Dalam kegiatan berbahasa,
baik itu dalam bahasa asing maupun dalam bahasa Indonesia, seringkali kita
menemukan adanya kesamaan makna atau hubungan makna antara satu kata dengan
kata lainnya dalam suatu ujaran bahasa. Hubungan makna di sini memang benar
adanya, karena kejadian seperti itu erat kaitannya dengan salah satu bidang
kajian semantik, yaitu sinonim. Sebelum membahas lebih jauh mengenai kata yang
bersinonim, maka sebaiknya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu
sinonim.
1.
Pengertian
Sinomim
Secara
etimologi kata sinonim berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang
berarti ‘nama’, dan syn yang artinya ’dengan’. Jadi, secara harfiah kata
sinonim berarti ’nama lain untuk benda atau hal yang sama’ (Chaer,
2009:83). Kemudian Verhaar (dalam Chaer, 2009:83) secara semantik
mendefinisikan sebagai ungkapan, (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang
maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan yang lain. Seperti halnya kata
sepak dan tendang adalah
dua buah kata yang bersinonim; kata bunga, kembang, dan puspa merupakan
tiga kata yang bersinonim; kemudian kata mati, wafat, meninggal, dan mampus
adalah empat buah kata yang bersinonim.
Telah
disebutkan oleh Verhaar bahwa ”maknanya kurang lebih sama”, artinya dua buah
kata atau lebih yang bersinonim itu kesamaan maknanya tidaklah seratus persen
sama. Sifatnya hanya kurang lebih saja. Kesamaan tersebut tidak bersifat
mutlak. Hal ini dikarenakan adanya prinsip umum dari semantik itu sendiri yang
menyetakan bahwa apabila bentuk berbeda maka maknanya pun akan ikut berbeda,
walaupun perbedaan tersebut hanyalah sedikit. Demikian juga dengan kata-kata
yang bersinonim, karena bentuknya berbeda maka tidak menutup kemungkinan jika
makna kata tersebut tidaklah seratus persen persis sama.
2. Kata-kata Bersinonim Berdasarkan Nuansa Makna
Telah dijelaskan
sebelumnya bahwa makna dari kata yang bersinonim tidaklah seratus persen sama.
Maka akan timbul pertanyaan, jadi apanya yang sama? Jika berpegang pada teori
Verhaar dengan cara analisis komponen-komponen, maka adapun yang sama adalah
bagian dari unsur tertentu saja dari makna yang sama. Contohnya seperti pada
kata mati dan meninggal. Kata mati memiliki komponen makna
(1) tidak bernyawa dan (2) dapat dikenakan terhadap apa saja (manusia, hewan,
tumbuhan dan sebagainya). Sedangkan meninggal memiliki komponen makna
(1) tidak bernyawa dan (2) hanya dikenakan pada manusia. Jadi, jelas terlihat
bahwa kata mati dan meninggal hanya bersinonim pada makna (1)
tidak bernyawa. Karena itu jelas juga bahwa Ana, kucing, dan pohon mangga bisa
menggunakan kata mati; namun yang bisa menggunakan kata meninggal hanyalah
Ana seorang.
Kesinoniman
mutlak dalam pembendaharaan bahasa Indonesia memang tidak ada. Oleh karena itu,
kata-kata yang dapat dipertukarkan begitu saja pun jarang ada. Ketidakmungkinan
kita dalam menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim memiliki banyak
faktor, salah satunya adalah faktor nuansa makna.
Kata menyepak,
menendang dan menerjang adalah kata-kata yang bersinonim. Namun kata
menyepak maknanya lebih luas dan umum jika dibandingkan dengan menendang
dan juga menerjang. Hal ini terbukti dengan jumlah makna menyepak
dalam KBBI offline versi 1.3 yang beraneka ragam, yaitu (1) gerakan memukul sesuatu dengan kaki, dengan cara
mengayunkan kaki (ke muka atau ke sisi); (2) memukul
sesuatu dengan benda pipih; dan (3) depak, tertipu dengan perbuatan
orang yang tidak jujur. Selain itu, biasanya kegiatan menyepak ini
merupakan gerakan mengayunkan kaki namun tidak terarah (asal-asalan). Sedangkan
kata menendang, lebih identik dengan kegiatan memukul sesuatu dengan
kaki bagian sisi, dan arahnya jelas. Orang yang melakukan kegiatan menendang
ini sudah tahu arah dan tujuan dari sesuatu yang akan ditendangnya. Sehingga bisa
dikatakan bahwa menendang memiliki makna yang lebih sempit disbanding menyepak. Lantas bagaimana dengan menerjang? Kata
menerjang memiliki makna yang paling sempit. Kata menerjang merupakan kegiatan memukul
sesuatu dengan telapak kaki (kaki bagian bawah) dan diawali dengan lompatan
terlebih dahulu. Biasanya dilakukan oleh orang yang sedang marah besar (kalap)
dengan cara menyerang lawan. Selain itu, hal yang menjadi perbedaan penting
antara menyepak, menendang dan menerjang yaitu terletak
pada sasaran dalam menerjang. Jika menyepak dan menendang semua
hal bisa dijadikan objek sasaran, sementara menerjang sasarannya hanyalah
makhluk hidup seperti manusia dan hewan. Namun, dari ketiga kegiatan itu
semuanya sama-sama dilakukan dengan kaki.
Selain menyepak,
menendang dan menerjang, ada lagi kata yang bersinonim dan bisa
dijelaskan dengan nuansa makna yaitu memukul, menampar dan menjentik.
Kata memukul, menampar dan menjentik ini juga merupakan kata
yang bersinonim, karena smua kegiatannya sama-sama dilakukan dengan menggunakan
tangan. Memukul merupakan kegiatan mengetuk sesuatu menggunakan tangan
ataupun benda dengan kekuatan, dan yang menjadi target memukul ini bisa
mencakup semua hal. Jadi bisa juga dikatakan bahwa makna kata memukul lebih
luas dan umum. Kata menampar hanya digunakan untuk memukul pipi dengan
menggunakan telapak tangan ataupun menggunakan sarana lain, namun sasarannya
tetap pada pipi. Kemudian kata menjentik hanya digunakan untuk kegiatan memukul dengan belakang ujung jari yang dibidaskan dengan
jempol.
Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bidang sinonim ini, yaitu:
1.
Tidak semua kata dalam bahasa
Indonesia bersinonim. Contoh beras dan batu.
2.
Ada kata-kata yang bersinonim
pada bentuk dasar, tetapi tidak pada bentuk jadian. Contoh benar dan betul
merupakan kata bersinonim, tatapi tidak pada kata kebenaran dan kebetulan.
3.
Ada kata-kata yang tidak
memiliki sinonim pada bentuk dasar, tetapi memiliki sinonim pada bentuk dasar.
Contoh pimpin tidak bersinonim, tetapi memimpin dan membimbing
bersinonim.
4.
Ada kata denotasi tidak
memiliki sinonim, tatapi pada kata konotasi justru memiliki sinonim. Contoh
pada kata hitam.
DAFTAR PUSTAKA KOLEKSI PRIBADI :)