Sabtu, 20 Oktober 2012

Linguistik Sinkronik dan Diakronik

A.Pengertian Linguistik Sinkronik
Beberapa ahli mengemukakan masing-masing pendapatnya mengenai pengertian linguistik sinkronik dalam beberapa buah buku. Diantaranya, Abdul Chaer di dalam buku Linguistik Umum (2003), Mansoer Pateda dalam bukunya Linguistik, Sebuah Pengantar (1988) dan J.W.M Verhaar dalam bukunya Pengantar Linguistik (1984).
Menurut Chaer (2003 : 14) Linguistik Sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas.  Studi Linguistik Sinkronik ini bisa juga disebut sebagai linguistik deskriptif, karena berupaya mendeskripsikan bahasa secara apa adanya pada masa tertentu.
Menurut Pateda (1988 : 48) Istilah sinkronik dan diakronik dipopulerkan oleh Ferdinand de Saussure. Linguistik sinkronik mempersoalkan bahasa pada masa tertentu. Bersifat mendatar, horisontal.
Menurut Verhaar (1984 : 6-7) Linguistik sinkronik (dari Yunani syn ‘dengan’,’bersama’ dan khronos ‘waktu’) berlainan bidangnya dari linguistik diakronis. Dalam linguistik sinkronik, setiap bahasa yang dianaliasa tanpa memperhatikan perkembangan yang terjadi pada masa lampau. Yang tampak dalam analisis sinkronis ialah  apa yang lazim disebut struktur ( yang dalam buku ini disebut sistematik), misalnya hubungan antara imbuhan dan dasar, hubungan antar-bunyi, hubungan antar-bagian kalimat, dan lain sebagainya.
Dari berbagai pendapat yang telah dikemukakan oleh para ahli di atas mengenai linguistik sinkronik, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa linguistik sinkronik adalah suatu studi yang menganalisis suatu bahasa pada masa tertentu dan kajiannya lebih difokuskan kepada struktur bahasanya bukan perkembangannya.
1. Ciri-Ciri Linguistik Sinkronik
Ciri-ciri dari linguistik sinkronik secara garis besar ada tiga, yaitu sebagai berikut :
1.      Dari segi waktu, linguistik sinkronik menelaah bahasa pada waktu tertentu, dikhususkan dan terbatas.
2.      Bersifat deskriptif, adanya penggambaran bahasa apa adanya pada masa tertentu.
3.      Bersifat horisontal dan mendatar, karena tidak ada perbandingan bahasa dari masa ke masa.

2. Contoh Linguistik Sinkronik
Adapun contoh dari linguistik sinkronik beberapa diantaranya adalah
sebagai berikut :
1.      Penelaahan bahasa Sunda pada masa kerajaan hindu-budha.
2.      Mengkaji penggunaan bahasa Melayu pada masa penjajahan.
3.      Menyelidiki bahasa Indonesia pasca sumpah pemuda.
4.      Mengkaji bahasa Indonesia prakemerdekaan.
5.      Menyelidiki bahasa Jawa pada masa penjajahan Belanda.

 B. Linguistik Diakronik

1. Pengertian Linguistik Diakronik
Sama halnya dengan pengertian linguistik sinkronik, pada linguistik diakronik, penulis juga mengambil beberapa pengertian menurut para ahli. Beberapa ahli mengemukakan masing-masing pendapatnya mengenai pengertian linguistik diakronik dalam beberapa buah buku. Abdul Chaer di dalam buku Linguistik Umum (2003), Mansoer Pateda dalam bukunya Linguistik, Sebuah Pengantar (1988) dan J.W.M Verhaar dalam bukunya Pengantar Linguistik (1984).
Menurut Chaer (2003 : 14) Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa (atau bahasa-bahasa) pada masa yang tidak terbatas; bisa sejak awal kelahiran bahsa itu sampai zaman punahnya bahasa tersebut (kalau bahasa tersebut sudah punah, seperti bahasa Latin dan bahasa Sansekerta), atau sampai zaman sekarang (kalau bahasa itu masih tetap hidup, seperti bahasa Jawa dan bahasa Arab). Kajiannya bersifat historis dan komparatif.
Menurut Verhaar (1984 : 6-7) Linguistik diakronik (dari Yunani dia ‘melalui’ dan khronos ‘waktu’,’masa’) adalah penyelidikan tentang perkembangan suatu bahasa.
Menurut Pateda (1988 : 48) Linguistik diakronik ingin mempersoalkan, menguraikan, atau menyelidiki perkembangan bahasa dari masa ke masa. Linguistic diakronik dapat juga disamakan dengan lenguistik historis. Jadi, sifatnya adalah vertikal.
Dari uraian para ahli di atas tentang pengertisn linguistik diakronik, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa, linguistik diakronik merupakan suatu studi yang menelaah atau mengkaji tentang perkembangan bahasa dari masa ke masa, artinya waktu yang digunakan tidak ada batasan, sehinggga sifatnya menjadi historis dan vertikal.
2. Ciri-ciri Linguistik Diakronik
Adapun ciri-ciri dari linguistik diakronik adalah sebagai berikut :
1.      Linguistik diakronik menelaah bahasa tanpa ada batasan waktu.
2.      Bersifat vertikal, karena melakukan perbandingan bahasa dari masa ke masa.
3.      Bersifat historis dan komparatif.
4.      Perkembangan dan perubahan struktural bahasa dapat diketahui secara jelas.

3 Contoh Linguistik Diakronik
Beberapa contoh linguistik diakronik diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Perkembangan bahasa melayu pada awal adanya hingga sekarang.
2.      Perkembangan bahasa sansekerta dari awal kemunculannya hingga kepunahannnya.
3.      Perkembangan bahasa Indonesia, dari awal di bentuk hingga sekarang.
C.  Kesimpulan
            Dari beberapa penjelasan di atas menganai linguistik sinkronik dan diakronik, dapat disimpulkan bahwasannya antara linguistik sinkronik dan diakronik itu berbeda. Dimana, linguistik sinkronik dalam mengkajidan menyelidiki bahasa hanya pada satu masa saja, misalnya kita menyelidiki bahasa Sunda pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Sedangkan linguistik diakronik, menyelidiki dan menganalisis perkembangan bahasa dari masa ke masa. Misalnya, bagaimana perkembangan bahasa Sunda dari mula adanya hingga sekarang.
            Namun dibalik perbedaannya, antara linguistik sinkronik dan diakronik itu juga memiliki satu kesamaan yaitu, keduanya sama-sama mengkaji bahasa. Artinya, objek yang menjadi kajian dari linguistik sinkronik dan diakronik itu adalah bahasa. Bahasa di sini tidak hanya terpatok pada satu bahasa saja. kita bebas untuk menentukan sendiri bahasa apa yang akan ditelaah atau diselidiki perkembangannya. 

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Pateda, Mansoer. 1988. Linguistik ( sebuah pengantar). Bandung : Angkasa.
Verhaar. 1984. Pengantar Linguistik. Yogyakarta : Gadjah Mada University      Press.