Minggu, 25 November 2012

Fabel


Karena Duri Landi

Di sebuah desa hewan yang bernama desa Guli-guli, hiduplah seekor landak bertubuh kerdil yang bernama Landi. Landi selalu sendirian, tidak ada hewan yang mau berteman dengannya. Hewan lainnya merasa risih bila berada didekatnya, karena Landi memiliki duri-duri yang tajam di tubuhnya. Selain itu, mereka juga suka mengolok-olok badannya yang kerdil itu. Landi merasa sedih. Setiap hari ia selalu mengurung diri di rumahnya. Hanya pada saat lapar saja ia keluar dari rumahnya untuk mencari makan.
Suatu hari, Landi tengah asik merapikan taman di halaman rumahnya. Tiba-tiba datang seekor burung beo berbulu indah menghampirinya. Beo tersebut bernama Tio. Dengan santainya ia bertengger di pagar rumah  Landi, kemudian ia pun menyapa Landi.
“Hai kawan, namamu siapa? Kulihat engkau selalu mengurung diri dirumahmu yang mungil ini, sehingga aku belum sempat berkenalan denganmu.” Sapa Tio pada Landi.
Landi terdiam sejenak dan menghentikan aktifitasnya. Dipandanginya burung itu dengan was-was. Jangan-jangan burung ini juga akan mengolok-olokku, pikir Landi.
“Hei, mengapa kau diam saja, kau belum menjawab pertanyaanku.  Aku Tio tetangga barumu. Rumahku ada di dekat pohon besar itu.” Ujar Tio menambahkan, sembari menunjuk kesebuah pohon besar yang tidak jauh dari rumah Landi.
“Emmm namaku Landi, senang berkenalan denganmu.” Jawab Landi ragu-ragu, lalu dia melanjutkan aktivitasnya merapikan tanaman di halaman rumahnya itu.
“Sepertinya kau takut kepadaku, kenapa?” Tanya Tio ingin tahu. Landi memandang datar pada Tio “kamu adalah hewan pertama yang mau menyapaku. Penduduk disini merasa risih dengan duri-duri di tubuhku ini, sehingga mereka tidak mau berteman denganku.” Landi menjelaskan.
“Benarkah?”
“Untuk apa aku berbohong, kau lihat sendiri, sedari tadi tak ada hewan yang menyapaku selain dirimu.” Tutur Landi dengan sedih.
Tio melihat kesekeliling. Benar juga, sejak tadi mereka lewat, tak ada yang mau menyapanya. Kasihan sekali Landi, pasti dia sangat kesepian, pikir Tio.
“Hei jangan bersedih, masih ada aku yang mau berteman denganmu.” Hibur Tio. Landi terbelalak tak percaya, ”Benarkah?”
“Tentu saja, apakah raut wajahku seperti berbohong?” Ujar Tio dengan wajah dikerut-kerutkan. Landi pun tertawa melihat ekspresi muka Tio.
“Baiklah, aku percaya. Hei, maukah kau menemaniku minum teh dan makan kue tar di dalam rumah? Aku baru saja membuat tar apel tadi pagi, mungkin kau suka.” Ajak Landi pada Tio.
“Wah, aku tidak bisa menolak. Kebetulan sekali, aku sangat suka kue tar.” Jawab Tio dengan semangat.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah Landi yang mungil itu. Mereka pun cepat akrab, Tio sangat baik dan ramah. Sehingga membuat Landi suka bercerita dengannya. Tak terasa hari telah sore. Tio pun berpamitan pulang.
“Sering-sering saja main ke rumahku, pintu ini selalu terbuka untukmu kawan.” Ujar Landi sebelum Tio pulang. “Oh tentu, terima kasih teh dan kue tarnya. Sangat enak dan aku suka. Kamu harus membuka toko kue lain waktu hahaha.” Jawab Tio.
Keesokan harinya, Tio datang kembali kerumah Landi. Dia membawa segulung kertas di paruhnya. Dia mendapati rumah Tio yang masih sunyi. Wah jangan-jangan dia masih tidur lagi, pikirnya. Kemudian Tio pun mengetuk-ngetuk pintu rumah Landi. Tak lama kemudian, kepala Landi pun nongol dari balik pintu. Ia masih terlihat sangat ngantuk.
“Hei Landi, bangunlah, aku membawa kabar gembira untukmu.”
“Hah, apa itu?” Landi merasa penasaran dengan kertas yang dibawa oleh Tio. “Bolehkah aku masuk?” Tanya Tio sebelum memberitahu.
“Haha kau ini, tentu saja boleh.”
Kemudian merekapun masuk kedalam rumah Landi. “Nah, sekarang tunjukkan padaku. Apa kabar gembira yang kau bawa untukku pagi ini?” Tanya Landi tak sabar. 
“Lihat ini, penduduk desa akan mengadakan pesta nanti malam. Semua warga diundang untuk hadir. Pasti akan banyak makanan disana. Kau maukan menemaniku ke pesta itu nanti malam?” Tanya Tio pada Landi.
Landi terdiam
“Hei, kenapa kau ini? Kenapa kau diam?”
“Aku tidak mau pergi.” Jawab Landi.
“Hah, kenapa?” Tio terkejut mendengar jawaban Landi.
“Kaukan sudah tahu, penduduk membenciku. Aku tidak mau menjadi bahan tertawaan mereka di sana.” Jawab Landi lagi.
“Hei, itukan hanya pemikiranmu saja. Ayolah kawan, kapan kau mau berkumpul dengan teman-teman yang lain. Kau akan selalu berpikiran begitu jika kau selalu saja mengurung diri di rumah dan menganggap semua hewan membencimu. Tidak semua hewan itu jahat Landi. Buktinya, aku mau berteman denganmu.” Ujar Tio.
Landi terdiam lagi, ia merenungkan kata-kata Tio barusan. Benar juga, apa salahnya mencoba. Mungkin kali ini aku akan beruntung, gumamnya.
“Baiklah, aku akan pergi ke pesta itu nanti malam.” Jawab Landi dengan Yakin. “Naah, gitu dong. Baiklah, akan ku jemput kau nanti malam.” Kata Tio, lalu Tio pun pulang kerumahnya.
Malam pun tiba. Tio dan Landi pergi ke tempat pesta. Dari kejauhan, semarak pesta telah tampak. Banyak lampion-lampion, lampu hias dan lain sebagainya menghiasi pesta itu.
“Waaaaw.” Serempak Tio dan Landi mengungkapkan kekaguman mereka pada gemerlap pesta itu. Ketika mereka tengah asik menikmati pesta, tiba-tiba ada sekelompok hewan menegur mereka. Mereka tak lain adalah Lili si kelinci, Mumut si Marmut, dan Tutu si Tupai. Mereka adalah hewan tersombong di Desa Guli-guli. Hal ini karena mereka memiliki tubuh yang sangat indah dan lucu.
“Hei Tio, kenapa engkau membawa Landak jelek itu bersamamu?” Tanya Tutu dengan kasar.
“Apa maksudmu?” Sahut Tio.
“Huh, jangan kau berpura-pura Tio. Dirimu tidak sebanding dengan hewan jelek itu. Tidakkah engkau takut bulumu yang indah itu akan rusak tergores oleh duri-duri tajam di tubuh landak kerdil itu?” Ujar Lili sembari melirik dengan tatapan mencemooh pada Landi.
“Ya, benar. Duri-duri dari tubuh kerdil itu juga bisa melukaimu. Sebaiknya engkau jauh-jauh darinya.” Mumut menambahkan.
“hei, apa maksud kalian? Landi itu hewan yang baik dan dia itu sahabatku. Tak sepatutnya kalian berkata begitu. Lekas, minta maaflah padanya.” Tio berkata dengan lantang sehingga menarik perhatian hewan yang lainnya. Merekapun berdatangan melihat kejadian itu. Tetapi, apa yang diperbuat oleh Tio hanya memperburuk keadaan. Hewan-hewan yang lain juga ikut-ikutan mengolok-olok Landi. Landi tak tahan lagi, dengan bercucuran air mata, Landi punlari meninggalkan pesta itu. Tio pun mengejarnya, sementara hewan lain semakin riuh menertawakan mereka.
“Landi tunggu, maafkan aku. Aku tak menyangka akan terjadi seperti ini. Sungguh, berhentilah, ku mohon.” Panggil Tio dengan nada menyesal.
Landi pun menghentikan larinya.
“bukan salahmu Tio. Ini salahku, seharusnya aku sadar aku tidak pantas berada di pesta itu.” Ujar Landi. “tidak Landi, itu tidak benar. Hanya hewan-hewan bodohlah yang berpikiran seperti itu.” Hibur Tio lagi.
Tiba-tiba dari arah pesta terdengar suara rebut-ribut dan banyak hewan yang berhamburan keluar sembari berteriak minta tolong. Landi dan Tio terkeju.
“Apa yang terjadi disana?” Tanya mereka serempak.
“Ada srigala lapar mengacaukan pesta.” Jawab seekor berang-berang dengan nafas terengah-engah.
Mendengar hal itu, Landi segera berlari menuju tempat pesta. Tio terkejut. “Hei Landi, apa yang kau lakukan? Landi, tunggu!” teriak Tio. Namun terlambat, Landi telah masuk ke tempat pesta dan menemui srigala lapar itu.
“Hei Srigala jelek, tidak malukah engkau? Kau hanya bisa menyusahkan hewan-hewan kecil saja. Lekas kau pergi dari tempat ini!” Landi berteriak.
“Heh Landak, berani sekali engkau. Tidak takut kah engkau padaku?” Tanya Srigala.
“huh, untuk apa aku takut? Ayo tangkap aku kalau kau berani.” Tantang Landi lagi.
Hewan-hewan yang lain terkejut mendengar ucapan Landi, hingga merekapun menghentikan aksi kabur mereka.
“hahaha…lihat saja, aku pasti akan menangkapmu.” Jawab Srigala dengan angkuh.
Kemudian Srigala itupun bersiap untuk menangkap Landi. Srigala bodoh itu tidak tahu jika Landi telah mempersiapkan duri-durinya yang tajam serta bisa yang terdapat di durinya. Ketika tangan sang Srigala menyentuh tubuh Landi, Srigala itu menjerit kesakitan. Namun terlambat, racun dari duri Landi telah mengena di tangannya. Srigala itupun ketakutan dan segera menyelamatkan diri. Sementara Landi tersenyum puas melihat srigala yang lari tunggang langgang itu.
“Plok, plok, plok, plok, plok………” tiba-tiba terdengar suara riuh sorak sorai dan tepuk tangan. Ternyata, semua hewan disitu telah menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Kemudian, tanpa dikomando, mereka semua menyalami dan memeluk Landi. Mereka seolah-olah lupa akan tubuh Landi yang berduri itu. Landi terbelalak tak percaya.
“Terimakasih Landi, berkat engkau, srigala itu pergi dari sini. Maafkan kelakuan kami tadi ya, kami menyesal, sungguh. Maukah engkau memaafkan kami?” Tanya Lili.
“Tentu saja aku mau.” Jawab Landi dengan tulus.
Mereka pun bersorak gembira. Pestapun dilanjutkan dan berjalan meriah hingga akhir. Sejak saat itu, Landi menjadi terkenal dan mempunyai banyak teman. Namun hal itu tidak membuatnya sombong dan lupa diri. Landi sekarang tetaplah Landi yang dulu. Landi kini menyadari, duri ditubuhnya bukanlah suatu kesialan, melainkan anugrah yang diberikan oleh tuhan untuknya, oleh karena itu ia sangat bersyukur. Tio semakin bangga dengan Landi sahabatnya itu.
Fisik bukanlah segala-galanya. Fisik yang sempurna akan ternoda jika diiringi dengan sifat yang cela. Syukurilah apa yang ada dan yakinlah dibalik semua kekurangan yang ada, Tuhan selalu membekali makhluknya suatu kelebihan.

A. M.