Minggu, 18 Mei 2014

Resensi Novel : Tangisan Batang Pudu



Alam Menangis, Ayam Mati Di Lumbung Padi

Judul                         : Tangisan Batang Pudu
Penulis                      : Musa Ismail
Penerbit                    : Gurindam Press, 2008
Tempat Terbit           : Pekanbaru
Cetakan                    : Pertama
Tebal                        : iv + 237
Ukuran                     : 11,5 x 18,5 cm

Setelah sukses dengan beberapa tulisannya, yang berupa cerpen, esei, opini serta artikel yang dimuat diberbagai majalah sastra/budaya serta surat kabar itu, kini Musa Ismail yang merupakan alumni dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Riau tahun 1994 ini mencoba untuk menciptakan sebuah novel yang berjudul Tangisan Batang Pudu. Dalam novelnya, sosok yang lahir di Pulau Buru Karimun, Kepri dan sekarang berdomisili di Bengkalis ini mencoba untuk mengangkat sebuah kisah yang berbau kritik sosial.
Tangisan Batang Pudu karya Musa Ismail ini menceritakan tentang perjuangan sebuah LSM bernama Silvikultur dalam menanggulangi kerusakan alam yang terjadi di sebuah pemukiman suku Sakai di daerah Bengkalis. Korban dari kerusakan alam ini tidak lain adalah suku Sakai. Sekelompok manusia yang seluruh kehidupannya masih bergantung pada alam. Dapat dibayangkan tentunya apa yang terjadi pada mereka jika sumber utama kehidupan mereka dirusak. Regresi sosial yang tidak dapat untuk dihindari. Kiranya hal inilah yang ingin dihadirkan oleh Musa Ismail.
Batang Pudu, pada awalnya kita akan menyangka ini merupakan sebuah nama pohon, namun sebenarnya bukan. Batang Pudu itu merupakan nama dari sebuah sungai. Sungai itu terletak disebuah desa yang bernama Desa Petani. Sebuah desa yang dihuni oleh penduduk suku sakai yang seluruh penghidupannya bergantung pada batang Pudu tersebut. Desa tersebut dipimpin oleh seorang batin –istilah lain dari penghulu adat– yang bernama Batin Sainudin. Seseorang yang sangat menjunjung tinggi adat, sangat dihormati dan disegani oleh penduduk kampung.

Ujung Musim yang Pecah
Kisah bermula ketika Dahlan beserta teman-temannya dari LSM Silvikultur melakukan survey di desa Petani tersebut. Keadaan yang sangat memprihatinkan, hal itulah kiranya yang ia dan teman-temannya dapatkan. Ditegaskan dengan pernyataan:
”Pohon-pohon di kampung itu pun mulai melayu. Gairah hidupnya sudah pudar sebab menyaksikan para pemeliharanya sudah menjadi mayat. Ketika mayat-mayat sudah mengeluarkan belatung, satu persatu pepohonan bertumbangan. Kampung yang alami kini sudah berada di ujung musim yang pecah” (hal.57).
Dari penuturan batin Sainudin, Dahlan mengetahui bahwa kondisi kehidupan warga di desa tersebut kini tengah dalam kesulitan dan kesengsaraan. Betapa tidak, batang Pudu yang merupakan nafas bagi mereka kini telah rusak ternoda dan tercemari oleh limbah dari perusahaan-perusaahan yang terus berkembang dan  menghimpit desa mereka.
Mengetahui hal itu, Dahlan dan teman-temannya yang dibantu oleh Tuah Sakti –anak dari batin sainudin yang baru saja menamatkan pendidikan S3-nya di Jakarta– beserta warga sakai berupaya dan berjuang untuk menyelamatkan keadaan desa serta mengembalikan kondisi sungai seperti sedia kala. Semua upaya dan tindakan pun dilakukan. Mulai dari hal-hal kecil seperti melakukan reboisasi sampai hal-hal besar seperti melakukan tuntutan dan meminta pertanggungjawaban kepada pemerintah dan juga perusaahaan yang bersangkutan. Namun apalah daya, mereka hanyalah sekelumit rakyat kecil yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pemerintah hanya bisa berjanji dan janji, namun tak ada satupun upaya yang dilakukan.

Sudahlah Jatuh, Tertimpa Tangga Pula
Klimaks dalam novel ini mulai tampak ketika penulis mulai menceritakan tentang kesengsaraan warga yang semakin memuncak. Warga benar-benar sudah tidak bisa memanfaatkan batang Pudu lagi. Ikan-ikan mati dan badan warga terkena penyakit miang-miang akibat menyentuh air dari batang Pudu. Konflik antara warga dan warga, kemudian warga dan pemerintah pun tidak dapat terelakkan lagi. Keadaan semakin rumit tatkala batin Sainudin dan juga istrinya yang biasa dipanggil dengan Mak Cik Dayang meninggal dunia. Sehingga tampuk kepemimpinan jatuh pada Tuah yang merupakan anak tunggal dari batin Sainudin. Kesedihan yang tak terperikan pun melanda Tuah. Kini ia benar-benar harus berjuang memerdekakan kampungnya tersebut. Namun ia bersyukur, Ia tidak berjuang sendirian, masih ada Dahlan dan juga kawan-kawannya yang bersedia membantu.
Sosok yang Bertuah
Dalam novelnya ini, Musa Ismail menggambarkan Tuah sebagai sosok yang tampan, cerdas, gigih dan berjiwa sosial tinggi. Berbekal sarjananya, ia benar-benar mengabdi kepada kampung secara total. Sebagai doktor, Ia merasa berkewajiban untuk memperbaiki ketidakbenaran yang melingkar dikerangka kepala warga kampungnya. Ia tidak mau warga kampungnya terus diperbodohi oleh kelicikan orang-orang terdidik. Dia juga tidak mau, pihak perusahaan yang melingkar dikapungnya itu terus menggerogoti kehidupan warga, sehingga warga hidup dalam kerugian yang panjang dan terasing serta jauh dari akses kemajuan. Sungguh sebuah penggambaran watak yang inspiratif dan cocok dijadikan panutan bagi generasi masa kini. Tokoh yang memiliki watak inspiratif lainnya juga datang dari Dahlan. Tidak jauh berbeda sifatnya dengan Tuah. Perbedaanya hanya pada latar belakang pendidikan. Jika Tuah seorang sosiolog, maka Dahlan adalah seorang pemuda bersahaja yang sangat mencintai alam, sehingga istilah pemerhati alam mungkin cocok disandang untuknya.
Untuk menghidarkan rasa jenuh atau cerita yang monoton, pengarang membumbui cerita novelnya ini dengan kisah percintaan yang dipadukan dengan latar sosiologis yang kuat. Kisah percintaan ini terjadi antara Tuah Sakti dan seorang perempuan bernama Zulaikha, salah seorang anggota LSM Silvikultur yang ternyata juga ditaksir oleh Dahlan. Namun sayang, cinta Dahlan itu ternyata bertepuk sebelah tangan, karena Zulaikha telah menjatuhkan pilihannya pada Tuah Sakti.

Plus dan Minus
Hal menarik lainnya yaitu novel ini penuh dengan ungkapan-ungkapan dan filosfi-filosofi kehidupan yang sangat bermanfaat tentunya. Seperti ”Ingat! Hanya kepada yang muda, sungai ini akan semula jadi, jangan biarkan sedikitpun sampah mengotorinya, Anakku” (hal.1). Kemudian lagi,”Jangan takut pada mimpi. Bermimpilah apa saja. Menjadi pemimpilah kalian. Jelajahi samudra. Langkahi benua. Kuasai masa depan. Jangan lepaskan darahmu dari urat belajar” (hal.2), kemudian ada juga ungkapan yang berbunyi “Kami bagai ayam yang mati di lumbung padi” (hal.124). dan masih banyak lagi yang bisa kita temukan dalam novel ini.
Namun sayangnya pada penghujung cerita penulis seperti menggantungkan peristiwa. Tidak ada penyelesaian akhir dari cerita tersebut, sehingga pembaca tidak bisa mengetahui apakah kondisi warga tersebut berakhir dengan baik atau malah sebaliknya, menjadi semakin buruk. Pembaca menjadi menerka-nerka tentang kelanjutan peristiwa yang terjadi. Selain itu juga ada beberapa kata yang mengalami kesalahan ejaan.
Sebagai karya fiksi yang menggunakan gaya bahasa yang tinggi, novel ini hanya cocok dibaca oleh kalangan mahasiswa ke atas saja dan tidak cocok untuk kalangan remaja, karena mereka akan mengalami kesulitan dalam menelaah makna dari cerita tersebut nantinya. Dengan pembentukan karakter tokohnya yang kuat, tegar serta berani dan juga penggunaan bahasa yang luar biasa, Musa Ismail berhasil menghadirkan suara kritik dari hati negeri Sakai yang hidup sebagai penonton dari geliat kemajuan yang jelas-jelas menguras kekayaan buminya itu. (Anah Mutaslimah)

Sabtu, 17 Mei 2014

Kritik Sastra 2 : Semiotik

Ilustrasi



Ketika Mati Menjadi Sebuah Solusi


Judul               : “Hari Ini Ada yang Mati Lagi”
Pengarang       : Labibah Zain
Sumber           : Republika, Ahad 21 Mei 2006

Cerpen karya Labibah Zain yang berjudul Hari Ini Ada yang Mati Lagi ini menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah dan dua orang anak perempuan yang sangat memprihatinkan karena himpitan ekonomi. Ayahnya hanya seorang tukang gali kubur yang tidak memiliki penghasilan tetap, dan hanya bisa mendapat uang jika ada orang yang meninggal. Anak sulungnya seorang babu yang harus membiayai kebutuhan sekolah adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Suatu ketika, karena tidak tahan lagi dengan himpitan ekonomi yang semakin kuat akhirnya sang kakak melakukan tindakan kriminal dengan mencuri uang majikannya dengan harapan bisa membahagiakan adiknya. Namun, tanpa diduga saat pertama kalinya ia melakukan perbuatan kotor tersebut, adiknya justru menghadap pada Yang Maha Kuasa. Bahkan uang harampun tak bisa membahagiakan adiknya.
Di balik Sebuah Kematian
Setiap peristiwa atau kejadian, dan juga nama tokoh kadangkala tidak disampaikan secara naturalistik dan realistik sebagaimana adanya, tetapi disampaikan secara figuratif dan perlambangan. Begitu juga dengan cerpen karya Labibah Zaini yang berjudul Hari Ini Ada yang Mati Lagi ini, penulis menggunakan sistem tanda untuk mengaitkan cerita dengan realitas kehidupan.
Dari segi judul, penulis telah menggunakan kata mati sebagai suatu tanda. Mati merupakan suatu tanda ketika makhluk yang bernyawa tidak lagi bernyawa, makhluk yang hidup tidak lagi hidup, sehingga tidak bisa merasakan apa-apa lagi, dan berhenti dari segala aktivitas. Seringkali mati dijadikan media dan solusi untuk menyelesaikan masalah bagi orang-orang yang berpikiran dangkal dan putus asa. Kondisi ekonomi dan sosial yang morat marit bisa menjadi pemicu terjadinya kematian. Seperti yang dilakukan oleh tokoh Tiwi dalam cerpen ini, seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, berani mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Perbuatan ini dilakukan karena faktor ekonomi. Keinginannya untuk jalan-jalan tak bisa tercapai karena kehidupannya yang sangat miskin.
Ayah merupakan ikon dari kepala keluarga. Kepala keluarga berfungsi sebagai pemimpin, tugasnya menafkahi anggota keluarga. Walaupun begitu, dalam cerita ini tokoh sang ayah dianggap sebagai pemimpin yang gagal. Karena tidak mampu memberikan kebahagiaan kepada kedua anaknya. Sulitnya mencari pekerjaan menyebabkan sang ayah hanya bisa bekerja sebagai tukang gali kubur. Sebuah pekerjaan yang pendapatannya sangat tidak seberapa. Jangankan untuk keperluan yang lain, untuk mencukupi kebutuhan pokok seperti makan pun sangat susah untuk dilakukan.
Berikutnya kata kubur merupakan ikon dari sebuah tempat, yaitu tempat peristirahatan terakhir. Seseorang yang telah mati maka akan dikuburkan, karena kuburlah tempat terakhir setiap insan yang tidak lagi bernyawa. Kubur memiliki hubungan yang erat dengan kematian. Kemudian dalam cerpen ini juga terdapat kata tahlilan yang merupakan perlambangan dari tradisi kematian. Suatu kegiatan yang dilakukan dengan maksud mendoakan orang yang telah meninggal dunia.
Malaikat Izrail merupakan ikon dari sosok pencabut nyawa. Jika malaikat Izrail telah mencabut nyawa seseorang, maka matilah orang tersebut. Dalam kondisi tertentu, seperti yang dirasakan oleh keluarga seperti yang digambarkan dalam cerpen, kedatangan malaikat Izrail sangatlah ditunggu-tunggu. Dengan begitu, tokoh sang ayah akan mendapat pekerjaan, dan bisa menyambung hidup.
Sebuah Protes Sosial
Cerpen ini menyoroti kondisi masyarakat saat ini yang keadaanya memang sangat memprihatinkan. Maraknya korupsi, menyebabkan kekacauan sosial dan ekonomi yang begitu parah. Ketidakpedulian pemimpin pada rakyatnya. Kemudian ditambah lagi dengan tidak adanya penerapan agama, norma, nilai dan etika. Dengan keadaan seperti ini, mati merupakan salah satu solusi untuk memecahkan masalah bagi masyarakat pinggiran yang taraf hidupnya di bawah garis normal.
Secara perlambangan, cerpen karya Labibah Zain ini sudah memiliki nuansa yang menunjukkan adanya penggunaan simbol ataupun tanda. Walaupun kata-kata yang digunakan terkesan biasa dan sederhana, tetapi terselip makna yang dalam. Berulangkali Labibah Zain ini menyebutkan kata ‘mati’, yang sebenarnya memiliki makna ambigu. Bukan hanya saja mati bagi manusia, tetapi juga bisa sebagai kamatian yang lain. Kembali pada interpretasi masing-masing individu yang akan memaknai ‘mati’ itu sebagai apa.

Kentara sekali bahwa melalui tulisan cerpennya ini, ia ingin menyampaikan sebuah protes sosial. Benar-benar berisi luapan hati berdasarkan realitas. Tanpa adanya penggunaan kata-kata kiasan, baik itu yang bersifat metafora ataupun yang lainnya. Namun, walaupun penyampaiannya sederhana, pesan penulis tetap tersampaikan. (Anah Mutaslimah)

Kritik Sastra I : Mimetik


Ilustrasi kompas.com

Kesetiaan Pun Dituntut

Judul               : ”Langit Masih Biru”
Pengarang       : Rina Mahfuzah Nst
Sumber           : Republika, Ahad, 8 April 2008

Kehidupan dalam sebuah rumah tangga memang selalu diwarnai oleh berbagai kejadian atau peristiwa. Mulai dari peristiwa yang membuat anggota keluarga bahagia sampai peristiwa yang bisa membuat keutuhan rumah tangga tersebut terancam bubar. Tentunya setiap orang tidak menginginkan peristiwa yang buruk terjadi dalam kehidupan mereka. Semua orang ingin merasakan kehidupan yang bahagia. Namun apalah daya, manusia hanya bisa berencana, dan yang mengatur semua adalah Yang Maha Kuasa. Tinggal bagaimana manusia tersebut menyikapi jika hal demikian terjadi. Itulah kiranya yang melatarbelakangi Rina Mahfuzah Nst menulis cerpen berjudul Langit Masih Biru.

Kesetiaan Seorang Istri
 Langit Masih Biru, cerpen yang disajikan oleh Rina Mahfuzah Nst. mengisahkan tentang kesetiaan dan ketegaran seorang istri yang begitu besar pada suaminya. Sofiya namanya, ia adalah seorang gadis yang baru saja menikah. Suaminya bernama Panji, ia bekerja disebuah bank pemerintah dan menjabat sebagai seorang branch manager. Pada awal pernikahan, kehidupan  Sofiya dan suaminya berjalan lancar dan boleh dikatakan bahagia. Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika mereka dikaruniai seorang anak.
Kemudian, seiring berjalannya waktu, konflik mulai muncul. Sofiya merasakan adanya perubahan sikap suaminya. Tidak hanya pada dirinya, tetapi juga kepada orang tuanya. Panji yang awalnya selalu menuruti permintaannya kini mulai pelit. Ia juga tidak peduli lagi pada orang tua Sofiya. Namun Sofiya tidak pernah mempermasalahkan itu, walaupun Panji tidak pernah memberikan penjelasan apapun mengenai perubahan sikapnya itu, ia hanya diam dan diam.
Puncaknya, sebuah kenyataan yang membuat tokoh Sofia terpukul hebat. Panji suaminya, terkena kasus pembobolan mesin ATM di bank tempatnya bekerja dan divonis hukuman penjara selama enam tahun. Kemudian ditambah lagi dengan sebuah kebenaran yang diungkapkan oleh orang ibu Sofiya tentang prilaku Panji yang menyebabkan airmata ibunya tersebut menetes. Namun, berkat dorongan dari kedua orang tuanya dan juga kecintaan serta kesetiaannya pada suami, Sofiya bisa menguasai diri untuk bangkit dan tegar. Cinta pada suaminya tidak pernah berubah,  seperti langit yang masih tetap berwarna biru.
Sebuah Realitas Kehidupan
Kisah yang dialami oleh tokoh Sofiya ini memang sering terjadi dalam kehidupan nyata. Tidak pandang bulu, mulai dari keluarga kalangan atas sampai pula kalangan bawah, semuanya bisa mengalami peristiwa tersebut. Banyak faktor yang bisa menjadi pemicu peristiwa tersebut terjadi, bisa itu karena faktor ekonomi, sosial, ataupun budaya.
Perilaku mengaitkan karya sastra dengan kenyataan atau realitas, hal itulah kiranya yang dilakukan oleh Rina Mahfuzah Nst. Mendapatkan inspirasi dari realitas kehidupan kemudian diolah menjadi sebuah karya sastra. Bisa jadi peristiwa yang diceritakan dalam cerpen berjudul Langit Masih Biru adalah kisahnya sendiri yang kemudian ia tuangkan kedalam bentuk sebuah karya sastra jenis prosa, khususnya yaitu cerpen. Namun bisa juga merupakan sebuah tiruan dari peristiwa yang terjadi dilingkungannya.
Dalam cerpennya ini Rina Mahfuzah Nst dengan sengaja menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal pada tokoh utamanya dengan tujuan agar kesan yang didapat sesuai dengan apa yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh Aku yang bernama Sofiya dengan gamblang menceritakan liku-liku kehidupan rumah tangganya, sehingga apa yang diceritakan seolah-olah memang benar terjadi ataupun cermin dari sebuah realitas kehidupan.
Dari segi penggunaan bahasa, bisa dikatakan Rina Mahfuzah Nst. adalah penulis yang handal. Menggunakan kata-kata kiasan yang erat dengan nuansa kehidupan. Misalnya saja dalam kutipan ”Langit memantulkan paras yang anggun, ketika iring-iringan pengantin yang membawamu, sampai ke pintu rumahku. Seperti dua gumpalan mega yang menyatu dilangit, aku dan kau bertemu di pelaminan, mengikat janji sebagai sepasang suami istri”, dalam kehidupan nyata, istilah langit memantulkan paras yang anggun, maka hal itu menandakan kondisi hari cerah. Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh tokoh aku. Hal itu menggambarkan suasana hati yang gembira dan bahagia.

Ada hal yang menjadi poin penting dalam cerita ini, yaitu motivasi yang diberikan oleh orang tua dari tokoh Aku (Sofia). Walaupun mereka telah mendapat perlakuan yang tidak baik dari menantunya yaitu tokoh Panji, tetapi mereka tetap menyuruh anaknya untuk tetap setia pada suaminya. Keadaan seperti ini sama persis dengan kehidupan nyata. Dimana, orang tua itu selalu mengutamakan kebahagiaan anaknya. Kemudian, seorang istri yang tetap setia pada suaminya, meskipun suaminya dijebloskan kedalam penjara. Karena tidak jarang pada saat sekarang ini, seoarng istri yang hanya mencari kesenangan dari suaminya saja, ketika suaminya tertimpa masalah, sang istri justru meninggalkannya. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa cerpen ini memang merupakan cerpen yang menceritakan sebuah potret dan realitas kehidupan. (Anah Mutaslimah

Kamis, 01 Mei 2014

Syair Anak Durhaka

Selaen pandai bepantun, orang Melayu juge pandai bersayir. Nah, sebab itu makenye saye dapat tugas dari dosen saye tuk buat Syair Anak Durhake sewaktu saye semester 5. Inilah syair saye waktu tu. Semoge dapat jadi referensi saudare semuenye. Syair ini saye angkat dari cerite Dedap Durhake.



SYAIR ANAK DURHAKA
Oleh: Anah Mutaslimah

Babak 1 : Pembukaan syair memakai bacaan bassmalah
Memulai kata dengan bismillah
Salam diiring jari besembah
Sebagai pengawal sebuah kisah
Kisah yang sarat akan petuah

Babak 2 : Memberikan nasihat dan petuah kepada anak agar menjauhi sifat durhaka dan memberikan gambaran bagi yang berbuat durhaka
Wahai anak pemuda bangsa
Sopan santun hendaklah dijaga
Hormat taat pada orang tua
Jauhkan diri dari sifat durhaka

Durhaka itu pasal bala bencana
Masuk neraka disitulah bermula
Di dunia hidup terasa hina
Di akhirat siksa tiada terkira

Babak 3: Menyampaikan sebuah kisah tentang anak durhaka, agar cerita syair lebih bermakna dan mengena kepada hati pembaca
Ini bukan bualan belaka
Ini petuah benar adanya
Ada kisah yang mengiringnya
Dedap durhaka judul kisahnya


Babak 4: Permulaan kisah hidup si dedap durhaka
Semasa dahulu di selat bengkalis
Sebuah keluarga hidup tragis
Hati mengiba mata menangis
Hidup miskin laksana pengemis

Keluarga Dedap ternyata kiranya
Untungnya orang tua masih berpunya
Hanya harta yang tak ada
Namun itulah awalnya petaka

Babak 5: Bermula dari hidupnya yang kacau akibat faktor ekonomi, si Dedap pun hendak merantau
Ditengah hidupnya yang kacau
Dedap berniat hendak merantau
Merantau jauh ke seberang pulau
Kedua orang tua merasa risau

Babak 6: Ibu dedap yang sangat saying pada anaknya, membawakan Dedap bekal, yaitu pais dedak dan panggang keluang.
Pais dedak panggang keluang
Bekal si Dedap pergi berjuang
Berjuang hidup di rantau orang
Setiap hari membanting tulang

Babak 7: Setelah sekian lama merantau, akhirnya si Dedap pun menjadi orang kaya.
Tidak terasa kayalah sudah
Si dedap banyak beroleh berkah
Sekian lama hidup bersusah
Kini tak lagi di pandang rendah

Babak 8: Setelah kaya, Dedap mempersunting seorang istri, namun ia mulai melupakan kedua orang tuanya di kampong.
Harta dapat istripun dapat
Si Dedap hidup dengan semangat
Kepada harta terlalu terpikat
Pada orang tua tidaklah ingat

Babak 9: Pada saat Dedap bertemu dengan orang tuanya, ia merasa malu dan lupa pada asalnya dahulu, hingga ia tidak mau mengakui kedua orang tuanya itu.
Dedap durhaka anak celaka
Tidak ingat pada asalnya
Pada ibu bapak ia durhaka
Tidak mengaku sebagai anaknya

Babak 10: Sang Ibu yang merasa sakit hati pun akhirnya mengucapkan sumpah kutukan. Sehingga kapal kekayaan Dedap berubah menjadi sebuah pulau.
Terucaplah sumpah ibu kandungnya
Turunlah angin begitu kencangnya
Hancurkan segala harta bendanya
Hingga hilang tiada bersisa

Disitulah pulau tiba-tiba ada
Pulau Dedap orang menyebutnya
Pulau terbentuk dari kapalnya
Kapal si Dedap anak durhaka

Babak 11: Nasehat penutup pengiring cerita dedap
Jagalah ucapan saat berkata
Janganlah lengah hanya karena harta
Pada orang tua sampai lupa
Itulah kisah si anak durhaka


Coretan di Alam Mayang

Taman Wisata Pekanbaru
Alam Mayang! Siape yang merase warge Pekanbaru, pastilah tau tempat ni. Sebab, tempat ni lumayan terkenallah di Pekanbaru. Termasuk saye, saye paham betullah tempat wisata satu ni. Ade angse-angse yang bise didayong same kaki, ade danaunye, ade arena outbond. Pokonye banyak hal lah di Alam Mayang ni (Promosi siket).
Nah, sebab Alam Mayang terkenal tu, satu orang dosen saye, niat betollah nak ngadean UAS di Alam Mayang ni. Tepikir tak tuu :D
Ujiannye taklah susah betol, cume buat 5 buah pantun same 5 buah puisi jeee, tapii temanyee tuuu tentang Alam Mayang tulaah -__-. Nah, sebab terlalu sedap mandang sane mandang sini, telupelah same saye ape tema pantun same puisi tu. Jadi, yang seharusnye isi pantun tu yang tentang Alam Mayang, ni tebuatu pulak sampirannye yang tentang Alam Mayang hahaha. Nak tau pantun saye tu macam ape? Nah ni lah die bende tu! :D

1. Pantun 

Air danau warnanya hijau
Berisi ikan beragam rupa
Kalau pikiran sedang kacau
Bawa berdzikir dan berdoa

Pekanbaru kota bertuah
Alam mayang tujuan wisata
Perbuatan dosa harap dicegah
Agar terhindar segala dosa

Alam mayang tempat wisata
Tempat berlibur tua dan muda
Pada orang tua jangan durhaka
Nanti kamu masuk neraka

Tumbuh berjajar si pohon bambu
Berjajar rapi di tepi danau
Terhadap pilihan janganlah ragu
Nanti kamu merasa galau

hahaha meleset betolah yang nomor 4 tuuu.... :D 

2. Puisi

NASIH SEBUAH DANAU

Terbentang luas
Menatap langit
Menentang terik
Begemercik tercabik-cabik

Kau indah
Namun mulai resah
Kau ternoda sampah
Namun tak bisa menyumpah

Mata tuhan
Yang berkelopak awan
Berkedip setitik
Melihat setiap kejadian

Ia tersenyum
Ia merintih
Ia mengaduh
Namun, kau tetap terbentang

Taklah semuenye saye posting disini, sebab bende tu hilang, lupe saye letak dimane file tuu :D

Selasa, 08 April 2014

Kata Bersinonim Berdasarkan Nuansa Makna

Dalam kegiatan berbahasa, baik itu dalam bahasa asing maupun dalam bahasa Indonesia, seringkali kita menemukan adanya kesamaan makna atau hubungan makna antara satu kata dengan kata lainnya dalam suatu ujaran bahasa. Hubungan makna di sini memang benar adanya, karena kejadian seperti itu erat kaitannya dengan salah satu bidang kajian semantik, yaitu sinonim. Sebelum membahas lebih jauh mengenai kata yang bersinonim, maka sebaiknya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu sinonim.

1.   Pengertian Sinomim
Secara etimologi kata sinonim berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nama’, dan syn yang artinya ’dengan’. Jadi, secara harfiah kata sinonim berarti ’nama lain untuk benda atau hal yang sama’ (Chaer, 2009:83). Kemudian Verhaar (dalam Chaer, 2009:83) secara semantik mendefinisikan sebagai ungkapan, (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan yang lain. Seperti halnya kata sepak dan tendang  adalah dua buah kata yang bersinonim; kata bunga, kembang, dan puspa merupakan tiga kata yang bersinonim; kemudian kata mati, wafat, meninggal, dan mampus adalah empat buah kata yang bersinonim.
Telah disebutkan oleh Verhaar bahwa ”maknanya kurang lebih sama”, artinya dua buah kata atau lebih yang bersinonim itu kesamaan maknanya tidaklah seratus persen sama. Sifatnya hanya kurang lebih saja. Kesamaan tersebut tidak bersifat mutlak. Hal ini dikarenakan adanya prinsip umum dari semantik itu sendiri yang menyetakan bahwa apabila bentuk berbeda maka maknanya pun akan ikut berbeda, walaupun perbedaan tersebut hanyalah sedikit. Demikian juga dengan kata-kata yang bersinonim, karena bentuknya berbeda maka tidak menutup kemungkinan jika makna kata tersebut tidaklah seratus persen persis sama.

2.  Kata-kata Bersinonim Berdasarkan Nuansa Makna
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa makna dari kata yang bersinonim tidaklah seratus persen sama. Maka akan timbul pertanyaan, jadi apanya yang sama? Jika berpegang pada teori Verhaar dengan cara analisis komponen-komponen, maka adapun yang sama adalah bagian dari unsur tertentu saja dari makna yang sama. Contohnya seperti pada kata mati dan meninggal. Kata mati memiliki komponen makna (1) tidak bernyawa dan (2) dapat dikenakan terhadap apa saja (manusia, hewan, tumbuhan dan sebagainya). Sedangkan meninggal memiliki komponen makna (1) tidak bernyawa dan (2) hanya dikenakan pada manusia. Jadi, jelas terlihat bahwa kata mati dan meninggal hanya bersinonim pada makna (1) tidak bernyawa. Karena itu jelas juga bahwa Ana, kucing, dan pohon mangga bisa menggunakan kata mati; namun yang bisa menggunakan kata meninggal hanyalah Ana seorang.
Kesinoniman mutlak dalam pembendaharaan bahasa Indonesia memang tidak ada. Oleh karena itu, kata-kata yang dapat dipertukarkan begitu saja pun jarang ada. Ketidakmungkinan kita dalam menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim memiliki banyak faktor, salah satunya adalah faktor nuansa makna.
Kata menyepak, menendang dan menerjang adalah kata-kata yang bersinonim. Namun kata menyepak maknanya lebih luas dan umum jika dibandingkan dengan menendang dan juga menerjang. Hal ini terbukti dengan jumlah makna menyepak dalam KBBI offline versi 1.3 yang beraneka ragam, yaitu (1) gerakan memukul sesuatu dengan kaki, dengan cara mengayunkan kaki (ke muka atau ke sisi); (2) memukul sesuatu dengan benda pipih; dan (3) depak, tertipu dengan perbuatan orang yang tidak jujur. Selain itu, biasanya kegiatan menyepak ini merupakan gerakan mengayunkan kaki namun tidak terarah (asal-asalan). Sedangkan kata menendang, lebih identik dengan kegiatan memukul sesuatu dengan kaki bagian sisi, dan arahnya jelas. Orang yang melakukan kegiatan menendang ini sudah tahu arah dan tujuan dari sesuatu yang akan ditendangnya. Sehingga bisa dikatakan bahwa menendang memiliki makna yang lebih sempit disbanding menyepak.  Lantas bagaimana dengan menerjang? Kata menerjang memiliki makna yang paling sempit. Kata  menerjang merupakan kegiatan memukul sesuatu dengan telapak kaki (kaki bagian bawah) dan diawali dengan lompatan terlebih dahulu. Biasanya dilakukan oleh orang yang sedang marah besar (kalap) dengan cara menyerang lawan. Selain itu, hal yang menjadi perbedaan penting antara menyepak, menendang dan menerjang yaitu terletak pada sasaran dalam menerjang. Jika menyepak dan menendang semua hal bisa dijadikan objek sasaran, sementara menerjang sasarannya hanyalah makhluk hidup seperti manusia dan hewan. Namun, dari ketiga kegiatan itu semuanya sama-sama dilakukan dengan kaki.
Selain menyepak, menendang dan menerjang, ada lagi kata yang bersinonim dan bisa dijelaskan dengan nuansa makna yaitu memukul, menampar dan menjentik. Kata memukul, menampar dan menjentik ini juga merupakan kata yang bersinonim, karena smua kegiatannya sama-sama dilakukan dengan menggunakan tangan. Memukul merupakan kegiatan mengetuk sesuatu menggunakan tangan ataupun benda dengan kekuatan, dan yang menjadi target memukul ini bisa mencakup semua hal. Jadi bisa juga dikatakan bahwa makna kata memukul lebih luas dan umum. Kata menampar hanya digunakan untuk memukul pipi dengan menggunakan telapak tangan ataupun menggunakan sarana lain, namun sasarannya tetap pada pipi. Kemudian kata menjentik hanya digunakan untuk kegiatan memukul dengan belakang ujung jari yang dibidaskan dengan jempol.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bidang sinonim ini, yaitu:
1.     Tidak semua kata dalam bahasa Indonesia bersinonim. Contoh beras dan batu.
2.    Ada kata-kata yang bersinonim pada bentuk dasar, tetapi tidak pada bentuk jadian. Contoh benar dan betul merupakan kata bersinonim, tatapi tidak pada kata kebenaran dan kebetulan.
3.    Ada kata-kata yang tidak memiliki sinonim pada bentuk dasar, tetapi memiliki sinonim pada bentuk dasar. Contoh pimpin tidak bersinonim, tetapi memimpin dan membimbing bersinonim.

4.    Ada kata denotasi tidak memiliki sinonim, tatapi pada kata konotasi justru memiliki sinonim. Contoh pada kata ­hitam.


DAFTAR PUSTAKA KOLEKSI PRIBADI :)