Selasa, 08 April 2014

Kata Bersinonim Berdasarkan Nuansa Makna

Dalam kegiatan berbahasa, baik itu dalam bahasa asing maupun dalam bahasa Indonesia, seringkali kita menemukan adanya kesamaan makna atau hubungan makna antara satu kata dengan kata lainnya dalam suatu ujaran bahasa. Hubungan makna di sini memang benar adanya, karena kejadian seperti itu erat kaitannya dengan salah satu bidang kajian semantik, yaitu sinonim. Sebelum membahas lebih jauh mengenai kata yang bersinonim, maka sebaiknya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu sinonim.

1.   Pengertian Sinomim
Secara etimologi kata sinonim berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nama’, dan syn yang artinya ’dengan’. Jadi, secara harfiah kata sinonim berarti ’nama lain untuk benda atau hal yang sama’ (Chaer, 2009:83). Kemudian Verhaar (dalam Chaer, 2009:83) secara semantik mendefinisikan sebagai ungkapan, (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan yang lain. Seperti halnya kata sepak dan tendang  adalah dua buah kata yang bersinonim; kata bunga, kembang, dan puspa merupakan tiga kata yang bersinonim; kemudian kata mati, wafat, meninggal, dan mampus adalah empat buah kata yang bersinonim.
Telah disebutkan oleh Verhaar bahwa ”maknanya kurang lebih sama”, artinya dua buah kata atau lebih yang bersinonim itu kesamaan maknanya tidaklah seratus persen sama. Sifatnya hanya kurang lebih saja. Kesamaan tersebut tidak bersifat mutlak. Hal ini dikarenakan adanya prinsip umum dari semantik itu sendiri yang menyetakan bahwa apabila bentuk berbeda maka maknanya pun akan ikut berbeda, walaupun perbedaan tersebut hanyalah sedikit. Demikian juga dengan kata-kata yang bersinonim, karena bentuknya berbeda maka tidak menutup kemungkinan jika makna kata tersebut tidaklah seratus persen persis sama.

2.  Kata-kata Bersinonim Berdasarkan Nuansa Makna
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa makna dari kata yang bersinonim tidaklah seratus persen sama. Maka akan timbul pertanyaan, jadi apanya yang sama? Jika berpegang pada teori Verhaar dengan cara analisis komponen-komponen, maka adapun yang sama adalah bagian dari unsur tertentu saja dari makna yang sama. Contohnya seperti pada kata mati dan meninggal. Kata mati memiliki komponen makna (1) tidak bernyawa dan (2) dapat dikenakan terhadap apa saja (manusia, hewan, tumbuhan dan sebagainya). Sedangkan meninggal memiliki komponen makna (1) tidak bernyawa dan (2) hanya dikenakan pada manusia. Jadi, jelas terlihat bahwa kata mati dan meninggal hanya bersinonim pada makna (1) tidak bernyawa. Karena itu jelas juga bahwa Ana, kucing, dan pohon mangga bisa menggunakan kata mati; namun yang bisa menggunakan kata meninggal hanyalah Ana seorang.
Kesinoniman mutlak dalam pembendaharaan bahasa Indonesia memang tidak ada. Oleh karena itu, kata-kata yang dapat dipertukarkan begitu saja pun jarang ada. Ketidakmungkinan kita dalam menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim memiliki banyak faktor, salah satunya adalah faktor nuansa makna.
Kata menyepak, menendang dan menerjang adalah kata-kata yang bersinonim. Namun kata menyepak maknanya lebih luas dan umum jika dibandingkan dengan menendang dan juga menerjang. Hal ini terbukti dengan jumlah makna menyepak dalam KBBI offline versi 1.3 yang beraneka ragam, yaitu (1) gerakan memukul sesuatu dengan kaki, dengan cara mengayunkan kaki (ke muka atau ke sisi); (2) memukul sesuatu dengan benda pipih; dan (3) depak, tertipu dengan perbuatan orang yang tidak jujur. Selain itu, biasanya kegiatan menyepak ini merupakan gerakan mengayunkan kaki namun tidak terarah (asal-asalan). Sedangkan kata menendang, lebih identik dengan kegiatan memukul sesuatu dengan kaki bagian sisi, dan arahnya jelas. Orang yang melakukan kegiatan menendang ini sudah tahu arah dan tujuan dari sesuatu yang akan ditendangnya. Sehingga bisa dikatakan bahwa menendang memiliki makna yang lebih sempit disbanding menyepak.  Lantas bagaimana dengan menerjang? Kata menerjang memiliki makna yang paling sempit. Kata  menerjang merupakan kegiatan memukul sesuatu dengan telapak kaki (kaki bagian bawah) dan diawali dengan lompatan terlebih dahulu. Biasanya dilakukan oleh orang yang sedang marah besar (kalap) dengan cara menyerang lawan. Selain itu, hal yang menjadi perbedaan penting antara menyepak, menendang dan menerjang yaitu terletak pada sasaran dalam menerjang. Jika menyepak dan menendang semua hal bisa dijadikan objek sasaran, sementara menerjang sasarannya hanyalah makhluk hidup seperti manusia dan hewan. Namun, dari ketiga kegiatan itu semuanya sama-sama dilakukan dengan kaki.
Selain menyepak, menendang dan menerjang, ada lagi kata yang bersinonim dan bisa dijelaskan dengan nuansa makna yaitu memukul, menampar dan menjentik. Kata memukul, menampar dan menjentik ini juga merupakan kata yang bersinonim, karena smua kegiatannya sama-sama dilakukan dengan menggunakan tangan. Memukul merupakan kegiatan mengetuk sesuatu menggunakan tangan ataupun benda dengan kekuatan, dan yang menjadi target memukul ini bisa mencakup semua hal. Jadi bisa juga dikatakan bahwa makna kata memukul lebih luas dan umum. Kata menampar hanya digunakan untuk memukul pipi dengan menggunakan telapak tangan ataupun menggunakan sarana lain, namun sasarannya tetap pada pipi. Kemudian kata menjentik hanya digunakan untuk kegiatan memukul dengan belakang ujung jari yang dibidaskan dengan jempol.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bidang sinonim ini, yaitu:
1.     Tidak semua kata dalam bahasa Indonesia bersinonim. Contoh beras dan batu.
2.    Ada kata-kata yang bersinonim pada bentuk dasar, tetapi tidak pada bentuk jadian. Contoh benar dan betul merupakan kata bersinonim, tatapi tidak pada kata kebenaran dan kebetulan.
3.    Ada kata-kata yang tidak memiliki sinonim pada bentuk dasar, tetapi memiliki sinonim pada bentuk dasar. Contoh pimpin tidak bersinonim, tetapi memimpin dan membimbing bersinonim.

4.    Ada kata denotasi tidak memiliki sinonim, tatapi pada kata konotasi justru memiliki sinonim. Contoh pada kata ­hitam.


DAFTAR PUSTAKA KOLEKSI PRIBADI :)