bautnya)
Pake+keun
Pasangkan
      Pakekeun baju adena!
(Pasangkan baju adiknya!)



6.  Sufiks -n­ya
Sufiks –nya yang bermakna ‘kepemilikan’ ternyata juga ada di dalam bahasa Sunda. Namun dalam bahasa Sunda mengalami perubahan, yakni –nya menjadi -na. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut:


Tabel 8
Sunda
Indonesia
Kalimat
Beungeutna?
Wajahnya
      Beungeutna geulis pisan euy.
(Wajahnya cantik sekali)
Bajuna?
Bajunya
      Bajuna apik pisan neng.
(Bajunya bagus sekali)
Kertasna?
Kertasnya
      Kertasnya kabakar nemari?.
(Kertasnya terbakar kemarin)
Bukuna?
Bukunya
      Bukuna? katinggaleun di bumi.
(Bukunya tertinggal di rumah)
Jalmina?
Orangnya
      Jalmina arageng pisan.
(Orangnya besar-besar sekali)
Mejana?
Mejanya
      Mejana laluhur.
(Mejanya tinggi-tinggi)
Pintuna?
Pintunya
      Pintuna tos ruksak.
(Pintunya sudah rusak)
Calanana?
Celananya
      Calanana kaagengan.
(Celananya kebesaran)
Hirungna?
Hidungnya
      Hirungna mancung.
(Hidungnya mancung)
Caina?
Airnya
      Segeur pisan caina di die mah.
(segar sekali airnya di sini)
Bu’ukna?
Rambutnya
      Bu’ukna larontok.
(Rambutnya rontok-rontok)



7.  Konfiks sa-….-na, dan ka-…-an
Konfiks sa-…-na dalam bahasa sunda ini merupakan perubahan dari konfiks se-…-nya dalam bahasa Indonesia.  Sebenarnya se-….-nya dalam bahasa Indonesia tidak termasuk dalam konfiks, karena afiksnya tidaklah tunggal.  Konfiks adalah afiks tunggal yang terjadi dari dua unsur yang terpisah. Dalam kata selamanya terbukti bahwa se-….-nya tidaklah tunggal. Keduanya dapat saling dipisahkan menjadi selama. Namun dalam bahasa Sunda sa-…-na adalah bentuk tunggal dan tidak bisa dipisahkan.
Sementara itu konfiks Ka-…-an merupakan perubahan dari konfiks ke-…-an. Sama halnya dalam bahasa Indonesia, ka-…-an ini adalah murni sebagai konfiks. Perhatikan tabel berikut:

Tabel 9
Sunda
Indonesia
Kalimat
Salawasna?
Selamanya
    Anjeuna mangkat salawasna. (Kamu pergi selamanya)
Sapuasna?
Sepuasnya
    Sogh atuh didahar  sapuasna. (Silahkan makan sepuasnya)
Sareusupna?
Sesenangnya
    Sareuseupna waelah. (Sesenangnya sajalah)
Kaagengan
Kebesaran
    Bajuna kaagengan  (Bajunya kebesaran)
Kamalingan
Kemalingan
    Imahna kamalingan (Rumahnya kemalingan)
Kabobolan
Kebobolan
    Gawana kabobolan (Gawangnya kebobolan)
Kaasupan
Kemasukan
    Matana kaasupan taneh. (matanya kemasukan tanah)
Kabereuman
Kemerahan
    Warnana kabeureuman (Warnanya kemerahan)
kahEjoan
Kehijauan
    Warnana kahejoan (Warnanya kehijauan)
Kaamisan
Kemanisan
    Tehna kaamisan (Tehnya kemanisan)


8.  Awalan Akhiran di-…-keun
Awalan akhiran di-…-keun merupakan perubahan dari di-…-kan dalam bahasa Indonesia. Berikut kata-kata yang mengalami afiksasi di-…-keun.


Tabel 10
Sunda
Indonesia
Kalimat
Diletikkeun
Dikecilkan
Bajuna kaagengan, musti diletikkeun hela?.
(Bajunya kebesaran, harus dikecilkan lebih dulu)
Diturunkeun
Diturunkan
Diturunkeun didie waelah.
(Diturunkan di sini sajalah)
Dijeunkeun
Dibuatkan
Dijeunkeun ku saha bajuna?
(Dibuatkan sama siapa bajunya?)



B.  KATA MAJEMUK
Ada beberapa kata majemuk dalam bahasa Sunda yang penulis temukan, di antaranya adalah sebagai berikut:


Tabel 11
Kata Majemuk Bahasa Sunda
Indonesia
Mabok Laut
Mabuk laut
Geger otak
Gegar otak
Kurang emam
Kurang makan
Wani sumpah
Berani sumpah
Salah denge?
Salah dengar
Maju mundur
Maju mundur
Gulung tiker
Gulung tikar
Naek Haji
Naik haji
Lengit ingetan
Hilang ingatan
Pindah lengen
Pindah tangan



C.  SIMPULAN
Berdasarkan uraian mengenai morfosintaksis dalam bahasa Sunda, maka penulis mengambil kesimpulan, bahwa:
1.     Bahasa sunda memiliki morfem terikat, yang terdiri atas preposisi, konjungsi, partikel, dan pelengkap.
2.    Bahasa sunda memiliki beberapa afiks, diantaranya prefiks, sufiks, konfiks dan afiks gabungan. Sementara untuk infiks penulis belum menemukan.
3.    Dalam bahasa sunda terdapat reduplikasi dwipurwa hampir diseluruh kosakatanya. Reduplikasi dwipurwa yakni pengulangan sebagian atau seluruh suku awal sebuah kata.
4.    Bahasa Sunda juga memiliki beberapa kata majemuk.



DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan., dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
Kridalaksana, Harimurti. 2009. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Pateda, Mansoer. 2011. Linguistik (Sebuah Pengantar). Bandung: Angkasa.