Karena Duri Landi
Di sebuah desa hewan yang bernama desa
Guli-guli, hiduplah seekor landak bertubuh kerdil yang bernama Landi. Landi
selalu sendirian, tidak ada hewan yang mau berteman dengannya. Hewan lainnya
merasa risih bila berada didekatnya, karena Landi memiliki duri-duri yang tajam
di tubuhnya. Selain itu, mereka juga suka mengolok-olok badannya yang kerdil
itu. Landi merasa sedih. Setiap hari ia selalu mengurung diri di rumahnya.
Hanya pada saat lapar saja ia keluar dari rumahnya untuk mencari makan.
Suatu hari, Landi tengah asik merapikan taman di
halaman rumahnya. Tiba-tiba datang seekor burung beo berbulu indah
menghampirinya. Beo tersebut bernama Tio. Dengan santainya ia bertengger di
pagar rumah Landi, kemudian ia pun
menyapa Landi.
“Hai kawan, namamu siapa? Kulihat engkau selalu
mengurung diri dirumahmu yang mungil ini, sehingga aku belum sempat berkenalan
denganmu.” Sapa Tio pada Landi.
Landi terdiam sejenak dan menghentikan
aktifitasnya. Dipandanginya burung itu dengan was-was. Jangan-jangan burung ini
juga akan mengolok-olokku, pikir Landi.
“Hei, mengapa kau diam saja, kau belum menjawab
pertanyaanku. Aku Tio tetangga barumu.
Rumahku ada di dekat pohon besar itu.” Ujar Tio menambahkan, sembari menunjuk
kesebuah pohon besar yang tidak jauh dari rumah Landi.
“Emmm namaku Landi, senang berkenalan denganmu.”
Jawab Landi ragu-ragu, lalu dia melanjutkan aktivitasnya merapikan tanaman di
halaman rumahnya itu.
“Sepertinya kau takut kepadaku, kenapa?” Tanya
Tio ingin tahu. Landi memandang datar pada Tio “kamu adalah hewan pertama yang
mau menyapaku. Penduduk disini merasa risih dengan duri-duri di tubuhku ini,
sehingga mereka tidak mau berteman denganku.” Landi menjelaskan.
“Benarkah?”
“Untuk apa aku berbohong, kau lihat sendiri, sedari
tadi tak ada hewan yang menyapaku selain dirimu.” Tutur Landi dengan sedih.
Tio melihat kesekeliling. Benar juga, sejak tadi mereka lewat, tak ada yang mau menyapanya.
Kasihan sekali Landi, pasti dia sangat kesepian, pikir Tio.
“Hei jangan bersedih, masih ada aku yang mau
berteman denganmu.” Hibur Tio. Landi terbelalak tak percaya, ”Benarkah?”
“Tentu saja, apakah raut wajahku seperti
berbohong?” Ujar Tio dengan wajah dikerut-kerutkan. Landi pun tertawa melihat
ekspresi muka Tio.
“Baiklah, aku percaya. Hei, maukah kau
menemaniku minum teh dan makan kue tar di dalam rumah? Aku baru saja membuat
tar apel tadi pagi, mungkin kau suka.” Ajak Landi pada Tio.
“Wah, aku tidak bisa menolak. Kebetulan sekali,
aku sangat suka kue tar.” Jawab Tio dengan semangat.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah Landi
yang mungil itu. Mereka pun cepat akrab, Tio sangat baik dan ramah. Sehingga
membuat Landi suka bercerita dengannya. Tak terasa hari telah sore. Tio pun
berpamitan pulang.
“Sering-sering saja main ke rumahku, pintu ini
selalu terbuka untukmu kawan.” Ujar Landi sebelum Tio pulang. “Oh tentu, terima
kasih teh dan kue tarnya. Sangat enak dan aku suka. Kamu harus membuka toko kue
lain waktu hahaha.” Jawab Tio.
Keesokan harinya, Tio datang kembali kerumah
Landi. Dia membawa segulung kertas di paruhnya. Dia mendapati rumah Tio yang
masih sunyi. Wah jangan-jangan dia masih
tidur lagi, pikirnya. Kemudian Tio pun mengetuk-ngetuk pintu rumah Landi.
Tak lama kemudian, kepala Landi pun nongol dari balik pintu. Ia masih terlihat
sangat ngantuk.
“Hei Landi, bangunlah, aku membawa kabar gembira
untukmu.”
“Hah, apa itu?” Landi merasa penasaran dengan
kertas yang dibawa oleh Tio. “Bolehkah aku masuk?” Tanya Tio sebelum
memberitahu.
“Haha kau ini, tentu saja boleh.”
Kemudian merekapun masuk kedalam rumah Landi. “Nah,
sekarang tunjukkan padaku. Apa kabar gembira yang kau bawa untukku pagi ini?”
Tanya Landi tak sabar.
“Lihat ini, penduduk desa akan mengadakan pesta
nanti malam. Semua warga diundang untuk hadir. Pasti akan banyak makanan
disana. Kau maukan menemaniku ke pesta itu nanti malam?” Tanya Tio pada Landi.
Landi terdiam
“Hei, kenapa kau ini? Kenapa kau diam?”
“Aku tidak mau pergi.” Jawab Landi.
“Hah, kenapa?” Tio terkejut mendengar jawaban
Landi.
“Kaukan sudah tahu, penduduk membenciku. Aku
tidak mau menjadi bahan tertawaan mereka di sana.” Jawab Landi lagi.
“Hei, itukan hanya pemikiranmu saja. Ayolah
kawan, kapan kau mau berkumpul dengan teman-teman yang lain. Kau akan selalu
berpikiran begitu jika kau selalu saja mengurung diri di rumah dan menganggap
semua hewan membencimu. Tidak semua hewan itu jahat Landi. Buktinya, aku mau
berteman denganmu.” Ujar Tio.
Landi terdiam lagi, ia merenungkan kata-kata Tio
barusan. Benar juga, apa salahnya
mencoba. Mungkin kali ini aku akan beruntung, gumamnya.
“Baiklah, aku akan pergi ke pesta itu nanti
malam.” Jawab Landi dengan Yakin. “Naah, gitu dong. Baiklah, akan ku jemput kau
nanti malam.” Kata Tio, lalu Tio pun pulang kerumahnya.
Malam pun tiba. Tio dan Landi pergi ke tempat
pesta. Dari kejauhan, semarak pesta telah tampak. Banyak lampion-lampion, lampu
hias dan lain sebagainya menghiasi pesta itu.
“Waaaaw.” Serempak Tio dan Landi mengungkapkan
kekaguman mereka pada gemerlap pesta itu. Ketika mereka tengah asik menikmati
pesta, tiba-tiba ada sekelompok hewan menegur mereka. Mereka tak lain adalah
Lili si kelinci, Mumut si Marmut, dan Tutu si Tupai. Mereka adalah hewan
tersombong di Desa Guli-guli. Hal ini karena mereka memiliki tubuh yang sangat
indah dan lucu.
“Hei Tio, kenapa engkau membawa Landak jelek itu
bersamamu?” Tanya Tutu dengan kasar.
“Apa maksudmu?” Sahut Tio.
“Huh, jangan kau berpura-pura Tio. Dirimu tidak
sebanding dengan hewan jelek itu. Tidakkah engkau takut bulumu yang indah itu
akan rusak tergores oleh duri-duri tajam di tubuh landak kerdil itu?” Ujar Lili
sembari melirik dengan tatapan mencemooh pada Landi.
“Ya, benar. Duri-duri dari tubuh kerdil itu juga
bisa melukaimu. Sebaiknya engkau jauh-jauh darinya.” Mumut menambahkan.
“hei, apa maksud kalian? Landi itu hewan yang
baik dan dia itu sahabatku. Tak sepatutnya kalian berkata begitu. Lekas, minta
maaflah padanya.” Tio berkata dengan lantang sehingga menarik perhatian hewan
yang lainnya. Merekapun berdatangan melihat kejadian itu. Tetapi, apa yang
diperbuat oleh Tio hanya memperburuk keadaan. Hewan-hewan yang lain juga
ikut-ikutan mengolok-olok Landi. Landi tak tahan lagi, dengan bercucuran air
mata, Landi punlari meninggalkan pesta itu. Tio pun mengejarnya, sementara
hewan lain semakin riuh menertawakan mereka.
“Landi tunggu, maafkan aku. Aku tak menyangka
akan terjadi seperti ini. Sungguh, berhentilah, ku mohon.” Panggil Tio dengan
nada menyesal.
Landi pun menghentikan larinya.
“bukan salahmu Tio. Ini salahku, seharusnya aku
sadar aku tidak pantas berada di pesta itu.” Ujar Landi. “tidak Landi, itu
tidak benar. Hanya hewan-hewan bodohlah yang berpikiran seperti itu.” Hibur Tio
lagi.
Tiba-tiba dari arah pesta terdengar suara
rebut-ribut dan banyak hewan yang berhamburan keluar sembari berteriak minta
tolong. Landi dan Tio terkeju.
“Apa yang terjadi disana?” Tanya mereka
serempak.
“Ada srigala lapar mengacaukan pesta.” Jawab
seekor berang-berang dengan nafas terengah-engah.
Mendengar hal itu, Landi segera berlari menuju
tempat pesta. Tio terkejut. “Hei Landi, apa yang kau lakukan? Landi, tunggu!”
teriak Tio. Namun terlambat, Landi telah masuk ke tempat pesta dan menemui
srigala lapar itu.
“Hei Srigala jelek, tidak malukah engkau? Kau
hanya bisa menyusahkan hewan-hewan kecil saja. Lekas kau pergi dari tempat
ini!” Landi berteriak.
“Heh Landak, berani sekali engkau. Tidak takut
kah engkau padaku?” Tanya Srigala.
“huh, untuk apa aku takut? Ayo tangkap aku kalau
kau berani.” Tantang Landi lagi.
Hewan-hewan yang lain terkejut mendengar ucapan
Landi, hingga merekapun menghentikan aksi kabur mereka.
“hahaha…lihat saja, aku pasti akan menangkapmu.”
Jawab Srigala dengan angkuh.
Kemudian Srigala itupun bersiap untuk menangkap
Landi. Srigala bodoh itu tidak tahu jika Landi telah mempersiapkan duri-durinya
yang tajam serta bisa yang terdapat di durinya. Ketika tangan sang Srigala
menyentuh tubuh Landi, Srigala itu menjerit kesakitan. Namun terlambat, racun
dari duri Landi telah mengena di tangannya. Srigala itupun ketakutan dan segera
menyelamatkan diri. Sementara Landi tersenyum puas melihat srigala yang lari
tunggang langgang itu.
“Plok, plok, plok, plok, plok………” tiba-tiba
terdengar suara riuh sorak sorai dan tepuk tangan. Ternyata, semua hewan disitu
telah menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Kemudian, tanpa dikomando, mereka
semua menyalami dan memeluk Landi. Mereka seolah-olah lupa akan tubuh Landi
yang berduri itu. Landi terbelalak tak percaya.
“Terimakasih Landi, berkat engkau, srigala itu pergi
dari sini. Maafkan kelakuan kami tadi ya, kami menyesal, sungguh. Maukah engkau
memaafkan kami?” Tanya Lili.
“Tentu saja aku mau.” Jawab Landi dengan tulus.
Mereka pun bersorak gembira. Pestapun dilanjutkan
dan berjalan meriah hingga akhir. Sejak saat itu, Landi menjadi terkenal dan
mempunyai banyak teman. Namun hal itu tidak membuatnya sombong dan lupa diri.
Landi sekarang tetaplah Landi yang dulu. Landi kini menyadari, duri ditubuhnya
bukanlah suatu kesialan, melainkan anugrah yang diberikan oleh tuhan untuknya,
oleh karena itu ia sangat bersyukur. Tio semakin bangga dengan Landi sahabatnya
itu.
Fisik bukanlah
segala-galanya. Fisik yang sempurna akan ternoda jika diiringi dengan sifat
yang cela. Syukurilah apa yang ada dan yakinlah dibalik semua kekurangan yang
ada, Tuhan selalu membekali makhluknya suatu kelebihan.A. M.