GAYA BAHASA DALAM PUISI NARATIF
KARYA WS. RENDRA
“Perempuan yang Tergusur”
1. Pengertian Gaya Bahasa
Bahasa
merupakan media yang digunakan pengarang untuk mengekspresikan pengalaman batin
dan memproyeksikan kepribadian, sehingga karya sastra memiliki ciri-ciri yang
personal. Unsur bahasa yang dapat membangun atau menceritakan teknik bercerita
yang khas dinamakan gaya bahasa. Istilah gaya bahasa berasal dari kata plassein (Latin) yaitu membentuk; dalam
bahasa Inggris disebut style is menner og
writing or speaking (ragam, cara, dan kebiasaan dalam penulis/berbicara)
(Rahman dan Abdul Jalil, 2004:77).
Dalam
sastra bahasa yang digunakan adalah bahasa yang memiliki nilai keindahan,
berbeda jauh dengan bahasa yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan pengarang dalam menciptakan bahasa yang indah dalam karya sastranya
sangat mempengaruhi apresiasi pembaca atau pun pendengar terhadap karya sastra
tersebut. Untuk menciptakan bahasa yang indah ini, maka pengarang menggunakan
gaya bahasa. Gaya bahasa ini digunakan pengarang untuk membangun jalinan cerita
dengan pemilihan diksi, ungkapan, majas, kiasan dan sebagainya yang menimbulkan
efek estetika dalam karyanya. Namun, dalam aspek yang lebih luas unsur yang
terlibat dalam gaya ini bukan hanya diksi, tetapi juga sifat/ciri imaji yang
khas, irama, ungkapan, perbandingan, dalam teknik bercerita pengarang. Dengan
demikian gaya bahasa berarti cara membentuk atau menciptakan bahasa sastra
dengan memilih diksi, sintaksis, ungkapan-ungkapan, majas, irama, dan
imaji-imaji yang tepat untuk memperoleh kesan estetik.
Dalam
karya sastra seperti novel, cerpen atau pun puisi, gaya bahasa itu mempunyai
dua fungsi, yaitu:
1) Memberi warna pada karangan, sehingga gaya bahasa
mencerminkan ekspresi individual.
2)Alat untuk melukiskan suasana cerita dan mengintensifkan
pencitraan.
Menurut Zainuddin (dalam Desmawati, 2007:9) mendefinisikan
gaya bahasa ialah pemakaian ragam bahasa dalam mewakili atau melukiskan sesuatu
dengan pemilihan dan penyusunan kata dalam kalimat untuk memperoleh efek
tertentu. Hal ini sejalan dengan pendapat Keraf dalam Diksi dan Gaya Bahasa, “Style atau gaya bahasa dapat dibatasi
dengan cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang
memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa)” (2006:113).
Dalam kesusastraan Indonesia dikenal bermacam-macam gaya
bahasa. Dalam bukunya Pelajaran Sastra (1989)
Hendy membagi gaya bahasa menjadi empat kelompok, yaitu (1) gaya bahasa
perbandingan (termasuk di dalamnya adalah gaya bahasa metafora, personifikasi,
asosiasi, parable, alegori, simbolik, tropen, metonimia, litotes, hiperbola,
sinekdok dan alusio), (2) Gaya Bahasa Sindiran (termasuk di dalamnya gaya bahasa
ironi, sinisme, dan sarkasme), (3) Gaya Bahasa Penegasan (termasuk di dalamnya
gaya bahasa pleonasme, repetisi, pararelisme, asindenton, polisidenton,
tautology, klimaks, antiklimaks, invers dan interupsi), serta (4) Gaya Bahasa
Pertentangan (termasuk di dalamnya gaya bahasa paradoks, antithesis, dan
anakronisme).
2.
Puisi sebagai Karya Sastra
Ada beberapa pendapat tentang pengertian puisi. Pada
dasarnya puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang populer di
tengah-tengah masyarakat. Penggunaan bahasanya yang indah dan suasana yang
puitis, dapat menarik pembaca dan pendengarnya. Selain memiliki bahasa yang
indah dan puitis, puisi juga membawa suatu pengajaran tentang kehidupan, dan
kata-katanya selalu mengandung makna yang padat dan luas.
Puisi adalah salah satu genre atau jenis sastra. Seringkali
istilah puisi disamakan dengan sajak. Akan tetapi, sebenarnya tidak sama, puisi
itu merupakan jenis sastra yang melingkupi sajak, sedangkan sajak adalah bagian
atau individu dari puisi (Komaidi, 2007:200). Secara etimologi istilah puisi
berasal dari bahasa Yunani poeima `membuat` atau poesis `pembuatan`, dan dalam
bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Tetapi arti yang semula ini lama
kelamaan semakin dipersempit ruang lingkupnya menjadi, “hasil seni sastra, yang
kata-katanya disusun menurut syarat-syarat yang tertentu dengan menggunakan
irama, sajak, dan kadang-kadang kata-kata kiasan” (Tarigan, 1986:4). Menurut
Laelasari dan Nurlailah (dalam Amril, 2008:12)
puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya
makna, karya sastra yang singkat, padat, dan menggunakan bahasa yang indah
singkat karena diungkapkan dengan pilihan kata yang tepat.
Berdasarkan pengertian puisi menurut Laelasari dan Nurlailah
ini dapat diketahui bahwa puisi pada dasarnya lebih ditekankan pada suatu
bentuk karya sastra yang bahasa penulisannya itu menggunakan kata-kata yang
indah, hal ini dikarenakan adanya ungkapan yang berasal dari seseorang dan dari
ungkapan tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan dengan menggunakan pilihan
kata yang tepat. Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Abdul Rani
dan Mulyana (dalam Lestari, 2008), Puisi adalah ragam sastra yang diwujudkan
dengan kata-kata atau bahasa yang indah dan padat nilai (2004:298). Konsep
puisi ini masih mengacu pada penggunaan kata dalam sebuah puisi, dimana puisi
itu selalu menggunakan bahasa figuratif dan mengandung nilai tertentu, sehingga
ketika orang membaca puisi tersebut, kesan yang ingin disampaikan oleh penulis
dapat tersampaikan dan dirasakan oleh pembaca.
Puisi itu sendiri memiliki banyak ragam, diantaranya adalah
puisi naratif, puisi epic, puisi lirik, puisi dramatik, puisi didaktik dan lain
sebagainya. Berdasarkan ragam tersebut,
maka penulis bermaksud untuk membahas penggunaan gaya bahasa yang terdapat pada
puisi jenis naratif.
Puisi naratif yakni puisi yang di dalamnya mengandung suatu
cerita, dengan pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa
tertentu yang menjalin suatu cerita (Aminuddin, 2010:135). Termasuk dalam jenis
puisi naratif ini adalah apa yang biasa disebut dengan balada, yang dibedakan antara folk ballad, dengan literary
ballad, sebagai suatu ragam puisi yang berkisah tentang kehidupan manusia
dengan segala macam sifat pengasihnya, kecemburuan, kedengkian, ketakutan,
kepedihan, dan keriangannya. Jenis puisi lain yang termasuk dalam puisi naratif
adalah poetic tale sebagai puisi yang berisi dongeng-dongeng rakyat.
3.Analisis Gaya Bahasa dalam Puisi Naratif “Perempuan yang
Tergusur” karya WS. Rendra
Perhatikan
puisi berikut!
Perempuan
yang Tergusur
Hujan lebat
turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon
Aku terjaga dan
termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempuan yang tergusur!
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempuan yang tergusur!
Tanpa pilihan
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.
Ia paksa kamu
jadi primadona pelacurnya.
Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan,
ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara
ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran.
Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan,
ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara
ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran.
Sebagai janda
yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali
dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban.
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.
Jadi kamu digusur.
kamu tinggal di gubuk tepi kali
dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban.
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.
Jadi kamu digusur.
Didalam hujun
lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?
Impian dan
usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.
Aku tak tahu
cara seketika untuk membelamu.
Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?
Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?
O,cendawan
peradaban!
O, teka-teki keadilan!
O, teka-teki keadilan!
Waktu berjalan
satu arah saja.
Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan,
gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.
Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan,
gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.
Tapi aku kagum
pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.
Ternyata di
gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.
Cipayung
Jaya
3 Desember 2003
WS Rendra
3 Desember 2003
WS Rendra
Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, gaya bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah karya
sastra, tak terkecuali puisi. Berikut contoh gaya bahasa yang digunakan dalam
sebuah puisi. Berdasarkan hasil analisis, dalam puisi berjudul Perempuan
yang Tergusur karya WS. Rendra ini, penulis menemukan beberapa penggunaan
gaya bahasa. Perhatikan penggalan puisi berikut!
Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon
Pada
dua larik terakhir, penulis menggunakan sebuah gaya bahasa yaitu pararelisme.
Gaya bahasa pararelisme adalah gaya bahasa yang digunakan dalam sebuah puisi
dengan jalan mengulang pada awal larik atau pada akhir larik. Pengarang
menggunakan gaya bahasa tersebut untuk menegaskan tentang suatu hal, sehingga
kesan dari puisi tersebut bisa mengena di hati pembaca ataupun penikmat puisi.
Selain itu, dengan adanya pengulangan kata tersebut imajinasi pembaca bisa
mengambarkan peristiwa tersebut dengan jelas. Selanjutnya gaya bahasa yang
terdapat dalam puisi tersebut terdapat pada bait kedua, yaitu:
Aku terjaga dan termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar
dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti
mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempuan yang tergusur!
Pada
larik ketiga bait kedua tersebut pengarang menggunakan gaya bahasa
personifikasi, yaitu gaya bahasa yang melukiskan benda mati, bukan insan tetapi
dianggap hidup, bergerak dan berbuat seperti manusia. Hujan menghajar
dinding, hujan bukanlah mahluk hidup, dan tidak mungkin bisa menghajar
dinding. Maka hal seperti inilah yang disebut dengan gaya bahasa personifikasi.
Maknanya sebenarnya adalah hujan yang mengenai dinding rumah, menyebabkan penghuni
rumah tersebut terjaga. Selain itu terdapat juga makna tersiratnya, yaitu suatu
peristiwa yang membuat seseorang tersadar dan mengingat akan sesuatu. Gaya
bahasa selanjutnya yaitu terdapat pada bait ketujuh yang berbunyi:
Impian
dan usaha
bagai
tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori
wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan
terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak
mungkin kamu seberangi.
Adapun
gaya bahasa yang digunakan pada bait ketujuh adalah gaya bahasa perumpamaan dan
gaya bahasa pararelisme. Gaya bahasa perumpamaan merupakan gaya bahasa
perbandingan yang bersifat eksplisit. Artinya bahwa ia langsung menyatakan
sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara
eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, bagaikan, laksana, bak dan sebagainya. Berdasarkan
hasil analisis, dapat diketahui gaya bahasa tersebut digunakan dalam puisi ini,
tepatnya terletak pada larik pertama dan kedua, yaitu Impian dan usaha bagai
tata rias yang luntur oleh hujan. Penyair mengumpamakan impian dan usaha
itu seperti tata rias yang luntur. Artinya adalah hilang harapan. Sama halnya
dengan tata rias yang akan luntur jika terkena air hujan, maka di sini penyair
mengumpamakan bahwa impian dan usaha seseorang yang tidak pernah tercapai,
sehingga hilanglah harapan tersebut.
Sedangkan gaya bahasa pararelisme seperti yang
telah dijleaskan sebelumnya, yaitu gaya bahasa yang digunakan dalam sebuah
puisi dengan jalan mengulang pada awal larik atau pada akhir larik. Penyair
mengulang dua kali kata kamu, seolah-olah penyair ingin menegaskan
tentang sosok kamu tersebut, sebagai pengganti dari perempuan yang tergusur. Selain
pada bait ketujuh, gaya bahasa pararelisme juga terdapat pada bait kesebelas,
yang berbunyi:
Tapi aku
kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap
kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan
dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan
diri sendiri,
dan
caramu merawat selimut dengan hati-hati.
Terdapat tiga kali pengulangan
kata pada dalam bait kesebelas puisi tersebut. Tidak jauh berbeda dengan
sebelumnya, penyair kembali menegaskan tentang hal yang ingin diungkapkannya
dalam puisi tersebut secara gamblang dan jelas, bahwa penyair tersebut
benar-benar kagum pada kekuatan hati sosok seorang wanita yang tergusur
tersebut. Selanjutnya penulis masih menemukan beberapa gaya bahasa lagi,
seperti dalam kutipan puisi di bawah ini:
O,cendawan
peradaban!
O,
teka-teki keadilan!
Kedua
larik itu berisi gaya bahasa simbolik, yaitu gaya bahasa pelambang yang
melukiskan suatu benda dengan symbol atau lambang. Penyair menggunakan kata cendawan
sebagai sebuah symbol, yakni yang menyimbolkan bahwa manusia-manusia masa
kini, bisa saja pemimpin dan lain sebagainya, yang tidak lagi memiliki adab
sehingga keadilan telah hilang dari muka bumi. Kemudian pada paragraph
terakhir, penyair juga menggunakan bahasa yang penuh dengan kiasan. Perhatikan
kutipan puisi bait terakhir berikut:
Ternyata di gurun pasir
kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di
dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di
hati ini.
Larik
yang bercetak miring di atas mengandung gaya bahasa metafora. Metafora adalah
membandingkan sesuatu secara langsung terhadap penggantinya (meta + phoreo berarti perumpamaan, bertukar nama). Gurun pasir
kehidupan merupakan pengganti dari keras, panas, susah dan gersangnya
kehidupan yang dilalui oleh seorang wanita, namun walaupun hidupnya penuh
tekanan, tetapi wanita tersebut berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum.
4.
Simpulan dan Saran
4.1 Simpulan
Berdasarkan
uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa ialah pemakaian ragam
bahasa dalam mewakili atau melukiskan sesuatu dengan pemilihan dan penyusunan
kata dalam kalimat untuk memperoleh efek tertentu. Fungsi dari gaya bahasa itu
sendiri adalah:
1. Memberi warna pada karangan, sehingga gaya bahasa
mencerminkan ekspresi individual.
2.Alat untuk melukiskan suasana cerita dan
mengintensifkan pencitraan.
Dari
hasil analisis penulis, dapat diketahui bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam
puisi naratif berjudul Perempuan yang Tergusur karya WS. Rendra berjumlah
lima buah, yaitu gaya bahasa pararelisme, gaya bahasa personifikasi, gaya
bahasa perumpamaan, gaya bahasa simbolik, dan gaya bahasa metafora.
4.2 Saran
Dengan
ditulisnya analisis sederhana ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi
siapa saja yang membacanya. Selain itu, diharapkan kepada pembaca agar dapat
memberikan kritik dan saran jika dalam menganalisis gaya bahasa dalam puisi ini
terdapat kesalahan-kesalahan yang tanpa sengaja dibuat oleh penulis.
DAFTAR
PUSTAKA
Aminuddin, 2010. Pengantar Apresiasi
Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Desmawati. 2007. “Gaya Bahasa dalam
Teks Randai Cerita Dang Gadunai Sentajo Kabupaten Kuantan Singingi” (skripsi). Pekanbaru: FKIP UNRI.
Hendy, Zaidan. 1989. Pelajaran Sastra 2. Jakarta: Gramedia.
Keraf, Gorys. 2006. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian
Puisi. Jakarta: Universitas Gajah Mada Pres.
Rahman, Elmustian dan Abdul Jalil.
2004. Teori sastra. Pekanbaru: Labor
Bahasa, sastra, dan Jurnalistik Universitas Riau.
Seniwati. 2004. “Gaya Bahasa
yang Terdapat dalam Cerpen yang dimuat di Tabloid Mingguan Nova Terbitan September 2002 Sampai Oktober 2002” (skripsi).
Pekanbaru: FKIP UNRI.
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung:
Angkasa.